TAHUN 2025 telah usai, tapi Semarang tampaknya masih sibuk menulis ulang definisi kata “tantangan.”
Di mana pun kamu melangkah, ada cerita untuk dibagi, entah itu omelan di warung kopi, cuitan pedas warganet, atau diskusi serius di grup keluarga WhatsApp malam-malam.
Kota ini punya cara unik membuat setiap penduduknya ahli dalam dua hal, bertahan dan sabar.
Pertama, tentu saja banjir.
Musim hujan akhir tahun 2025 seperti tamu yang tidak pernah tahu kapan harus pulang. Jalan Kaligawe, yang seharusnya jadi jalur cepat antar-kabupaten, sering berubah menjadi rintangan yang membuat pengendara memeragakan tarian zig-zag demi mencari jalan kering.
Bahkan, sepanjang Jalan Pantura sempat dilaporkan genangan menyebabkan kemacetan panjang beberapa kilometer pada Oktober 2025 lalu, memaksa motor dan mobil berjalan pelan seperti parade yang tak diundang.
Banjir di kota ini bukan sekadar percikan di trotoar; pada titik-titik tertentu, genangan air pernah mencapai puluhan sentimeter dan membuat kendaraan kecil berhenti total, sementara sopir truk besar cuma tersenyum sinis melihat mobil-mobil kecil dan motor bergulat demi terus maju.
Lalu ada macet, kolega setia banjir. Di beberapa titik arteri utama seperti Jalan Yos Sudarso dan kawasan Kaligawe, kemacetan selama puncak banjir bisa mencapai beberapa kilometer, konon panjangnya mirip antrean warung makan malam Minggu di pusat kota.
Pekerja pabrik yang berharap tiba di rumah sebelum senja sering kali mendapati diri mereka berlama-lama di atas motor, sambil menerima kenyataan pahit: urip mung mampir parkir mbek kejebak macet.
Di tengah gemuruh roda dan air, tentu saja suara janji politikus muncul. Menjelang akhir tahun, dialog tentang janji pembangunan infrastruktur pun ramai diperbincangkan: normalisasi sungai, sampai proyek pengendalian banjir.
Ada progres di tol Semarang–Demak yang katanya akan meredakan kepadatan di jalur utama, meningkatkan konektivitas, dan menawarkan “napas baru” bagi perdagangan lokal.
Itu jika selesai tepat waktu tentu saja. Tapi kalau molor, malah menambah rumit persoalan banjir karena jadi bendungan besar air yang akan lari ke laut.
Sementara itu, diskusi antara wakil rakyat dan ahli soal solusi banjir juga mengemuka, meski realisasinya kadang terkesan lebih rumit dari menyusun jajanan pasar di rak minimarket.
Kehidupan lain yang juga menarik adalah perasaan warga saat Nataru (Natal dan Tahun Baru) mendekat. Persoalan kenaikan harga kebutuhan pokok yang sering ikut berpesta. Kenaikan bahkan mencapai 100 persen untuk bahan-bahan konsumsi, seperti cabai, bawang, dan daging. Padahal upah para pekerja dan buruh tak ikut naik.
Apa yang membuat Semarang berbeda adalah bagaimana warganya bisa menertawakan situasi sulit tanpa kehilangan rasa hormat pada kota mereka. Di warung kopi, pernah terdengar canda: “Kalau ingin tahu kapan pemerintah janji pembangunan, ya saat jelang pemilu dan saat banjir datang, biasaya hal-hal itu sering dirilis bersamaan.”
Di tempat lain, ada yang mengusulkan wisata banjir dengan paket foto Instagram sebagai bagian dari brand city experience. Serius, itu sebenarnya hanya lelucon dan sindiran satire kepada pemerintah. Tapi kok ya ada yang serius mempertimbangkannya.
Ironi ini bukan sekadar humor kosong. Ini adalah bahasa rakyat yang mencoba menerima realitas sambil berharap akan perubahan.
Ketika warga membicarakan tol yang akan selesai di masa depan, atau pengendalian banjir yang dijanjikan dalam rapat-rapat serius, sering terdengar tawa kecil yang lebih menenangkan daripada kritik pedas.
Setidaknya tawa itu mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal rencana, tetapi juga tentang harapan di tengah ketidakpastian.
Dan itulah wajah Kota Semarang di ujung tahun 2025 dan di awal tahun 2026 ini. Sebuah kota dengan segudang cerita yang tidak selalu mulus, sering basah, dan kadang macet sampai lupa arah. Tapi salut untuk warganya, tetap sabar dan tenang. Ini membuktikan Semarang memang teruji sebagai “sumbu panjang”.
Namun, dalam celoteh sehari-hari tentang banjir yang tak kunjung reda atau lalu lintas yang lebih padat dari resep sambal di warung, warga tetap menaruh sejumput harapan.
Harapan yang sederhana: jalanan yang bisa dilintasi tanpa drama, banjir yang tidak mengulang episode serial tahunan, anggaran pembangunan jangan dikorupsi, serta kelakar yang tetap lucu meskipun sering diulang.
Di awal tahun 2026 ini, mungkin itu saja yang dibutuhkan, sedikit tawa, segenggam harapan, dan secangkir kopi panas yang menunggu di rumah setelah perjalanan yang panjang.
Selamat tahun baru, Semoga Kota Semarang tambah memperhatikan nasib rakyatnya dan tak ada lagi kasus korupsi yang akan memperburuk cerita tentang kota ini.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


