in

Pemberian ASI Eksklusif, Kemenkes Sarankan Sesering dan Semau Bayi

Foto ilustrasi pemberian ASI. (Sumber : sehatnegeriku.kemkes.go.id)

 

HALO SEMARANG – Bagi ibu-ibu yang baru melahirkan, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, pada awalnya sering menimbulkan masalah, yakni air susu keluar sedikit dan tidak lancar.

Namun ASI eksklusif harus tetap diberikan, karena setiap bayi berhak mendapatkannya, hingga berusia 6 bulan, lalu dilanjutkan hingga berusia 2 tahun sambil diberikan makanan pendamping.

Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Lovely Daisy MKM, menjelaskan ASI yang sulit atau tidak keluar, seringkali membuat para ibu khawatir.

“Selama beberapa hari setelah melahirkan, ASI yang keluar berupa kolostrum dengan volume sekitar 5-7 ml. Kolostrum berwarna kekuningan atau bening, mengandung protein yang lebih tinggi dari ASI yang muncul kemudian dan mengandung zat anti infeksi. Inilah yang sering dianggap ibu sebagai ASI tidak, sulit atau sedikit keluar,” kata Daisy di Jakarta, baru-baru ini.

Seiring berjalannya waktu, kolostrum akan berubah menjadi ASI transisi, lalu menjadi ASI matang. Perubahan tersebut juga akan diiringi dengan pertambahan volume ASI.

“Ibu akan merasa payudara penuh, keras dan berat. Perubahan ASI tersebut terjadi pada minggu pertama kehidupan,” kata Daisy, seperti dirilis laman sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Menurut Lovely Daisy, cara paling efektif untuk memperlancar produksi ASI, yakni ibu menyusui bayi dengan benar sesering dan selama bayi menghendaki. Pemberian makanan atau minuman lain selain ASI tidak boleh sembarangan.

“Pemberian selain ASI akan menghambat produksi ASI. Susu pengganti ASI atau susu formula diberikan ketika ada indikasi medis setelah melalui penilaian oleh dokter yang kompeten,” terangnya.

Ibu dapat mempraktikkan teknik menyusui yang benar melalui perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar.

Indikator dalam proses menyusui yang efektif meliputi posisi ibu dan bayi yang benar, perlekatan bayi yang tepat, dan keefektifan isapan bayi pada payudara.

Teknik menyusui yang salah dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti puting susu menjadi lecet dan ASI tidak keluar secara optimal. Akibatnya, memengaruhi produksi ASI, yang selanjutnya membuat bayi enggan menyusu. Hal ini menyebabkan kebutuhan nutrisi bayi tidak tercukupi.

“Untuk menyusui dengan benar, ibu dapat menghubungi konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau mengakses telekonseling menyusui jika ibu mengalami keraguan terkait menyusui ataupun jika ada kendala,” ucap Daisy.

“Konselor menyusui siap untuk memberikan informasi atau mendukung ibu untuk menyusui.”

Dampak Pemberian Susu Formula

Lebih lanjut, Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak dr. Lovely Daisy mengingatkan tentang dampak pemberian susu formula pada bayi dibanding ASI.

“Ketika bayi diberikan lebih banyak susu formula dibandingkan ASI, maka bayi akan kenyang dengan susu formula sehingga lebih jarang menyusu. Hal ini berujung dapat menyebabkan produksi ASI berkurang,” katanya.

“Dampak lain yang dapat terjadi adalah meningkatnya risiko kesakitan pada bayi, karena kurang mendapatkan zat-zat kekebalan yang hanya terdapat di dalam ASI. Berkurangnya intensitas menyusui langsung juga dapat memengaruhi kedekatan antara ibu dan bayi (bonding) yang terjalin pada saat proses menyusui.”

Karena itu, menyusui bayi sesering dan selama bayi menginginkan harus tetap diupayakan.

“Produksi ASI dipengaruhi oleh isapan bayi pada saat menyusu. Semakin sering bayi menyusu dengan cara yang benar, maka semakin banyak ASI diproduksi,” tegas Daisy.

Pemberian ASI juga memiliki manfaat besar bagi bayi. Seperti yang tercantum dalam Pasal 25 PP Nomor 28 Tahun 2024, pemberian ASI eksklusif sangat penting untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan zat gizi terbaik demi tumbuh kembang yang optimal, meningkatkan daya tahan tubuh bayi sehingga dapat mencegah penyakit dan kematian, serta mencegah penyakit tidak menular di usia dewasa. (HS-08)

Kemen PPPA Kaji Usulan Revisi Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2012

18 SPKLU PLN Beroperasi Maksimal di IKN, Layani 340 Transaksi Pengisian Mobil Listrik saat HUT Ke-79 RI