HALO KENDAL – Upaya mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah terus digencarkan. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui Acara Roadshow Multifinance Syariah Chapter Kendal yang diselenggarakan di Aula Pondok Pesantren Al Musthofa, Pandes, Cepiring, Kendal.
Acara ini menjadi istimewa karena dirangkaian dengan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Daerah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kendal Periode 1446–1451 H/2024–2029 M.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Adira Finance Syariah, yang memiliki komitmen kuat untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah, khususnya di daerah.
Ketua Pengurus Daerah MES Kendal, M Irkham Fukhuludin, SEI CWC yang baru dilantik menyampaikan, keberadaan MES di Kendal diharapkan menjadi motor penggerak ekosistem ekonomi syariah, melalui sinergi antara ulama, akademisi, pengusaha, dan pemerintah daerah.
“Dengan sinergi ini, kami ingin membumikan ekonomi syariah, bukan hanya sebagai sistem keuangan alternatif, tetapi sebagai solusi nyata yang inklusif dan berkeadilan bagi masyarakat. Tentunya dengan dukungan kerja sama dan kolaborasi dari beberapa pihak. Saat ini kami juga berinisiatif mendirikan Yayasan Pendidikan dan Pelatihan Ekonomi Islam (YPPEI) Arrisalah yang tentunya dapat menjembatani banyaknya program untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” ujarnya.
Sementara Sekretaris II Pengurus Wilayah MES Jawa Tengah, Ubaidul Musthofa SHI MSi yang hadir mewakili PW MES Jateng menekankan pentingnya penguatan kelembagaan MES di daerah sebagai ujung tombak implementasi ekonomi syariah di masyarakat.
“Kami melihat PD MES Kendal sebagai salah satu daerah potensial. Dengan pelantikan pengurus baru hari ini, harapan kami adalah munculnya program-program konkret yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat—baik dalam hal literasi keuangan syariah, pemberdayaan UMKM, maupun pengembangan ekonomi pesantren,” ungkapnya.
Acara dibuka dengan penuh khidmat, oleh KH Muh Nasyih Syarifuddin, selaku Ketua Dewan Pembina PD MES Kendal sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Musthofa, dalam sambutannya menyampaikan, sinergitas antara lembaga keuangan, pesantren, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam membumikan ekonomi syariah.
“Ekonomi syariah bukan sekadar konsep, tapi jalan hidup yang berkeadilan. Kami di pesantren siap menjadi mitra dalam dakwah ekonomi ini, karena keberkahan akan turun ketika nilai-nilai syariah dihidupkan dalam transaksi dan kehidupan sehari-hari,” ujarnya penuh semangat.
Sementara itu, Adira Finance Syariah yang diwakili oleh Tisna Sumantri, Head of Sharia Business Adira Finance, menyampaikan komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis nilai-nilai syariah.
Pada kesempatan tersebut, Adira Finance Syariah juga memberikan bantuan Dana Kebajikan kepada Yayasan Pendidikan dan Pelatihan Ekonomi Islam (YPPEI) Arrisalah, sebagai wujud nyata kontribusi sosial perusahaan terhadap pendidikan dan dakwah ekonomi Islam.
“Bantuan ini merupakan bagian dari amanah dana kebajikan yang kami kelola untuk mendukung lembaga-lembaga yang bergerak dalam penguatan literasi dan pemberdayaan ekonomi syariah,” jelas Tisna.
Selain sesi pelantikan dan seremonial, acara juga diisi dengan diskusi panel seputar Isu Strategis dan Arah Kebijakan Pengembangan Multifinance Syariah di Indonesia yang disampaikan oleh Anjar Sumarjati selaku Pengawas Senior Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan empat Kantor OJK Jawa Tengah.
Kemudian Materi kedua tentang Akad dan Landasan Syar’i Pembiayaan Multifinance Syariah di Indonesia yang disampaikan oleh KH Mahbub Ma’afi selaku Pengurus Pusat MES dan Ketua LBM PBNU, dan yang terakhir materi tentang Skema dan Mekanisme Pembiayaan di Perusahaan Multifinance Syariah yang disampaikan oleh Tisna Sumantri selaku Head of Sharia Business Adira Finance.
Dengan terselenggaranya acara, diharapkan semangat kolaborasi lintas sektor terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi penguatan ekonomi syariah di Kabupaten Kendal dan sekitarnya.
Kegiatan dihadiri 123 Peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari perwakilan pondok pesantren, tokoh agama, pelaku usaha, mahasiswa, hingga perwakilan instansi pemerintah daerah.
Kehadiran elemen masyarakat tersebut menjadi bukti nyata semangat kolaboratif dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.(HS)