HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara arus modernisasi dengan nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat. Ia menyebut, terlalu banyak contoh di mana pembangunan fisik dan digitalisasi dilakukan besar-besaran, tapi mengabaikan ikatan sosial, rasa saling percaya, dan gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat.
“Kita sedang membangun jalan, jembatan, wifi, dan gedung megah. Tapi kita lupa bahwa yang membuat masyarakat kita bertahan selama ini bukan beton dan kabel—tapi kebersamaan,” ujar Heri (25/06/2025).
Menurutnya, banyak program pembangunan saat ini terlalu berorientasi pada angka dan proyek, tanpa mempertimbangkan dampak sosial jangka panjang.
Heri juga menyoroti desa-desa yang dulunya erat secara sosial, kini mulai terpecah karena kompetisi dalam mengakses bantuan. Hal ini dikarenakan birokrasi yang menjauhkan warga dari pengambilan keputusan, hingga menurunnya tradisi rembug warga.
“Digitalisasi itu penting. Tapi jangan sampai musyawarah warga diganti Google Form, atau keputusan soal kampung diambil tanpa rembug bareng sesepuh,” tambahnya.

Heri melihat fenomena berkurangnya interaksi sosial antarwarga sebagai tanda bahwa pembangunan yang berjalan belum seimbang.
Ia mengingatkan bahwa jiwa kolektif masyarakat seperti gotong royong, jimpitan, ronda, atau arisan, bukan sekadar tradisi kuno. Melainkan modal sosial yang nyata dan terbukti tangguh menghadapi krisis.
“Waktu pandemi, yang bantu tetangga adalah warga, bukan aplikasi. Waktu ada longsor, yang pertama datang bukan alat berat, tapi pemuda kampung,” tegasnya.
Ia mengajak pemerintah, baik di tingkat desa maupun kabupaten, untuk memasukkan indikator sosial ke dalam penilaian keberhasilan pembangunan.
Heri juga menyarankan agar ruang-ruang komunal seperti balai desa, pos ronda, dan tempat ibadah tidak hanya dijadikan formalitas, tetapi tetap dihidupkan sebagai pusat interaksi.
“Kita bisa punya gedung bagus, jalan mulus, dan sinyal cepat. Tapi kalau tidak saling kenal dengan tetangga sendiri, kita sedang kehilangan arah,” pungkas Heri.(HS)