HALO SEMARANG – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional di Indonesia, sebagai pesta rakyat yang menjunjung toleransi.
Menurutnya hal tersebut terlihat dari keterlibatan umat lintas agama dalam pelaksanaannya.
Menag mengungkapkan, lagu Mars MTQ bahkan pernah dinyanyikan oleh kelompok paduan suara Katolik dan Protestan.
“Panitianya bukan hanya dari umat Islam, tetapi juga dari pemeluk agama lain. Ini menunjukkan bahwa MTQ Internasional di Indonesia menjadi ajang yang menjunjung tinggi toleransi,” kata Menag, seperti dirilis kemenag.go.id, Kamis (30/1/2025).
Menag mengatakan nuansa pesta rakyat dalam MTQ ini, muncul dari pelaksanaan yang sistematis dan berkelanjutan.
Setidaknya terdapat 28 ajang MTQ digelar di Indonesia setiap tahun, mulai dari tingkat RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, hingga internasional. Pola ini menjadikan Indonesia satu-satunya negara di dunia yang secara konsisten menggelar MTQ dalam skala besar dan berjenjang.
“Saya sudah mengunjungi hampir semua negara, dan tidak ada satu pun yang menggelar MTQ seperti Indonesia. Tidak heran jika para delegasi kita selalu unggul dan sering menyabet juara pertama di berbagai ajang internasional,” ungkapnya.
Menag menambahkan, minat masyarakat dunia terhadap kitab suci Al-Qur’an sangat tinggi.
Menurutnya, sebuah majalah perbukuan di Amerika, mencatat bahwa tidak ada penerbitan yang mampu menandingi penjualan Al-Qur’an.
“Novel The Da Vinci Code yang pernah fenomenal saja hanya terjual lima juta eksemplar dalam satu tahun. Sementara Al-Qur’an, oplahnya jauh melampaui angka tersebut, baik di Amerika maupun di negara-negara Eropa,” ucapnya.
Menurut Menag, hal itu membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menarik perhatian umat Islam, tetapi juga para ilmuwan yang terus mengkajinya.
“Semakin dikaji, semakin banyak rahasia yang terungkap tentang kedahsyatan Al-Qur’an,” kata dia.
Sebelumnya, dalam acara Malam Taaruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional di Jakarta, Senin (29/1/2025) lalu, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Indonesia memiliki cara tersendiri dalam melestarikan tradisi pembacaan Al-Qur’an secara publik.
Menurut Nasaruddin, praktik tilawah di Indonesia berkembang luas, mulai dari tingkat dasar hingga nasional, serta melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
“Dari taman kanak-kanak hingga orang dewasa, kita memiliki beragam gaya pembacaan Al-Qur’an. Indonesia adalah negara yang spesial karena tilawah Qur’an diperdengarkan secara publik, dari desa kecil hingga tingkat nasional,” ujarnya.
Ia juga menyebut, Indonesia telah menggelar MTQ sebanyak 30 kali, yang menunjukkan konsistensi dalam menjaga warisan budaya keagamaan.
Tradisi ini tidak hanya berkembang di masyarakat umum, tetapi juga di lingkungan tahanan, kepolisian, militer, dan perguruan tinggi.
“Kita memiliki Musabaqah Tilawatil Qur’an untuk para tahanan, mantan narapidana, bahkan aparat keamanan. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an menjadi pemersatu di segala lapisan,” katanya.
Menag juga menyampaikan partisipasi kelompok tahanan dalam menjaga budaya membaca Al-Qur’an.
Menurutnya, banyak mantan narapidana, baik pria maupun wanita, yang kini mahir membaca Al-Qur’an dengan indah.
“Musabaqah di kalangan tahanan bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari pembinaan akhlak,” tegas Nasaruddin. (HS-08)