HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko mengungkapkan keprihatinan mendalam atas maraknya masalah sosial yang melibatkan remaja. Mulai dari perundungan, kekerasan digital, hingga penyalahgunaan narkoba.
Ia menilai krisis ini tak bisa ditangani pemerintah semata. Melainkan membutuhkan sinergi yang kuat antara lembaga sosial, pendidikan, dan keagamaan.
“Kita sedang menghadapi generasi muda yang rentan secara mental, sosial, dan moral. Mereka tumbuh di tengah disrupsi nilai yang luar biasa, dan sayangnya banyak yang kehilangan pegangan,” ungkap Heri (25/06/2025).
Menurutnya, angka keterlibatan remaja dalam kenakalan sosial meningkat dari tahun ke tahun, terutama di daerah-daerah urban dan pinggiran. Heri menyebut bahwa banyak anak muda kehilangan ruang aman untuk bertanya, berproses, dan belajar mengenali jati diri.
Heri mendorong lembaga sosial, keagamaan, dan komunitas lokal untuk tidak hanya berperan saat momen seremonial atau hari besar. Melainkan hadir secara rutin dan terstruktur dalam pembinaan remaja, baik secara spiritual, emosional, maupun sosial.
“Remaja tidak hanya butuh diceramahi, mereka perlu didengarkan. Di sinilah peran penting tokoh agama, komunitas budaya, dan pendamping lokal. Mereka bisa jadi penguat di luar sekolah dan rumah,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tak semua keluarga memiliki kapasitas mendampingi anak remajanya secara intens. Banyak orang tua sibuk bekerja, berada dalam tekanan ekonomi, atau bahkan gagap menghadapi dunia digital anak-anak mereka.
Karena itu, Heri menyarankan agar lembaga sosial dan keagamaan memiliki program khusus remaja yang bersifat inklusif, lintas latar belakang, serta berorientasi pada pembentukan karakter dan penguatan mental.
“Kita harus bantu mereka tumbuh sebagai manusia utuh. Bukan sekadar pintar, tapi juga kuat secara batin, peka sosial, dan punya arah hidup,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan dalam merancang program pencegahan sejak dini.
“Kalau kita gagal membina mereka hari ini, kita akan menghadapi krisis yang jauh lebih besar lima atau sepuluh tahun ke depan,” pungkas Heri.(HS)