in

Wabup Iwan Terima Kunjungan Kerja Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Bahas Penanggulangan Kemiskinan

Wakil Bupati Boyolali, Wahyu Irawan (tengah) menerima kunker Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, baru-baru ini. (Foto : boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali telah membenahi data secara menyeluruh melalui program Monitoring Center for Development (MCD), mulai tingkat RT hingga kabupaten. Perbaikan data itu dilakukan, antara lain agar upaya penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan secara lebih akurat.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Boyolali Wahyu Irawan (Iwan), ketika menerima kunjungan kerja Komisi A DPRD Jateng, di Aula Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Boyolali, belum lama ini.

Kunjungan kerja dilakukan terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan di Kota Susu tersebut.

Menurut Iwan, saat ini data yang ter-update dan terhimpun melalui program MCD sudah lebih detil, mencakup nama dan alamat.

“Jadi tercatat by name by address dan terupdate kembali, dalam rangka mencapai ketepatan sasaran,” katanya, seperti dirilis boyolali.go.id.

Wabup juga berharap, pembahasan program kerja Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) untuk Kabupaten Boyolali ini dapat memberikan masukan dan saran untuk penanggulangan kemiskinan.

Ia juga menyebutkan jika Kabupaten Boyolali termasuk kabupaten yang mampu menurunkan angka kemiskinan sejak terdampak pandemi Covid-19.

Terbukti menurut data dari BPS, angka kemiskinan di Boyolali, mulai tahun 2021 di angka 10,62 persen, kemudian ditahun 2022 turun diangka 9,82 persen.

Selanjutnya ditahun 2023 menjadi 9,81 persen dan tahun 2024 turun lagi menjadi 9,63 persen.

Sedangkan menurut hasil inovasi MCD, jumlah penduduk di Kabupaten Boyolali hingga Desember 2024 sebesar 1.072.693 jiwa dengan penduduk miskin 71.065 jiwa atau 6,6 persen.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mukafi Fadli menyampaikan Kabupaten Boyolali menduduki peringkat 17 termiskin se-Jawa Tengah.

Hal ini juga karena masih banyak orang mampu yang mengaku miskin, agar mendapat bantuan dari pemerintah.

Dalam kunker tersebut, Mukafi mengajak untuk berdiskusi bersama bagaimana membuat masyarakat menjadi sejahtera.

“Kami ingin belajar dari Boyolali agar ketemu cara yang paling ideal agar kita Jawa Tengah itu bisa keluar dari zona degradasi kemiskinan yang ada di Indonesia,” ungkapnya. (HS-08)

Antisipasi Musim Hujan, BPBD Sukoharjo Siapkan Strategi Penanggulangan Bencana

Serahkan Bansos Korban Longsor, Bupati Purworejo Minta Warga Makin Waspada