HALO KENDAL – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal melalui Majelis Lingkungan Hidup (MLH) menanam seribu bibit kopi arabika di lahan kritis Desa Kediten, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, Kamis (25/12/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama menjaga lingkungan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani.
Aksi penanaman dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan jajaran MLH PDM Kendal, PCM Plantungan, Pemuda Muhammadiyah, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PD Aisyiyah Kendal, RSDI Kaliwungu, Keplala Desa Kediten, Rudiyanto, serta PD Pemuda Muhammadiyah.
Wakil Ketua PDM Kendal, Samsul Hidayat menegaskan, gerakan penanaman merupakan upaya berjamaah memanfaatkan lahan kritis agar lebih produktif dan aman dari ancaman longsor.
“Kami terus mendorong pemanfaatan lahan kritis dengan tanaman yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis. Kopi arabika menjadi pilihan karena cocok ditanam di dataran tinggi dan memiliki nilai jual tinggi,” tandasnya
Samsul menyebut, tanaman kopi juga memiliki fungsi ekologis penting dalam menjaga kestabilan tanah. Sistem perakaran kopi yang cukup rapat mampu mengikat lapisan tanah bagian atas sehingga mengurangi erosi dan potensi longsor dangkal.
“Akar kopi dapat menahan partikel tanah agar tidak mudah tergerus air hujan. Tajuknya juga cukup rimbun sehingga mampu mengurangi daya jatuh air hujan langsung ke permukaan tanah,” jelasnya.
Samsul menambahkan, efektivitas tanaman kopi akan semakin optimal jika ditanam dengan pola agroforestri, yakni dikombinasikan dengan tanaman keras seperti sengon, dadap, lamtoro, alpukat, atau mahoni yang memiliki akar lebih dalam.
“Pohon penaung berakar dalam sangat penting untuk menstabilkan lereng dan menahan pergerakan tanah lapisan bawah. Karena itu, penanaman kopi harus disertai sistem konservasi seperti terasering dan drainase,” jelasnya.
Wakil Ketua PDM Kendal juga mengingatkan, kopi tidak bisa menjadi satu-satunya solusi untuk mencegah longsor besar. Ia juga berharap, program dapat berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Akar kopi efektif di kedalaman sekitar 30–60 sentimeter, sehingga tidak cukup menahan longsor besar jika tanah sudah jenuh air. Jadi, harus dikombinasikan dengan tanaman keras dan pengelolaan lahan yang baik. Kalau ekonomi petani membaik, insyaallah kehidupan sosial dan ibadah masyarakat juga akan semakin bergairah,” ungkap Samsul.
Sementara itu, Ketua MLH PDM Kendal, Wasito mengatakan, penanaman seribu bibit kopi ini merupakan bentuk nyata kolaborasi dalam mengurangi luasan lahan kritis yang belum dimanfaatkan secara optimal di wilayah Kediten.
Dijelaskan, kegiatan melibatkan 13 petani yang menanam kopi di lahan milik sendiri, dan lakukan bersama-sama agar ada rasa memiliki dan tanggung jawab.
“Untuk memastikan keberhasilan program, MLH PDM Kendal melibatkan dua pendamping petani muda dari Pemuda Muhammadiyah guna mendampingi proses budi daya hingga masa produksi,” jelas Wasito.
Menurutnya, kopi bukan hanya soal hasil panen, tapi juga fungsi ekologis. Selain meningkatkan ekonomi petani, kopi arabika juga menjadi bagian dari upaya menahan abrasi dan longsor di wilayah ini.
“Harapannya, melalui program ini, Desa Kediten dapat berkembang sebagai sentra kopi arabika sekaligus menjadi contoh pengelolaan lahan berbasis konservasi lingkungan di Kabupaten Kendal,” pungkas Wasito.(HS)