ADA orang yang rela keluar biaya jutaan rupiah demi punya gigi seputih porselen. Saat senyum, kilauannya nyaris bikin silau lawan bicara. Sayangnya, ketika mulut terbuka lebih lama, yang keluar bukan kesegaran, melainkan “bau naga” yang bikin orang-orang mendadak pura-pura sibuk cek ponsel.
Dokter Gigi, Yoshita, saat berbicara di Central Java Health & Wellness Expo 2025 di Citraland, Simpang Lima, Kota Semarang, Jumat (3/10/2025) mengatakan, masyarakat terlalu sibuk mengejar tren gigi putih, padahal inti sebenarnya adalah kesehatan gigi dan mulut.
“Gigi sehat itu bukan hanya putih. Tapi harus utuh, tidak berlubang, tidak kasar, tidak ada plak atau noda, dan tentu bisa berfungsi baik secara fungsi maupun estetik,” kata Drg. Yoshita, FISID.
Pemilik Quality Dental Care yang ada di Jalan Pusponjolo Barat nomor 56, Kota Semarang tersebut mengingatkan, standar gigi putih tiap ras berbeda. Orang Asia punya karakter alami sendiri, begitu juga Afrika, Eropa, atau Amerika. Jadi, kalau orang Asia nekat ingin putih seperti bintang iklan pasta gigi Amerika dengan cara instan, misalnya mengikis lapisan gigi, hasilnya bisa fatal. “Sekali gigi dikikis, dia tidak bisa pulih lagi,” tegasnya.
Ironinya, banyak yang sibuk memoles tampilan luar, tapi lupa bagian dalam. Ada gigi mulus nan putih, tapi mulutnya bau. Penyebabnya bisa karena sisa makanan yang ada di sela gigi, gigi berlubang, atau karang gigi yang sudah jadi “penghuni tetap”. Bakteri penghasil sulfur pun pesta pora di rongga mulut, meninggalkan aroma yang jauh dari kata menawan.
Sikat Gigi Saja Tak Cukup
Menurut Drg. Yoshita, pintu gerbang kesehatan mulut itu sederhana, kebersihan dan kesehatan. Hanya saja, gosok gigi rutin tidak menjangkau semua area. Itu sebabnya perlu bantuan dental floss, pembersih lidah, dan berhenti pakai obat kumur secara berlebihan.
“Perlakuan gusi juga penting, karena gusi yang bermasalah bisa mengganggu kesehatan gigi,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi, setiap enam bulan sekali. Karena ada area yang tidak bisa disentuh sikat gigi.
Dalam sesi tanya jawab, Jefri, warga Demak, mengeluhkan rasa nyeri sampai kepala setiap kali makan es krim. Drg. Yoshita langsung memberi pemahaman, kemungkinan ada gigi berlubang, sehingga sensasi dingin dan manis langsung “menyentuh syaraf”.
Acara expo yang digelar 1–5 Oktober 2025 ini menghadirkan 49 stan konsultasi kesehatan, mulai dari tensi, gula darah, hingga kesehatan mata dan gigi. Menurut Ketua Panitia, Dra. Titah Listiorini, MM, kegiatan ini ditujukan untuk edukasi kesehatan publik dengan konsultasi gratis, melibatkan 15 dokter dalam talk show.(HS)