in

Ingin Healing, Jati Denok Bisa Jadi Alternatif Wisata di Blora

Objek wisata Jati Denok di petak 62, RPH Temetes, BKPH Temanjang, KPH Randublatung, di desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora. (Foto : blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Situs budaya Jati Denok, bisa dijadikan tempat wisata yang menarik dan memesona, karena bisa untuk tempat healing guna mengisi ulang energi dan menata hati.

Hal itu disampaikan Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanjang KPH Randublatung, Mashudi, terkait potensi wisata Jati Denok di Kabupaten Blora.

Menurut Mashudi, setiap hari libur tiba, banyak anak sekolah, remaja, hingga orang dewasa yang berkunjung ke Jati Denok.

Mereka ingin menikmati sensasi alam yang asri dan damai serta menghirup udara segar.

Pada 2024 lalu, dia juga telah menyelenggarakan pesta kebun bersama keluarga besar KPH Randublatung, dihadiri Administratur Randublatung, Herry Merkusiyanto Putro.

Sebenarnya di selain pohon jati Denok di sekitarnya masih juga ada pohon mahoni raksasa yang umurnya sudah ratusan tahun.

Ia meyakini ke depan kalau di situs Jati Denok akan dikelola menjadi tempat tujuan wisata andalan dan profesional di Kabupaten Blora.

Masih banyak peluang yang bisa dikembangkan untuk daya tarik bagi para wisatawan yang datang ke Jati Denok, di antaranya sebagai tempat untuk perkemahan bagi para pelajar atau generasi milenial, tempat bermain flying fox dan sky bike atau sky ride.

Bahkan bila memungkinkan dibuka akses jalan ke tempat wisata air terjun di Kedung Mansur yang berjarak 2 kilometer dari Jati Denok.

Di wisata air terjun Kedung Mansur atau grojogan Kedung Mansur pesona alamnya menarik dikelilingi oleh hutan jati dan udaranya segar.

Sementara itu menurut keterangan Kepala Desa Jatisari, Jamin, air terjun Kedung Mansur bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga tempat untuk kegiatan spiritual, sehingga dulu dimanfaatkan sebagai tempat untuk sedekah bumi dan juga ada patung Mbah Jenggot Sendang.

Berdasarkan penelusuran informasi di dua tempat tersebut telah memberi gambaran bahwa potensi wisata di Jati Denok dan air terjun Kedung Mansur sangat layak untuk di revitalisasi sebagai satu paket kunjungan wisata.

Untuk diketahui, nama Jati Denok di Kabupaten Blora, diambil dari sebuah pohon jati di hutan yang berukuran sangat besar.

Masyarakat setempat meyakini bahwa pohon ini merupakan yang terbesar di dunia. Keyakinan masyarakat ini, karena ukurannya yang memang sangat besar.

Pohon ini diperkirakan setinggi 30 meter, dengan lingkar keliling hampir 9 meter. Butuh minimal 7 rentangan tangan manusia dewasa untuk mencakupnya.

Ada pula yang menyebut Jati Denok memiliki predikat T3, yaitu Jati yang tertua, terbesar dan termahal di Indonesia bahkan di dunia.

Konon jati Denok sudah berumur lebih dari 400 tahun dan nilai harga kayunya bisa mencapai lebih dari satu miliar rupiah.

Objek wisata Jati Denok, berjarak 17 kilometer dari pusat kota Blora dan berada di atas bukit Kendeng Blora.

Lokasinya di petak 62, Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Temetes, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanjang, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung, di desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.

Jati Denok juga merupakan salah satu dari lima potensi Blora, yang pada 23 Juni 2008 lalu masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, Bambang Sulistya mengungkapkan rasa syukurnya ketika baru-baru ini mengunjungi Jati Denok beberapa waktu lalu.

“Alhamdulillah, Saya ditemani Pak Sugeng Saptono, masih diberikan kesehatan dan kesempatan menikmati segarnya udara dan indahnya panorama di kawasan situs budaya Jati Denok,” kata Bambang Sulistya.

Plt Camat Banjarejo, Heksa Wismaningsih menyampaikan untuk melakukan revitalisasi potensi wisata, selain memperbaiki sarpras dan akses (amenitas), juga perlu dibangun kelembagaan pengelola tempat wisata.

Adapun yang bisa diajak bekerja sama adalah Perhutani, Pokdarwis, Bumdes, serta Dinporabudpar Blora.

Setelah amenitas dan kelembagaan siap, baru kemudian merumuskan pengelolaan, promosi dan atraksi wisata.

Disamping itu juga adanya dukungan dan bantuan dari berbagai stakeholder guna mewujudkan perkembangan tempat wisata tersebut.

Bambang Sulistya hanya menitipkan harapkan kelak di masa yang akan datang ada paket wisata jeep Jati Denok tour di kabupaten Blora.

“Start di Pasar Sido Makmur dengan route Kampung Samin Klopoduwur, Jati Denok, air terjun Kedung Mansur dan terakhir di wisata Sumur pitu Pengging dusun Wadas desa Mojowetan Kecamatan Banjarejo,” tuturnya.

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Blora Arief Rohman selalu berikhtiar untuk mempromosikan potensi wisata Kabupaten Blora.

Salah satu obyek wisata yang berhasil viral adalah wisata Gua Terawang objek wisata alam di desa Kedung Wungu Kecamatan Todanan.

Sebenarnya Kabupaten Blora banyak potensi wisata yang perlu dilakukan upaya revitalisasi dengan melakukan kerja sama kemitraan ke pihak Perhutani atau pihak ketiga.

Karena kalau hanya mengandalkan dukungan dana dari APBD Pemkab tak akan mampu untuk membiayainya.

Oleh sebab itu Gus Arief, panggilan akrab Bupati Blora, akan terus berupaya menggali potensi wisata di Bumi Blora Mustika dengan menggandeng pihak swasta.

Bupati sudah menggagas salah satu potensi obyek wisata yang memiliki prospek cerah dan go international, yaitu untuk mempromosikan obyek wisata Jati Denok. (HS-08).

Sempat Mati, Pompa Pendingin Stasiun Pemantau Kualitas Udara Langsung Ditangani

Sambut Pemeriksaan BPK, Pemkab Sukoharjo Siapkan Laporan Pertanggungjawaban APBD 2024