HALO KENDAL – Sekolah Rakyat yang lahannya disiapkan Pemerintah Kabupaten Kendal seluas 8 hektare di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal, diperkirakan mampu menampung 1.000 siswa.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia (Wamensos RI), Agus Jabo, usai melaksanakan peninjauan lahan di Kelurahan Bandengan beberapa waktu lalu.
“Kalau clear akan dibangun Sekolah Rakyat. Pembangunannya Insya Allah mulai tahun ini, buka ajaran barunya pada tahun depan. Kita harapkan Kendal punya satu, bisa menampung 1.000 siswa SD, SMP, SMA,” ujarnya.
Wamensos mengungkapkan, untuk proses pembangunannya nanti, akan melibatkan lintas kementerian.
“Setelah berkas diajukan ke Kemensos, selanjutnya dilakukan penilaian teknis oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Jika lolos, pembangunannya dapat segera dimulai,” ungkap Agus Jabo.
Wamensos menegaskan Sekolah Rakyat dikhususkan bagi anak-anak dari desil 1 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yaitu kelompok keluarga miskin dan miskin ekstrem.
“Jadi sekolah ini berkonsep boarding school dan seluruh kebutuhan siswa, mulai dari makan, buku, asrama, hingga peralatan sekolahnya itu ditanggung negara,” tandasnya.
Agus Jabo juga menjabarkan kurikulum yang diberikan di Sekolah Rakyat meliputi ilmu pengetahuan, pendidikan karakter, baik karakter keagamaan, kebangsaan maupun karakter sosial, serta siswa Sekolah Rakyat juga dibekali keterampilan.
“Misalkan sudah (lulus) SMA, mereka belum mau melanjutkan kuliah karena ingin membantu keluarganya, mau bekerja kita sudah membekali dengan keterampilan-keterampilan yang kita ajarkan di Sekolah Rakyat,” bebernya.
Wamensos juga menyebut, fasilitas unggulan di Sekolah Rakyat meliputi ruang kelas, asrama, dapur, ruang makan, laboratorium, tempat ibadah, lapangan olahraga, dan tempat praktik.
“Selain itu, juga ada fasilitas keterampilan berupa pertanian, otomotif atau keterampilan lain sesuai potensi daerah masing-masing,” kata Agus Jabo.
Wamensos menjelaskan Sekolah Rakyat yang dibuka pada Juli 2025 bersifat sementara, dengan memanfaatkan gedung eksisting yang direvitalisasi, sebagai langkah awal percepatan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
“Yaitu Sentra Antasena Magelang, Pusdiklat Pamong Praja Tegalrejo Magelang, Sentra Satria Baturraden, Sentra Terpadu Kartini Temanggung, Sentra Margo Laras Pati, dan Sentra Terpadu Prof. Soeharso Surakarta,” jelasnya.
Sedangkan untuk jangka panjang, lanjut Agus Jabo, pemerintah daerah tetap diminta mengusulkan lahan baru untuk sekolah permanen.
“Jadi, tahun berikutnya anak-anak yang kemarin berada di sentra Kemensos akan pindah ke sekolah permanen yang ruang kelasnya lebih luas dan fasilitasnya lebih lengkap,” imbuhnya. (HS-06)