SORE ini di sebuah cafe di Jalan Majapahit, Kota Semarang, aroma rebung bercampur udang goreng dari lumpia masih menari-nari di udara ber-AC, meski harus bersaing dengan hembusan uap dari gelas kopi susu yang dihiasi latte art berbentuk hati.
Kota Semarang, dengan sejarahnya yang kaya pengaruh budaya campuran Cina, Arab, Belanda, dan Jawa, jadi medan tempur antara makanan warisan dan camilan hits yang muncul setiap pekan di feed Instagram.
Lumpia Semarang, yang lahir dari campuran budaya imigran Cina sejak abad ke-19, tetap berdiri tegak dengan isian rebung, ayam cincang, telur, dan udang yang dibungkus kulit tipis renyah. Saus yang manis seperti tameng setia, melindungi dari serbuan dessert viral yang datang dengan janji manis tapi sering berakhir hambar.
Lihat saja kenyataannya, lumpia ini sudah eksis puluhan tahun, dijual di warung-warung legendaris seperti Lumpia Gang Lombok yang berdiri sejak 1870. Tapi sekarang, dia harus berhadapan dengan kue modern yang tiba-tiba populer, roti croissant digoreng seperti waffle, disiram saus matcha atau Nutella.
Ironisnya, croffle ini muncul sebagai “inovasi” tapi sebenarnya cuma campur aduk makanan lama yang dibuat ulang biar kelihatan mewah. Sementara lumpia, dengan resep asli yang tak berubah, malah dicap kuno.
Padahal, data dari situs pariwisata Jawa Tengah menunjukkan lumpia tetap jadi ikon utama, dikunjungi ribuan wisatawan setiap tahun.
Berpindah ke minuman hangat yang selalu siap menemani malam hujan di Semarang, wedang ronde muncul sebagai pejuang setia. Bola-bola tepung ketan isi gula atau kacang yang kenyal itu berenang di kuah jahe harum, disajikan panas-panas di gerobak pinggir jalan.
Menurut catatan sejarah dari buku kuliner tradisional Indonesia, wedang ronde ini adaptasi dari tang yuan Cina, tapi di Semarang dia jadi lebih ramah dengan tambahan kolang-kaling dan kacang tanah.
Harganya murah, sekitar Rp 7.000 ribu per mangkuk, dan selalu laris di pasar malam di beberapa sudut kota. Tapi lihatlah, sekarang dia harus bersaing dengan boba tea yang penuh bola tapioka kenyal, dicampur susu dan sirup rasa aneh-aneh seperti cheese foam. Boba ini katanya “tradisional Taiwan” tapi di Semarang muncul sebagai tren kekinian, sementara wedang ronde yang asli malah dianggap minuman nenek-nenek.
Lagi-lagi, kalau wedang ronde punya akun sosmed, mungkin dia posting, “Aku sudah hangatkan perut nenek moyang sejak zaman kolonial, kamu baru kemarin sore viral di TikTok.”
Tak lupa gendar pecel, makanan rumahan yang naik daun lagi. Gendar dari nasi dicampur garam bleng ditumbuk, dipotong kotak, lalu disiram bumbu sambel pecel dengan sayur rebus seperti kangkung dan tauge. Gendar pecel ini tradisional Jawa Tengah dan semakin diminati karena sehat serta murah. Tapi di Semarang, dia bersaing dengan poke bowl atau salad bowl kekinian yang katanya “healthy” tapi pakai dressing impor.
Kuliner legendaris lain seperti tahu bakso, tahu pong, atau bandeng presto dengan tulang lunak, juga ikut perlawanan. Tahu bakso dari pengaruh Cina-Jawa, dijual di warung sederhana, sementara bandeng presto jadi oleh-oleh wajib sejak 1970-an. Mereka semua bertahan karena rasa autentik, bukan karena filter foto atau konten viralnya.
Di kota yang sibuk ini, kuliner Semarang seperti lumpia, tahu pong, tahu gimbal, gendar pecel, dan wedang ronde mengajak kita ingat akar. Mereka tak butuh viral untuk eksis, tapi kalau kita biarkan tren modern menang, nanti Semarang kehilangan jati diri, dan yang tersisa cuma feed Instagram tanpa rasa.(Tulisan ini disempurnakan dengan AI-HS)


