in

Semarang Jadi Kota Pesta Mingguan Berkat Bantuan RT Rp 25 Juta/tahun

Foto ilustrasi AI.

DI Kota Semarang, tiap Minggu pagi kini terasa lebih hidup daripada biasanya. Ribuan warga berbondong-bondong ke fasum RT masing-masing, mengenakan kaus olahraga warna-warni dan penuh semangat.

Para ibu-ibu meliuk-liuk dalam senam massal yang seolah-olah sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi dunia. Sementara bapak-bapak rutin kerja bakti membersihkan lingkungan.

Bantuan keuangan dari pemerintah kota sebesar Rp 25 juta per RT per tahun telah mengubah rutinitas biasa menjadi acara rutin yang ramai. Total ada 10.629 RT yang menerima dana ini, dan pencairannya sudah dimulai sejak pertengahan 2025 lalu.

Siapa sangka, uang yang awalnya dimaksudkan untuk operasional sederhana justru menyulap jalan-jalan sempit menjadi arena kegiatan sosial yang heboh.

Setiap akhir pekan, kerja bakti berlangsung seperti operasi militer skala kecil. Warga membersihkan got, memangkas rumput liar, dan bahkan membangun pos ronda yang lebih mirip kafe kekinian daripada tempat jaga malam.

Di sisi lain, kelompok PKK semakin giat. Mereka menanam tanaman obat keluarga di setiap sudut halaman, seolah-olah sedang membangun apotek alam raksasa yang siap menyaingi industri farmasi nasional.

Tanaman jahe merah bertumbuh subur, dan ibu-ibu saling berbagi resep ramuan herbal sambil ngobrol panjang lebar.

Semua ini terjadi di tengah perekonomian yang sedang lesu, di mana harga sembako naik-turun tak karuan. Tapi di tingkat bawah, dana RT ini seperti obat mujarab yang membuat roda kehidupan di kampung berputar lebih cepat.

Lihat bagaimana efeknya merembet ke pedagang kecil. Saat rapat RT digelar, puluhan warga berkumpul di balai kampung, dan tentu saja, perut mereka tak mau diam. Pedagang jajanan pasar tiba-tiba laris manis: gorengan hangat, lupis legit, dan klepon empuk habis dalam sekejap.

Di kerja bakti, penjual es campur dan mi ayam keliling ikut kecipratan rezeki. Ekonomi lokal berdenyut lagi, meski cuma di skala kecil.

Pedagang yang biasanya mengeluh sepi pembeli kini mulai tersenyum lebar, karena acara mingguan ini seperti pesta rakyat yang tak pernah berhenti.

Di Semarang, dana operasional ini tak cuma bikin warga aktif, tapi juga menyuntikkan energi ke usaha kecil yang hampir layu. Bahkan, untuk perayaan HUT RI ke-80, dana ini digunakan untuk kegiatan kemerdekaan yang meriah, lengkap dengan lomba dan hiburan.

Tapi, seperti halnya cerita dongeng yang selalu punya plot twist, tidak semuanya berjalan mulus. Di balik semangat gotong royong yang membara, muncul bisik-bisik curiga di antara warga.

Di beberapa wilayah muncul kecurigaan ketidakjelasan dalam pengelolaan dana. Ironisnya, dana yang seharusnya transparan penggunaannya, seperti air bening justru keruh, karena laporan keuangan yang tak pernah dibuka lebar-lebar oleh pengurus RT.

Pemerintah kota memang sudah menggandeng Kejaksaan Negeri untuk mengawasi pencairan dan penggunaan dana ini, sesuai Peraturan Wali Kota Nomor 32 Tahun 2025. Tapi, pengawasan itu seperti pagar besi yang kokoh, tapi kadang bocor di bagian bawah.

Di satu sisi, dana ini bikin Semarang seperti kota utopia di mana setiap RT punya agenda padat seperti jadwal presiden. Senam pagi jadi ritual suci yang tak boleh dilewatkan, kerja bakti berubah menjadi festival kebersihan mingguan, dan taman toga PKK tumbuh begitu lebat hingga nyamuk pun enggan mendekat.

Tapi di sisi lain, isu transparansi ini seperti duri dalam daging.

Ada RT yang heboh menolak dana karena takut ribet administrasinya, atau malah karena khawatir jadi sasaran tudingan. Lucunya, di tengah ekonomi yang pelan-pelan bangkit, justru ketidakpercayaan ini yang bikin suasana panas.

Warga yang tadinya antusias, kini mulai memeriksa kwitansi seperti detektif amatir.

Saat rapat RT berlangsung, obrolan tak lagi cuma soal agenda kegiatan, tapi juga soal catatan pengeluaran yang misterius. Beberapa ketua RT memang jujur, menggunakan dana untuk keperluan bersama seperti perbaikan fasilitas sosial.

Tapi yang curang, meski minoritas, bikin citra keseluruhan tercoreng.

Ironis, ya? Dana yang dimaksudkan untuk menyatukan warga justru kadang memicu perdebatan sengit di grup WhatsApp RT. Pedagang jajanan tetap laku, tapi sekarang ditambah dengan gosip panas tentang “rahasia” bendahara dan ketua RT.

Pada akhirnya, cerita bantuan RT ini seperti komedi situasi di sinetron lokal: penuh tawa, tapi selalu ada pesan di baliknya.

Agar pesta ini berlanjut tanpa drama, transparansi memang seharusnya jadi prioritas utama.

Jangan sampai, pesta mingguan tersebut nantinya malah jadi petaka.(HS)

Gandeng Bank Jateng, Kemenag Blora Gelar Santripreneur Pelatihan Kewirausahaan dan Literasi Keuangan

Pawai Jerami Purba Warnai Kemeriahan Sangiran Fair 2025