in

170 Anggota Jemaah Haji Reguler Meninggal, Mayoritas Sakit Jantung

Petugas melayani para anggota jemaah haji yang sakit di pos kesehatan haji di Markas 105, tenda 1178, di Arafah. (Foto : sehatnegeriku.kemkes.go.id)

 

HALO SEMARANG – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mencatat sudah ada 175 anggota jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia, dan mayoritas akibat sakit jantung.

“Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan, sampai hari ini, ada 175 (anggota-Red) jemaah haji Indonesia yang wafat,” kata Kabid Kesehatan PPIH Arab Saudi, Imran di Makkah, Minggu (8/6/2025), seperti dirilis kemenag.go.id.

Dari jumlah itu, 170 orang adalah anggota jemaah haji reguler, lima lainnya merupakan termasuk anggota jemaah haji khusus.

Imran menjelaskan, ada tiga penyakit yang umum diderita jemaah haji Indonesia yang wafat.

Ketiga penyakit itu adalah jantung, pernafasan akut, dehidrasi, dan kegagalan organ akibat infeksi yang berat.

Menurut data yang dimiliki, tercatat 77 anggota jemaan haji wafat akibat penyakit jantung, 15 karena mengalami kegagalan organ akibat infeksi yang berat, dan 11 orang meninggal karena masalah pernafasan akut dan dehidrasi.

Imran juga menambahkan, jumlah anggota jemaah haji tahun 2025 ini lebih sedikit dibandingkan pada hari operasional yang sama pada tahun 2024 lalu, yang mencapai 190 orang.

“Kita terus berikhtiar dan berharap kepada Allah semoga jemaah haji Indonesia terus dalam keadaan sehat dan bisa pulang ke Tanah Air,” harapnya.

Berdedikasi

Sementara itu para petugas kesehatan yang tergabung dalam tim Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Bidang Kesehatan, menunjukkan dedikasi luar biasa.

Bertempat di Markas 105, Tenda 1178, di Arafah, tenda pos kesehatan haji harus berbagi dengan para jemaah.

Meskipun berbagi tenda, semangat para petugas dalam melayani dan menjaga kesehatan jemaah haji tak pernah luntur.

Keterbatasan fasilitas kesehatan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.

Area yang sempit dan kebutuhan akan tempat pelayanan pasien serta beristirahat yang memadai sering kali tidak sebanding dengan jumlah petugas yang disiagakan.

“Tahun ini, kami memang harus beradaptasi. Dengan sistem 8 syarikah yang berlaku menjadi tantangan tersendiri. Termasuk bagaimana seharusnya pos kesehatan berdiri sendiri,” ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Hal tersebut tidak mengurangi fokus tim PPIH Bidang Kesehatan untuk memberikan pelayanan terbaik. Para petugas kesehatan menyadari betul bahwa kondisi fisik jemaah haji sangat rentan di tengah cuaca ekstrem dan aktivitas yang padat.

Oleh karena itu, kehadiran mereka sangat krusial. Sejak tiba di Arab Saudi, mereka telah bekerja tanpa henti, mulai dari memberikan edukasi kesehatan, melakukan pemeriksaan rutin, hingga menangani kasus-kasus darurat dan rujukan.

Di tenda pos kesehatan untuk pelayanan kesehatan darurat di Arafah, para petugas terlihat sigap melayani setiap keluhan jemaah.

Dari kelelahan, dehidrasi, pendarahan karena terjatuh hingga penyakit bawaan, semua ditangani dengan profesionalisme tinggi.

Bahkan di sela-sela waktu istirahat yang terbatas, mereka tetap terlihat memantau kondisi jemaah di sekitar tenda mereka.

“Prioritas kami adalah memastikan jemaah tetap sehat dan dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar,” tambah Liliek.

Semangat juang para petugas kesehatan haji ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak.

Di balik seragam biru mereka, terpancar komitmen kuat untuk mengabdi dan melayani umat.

Dedikasi tanpa pamrih ini merupakan salah satu pilar penting dalam kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji setiap tahunnya.

Mereka adalah garda terdepan yang memastikan kesehatan jemaah tetap terjaga, meskipun harus berhadapan dengan berbagai keterbatasan di lapangan. (HS-08)

Pemkot Semarang Dukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Pondok Pesantren

Layanan Mina Disiapkan hingga 13 Zulhijjah bagi Jemaah Nafar Tsani