HALO REMBANG – Pembuat kerajinan berbahan baku limbah cangkang kerang asal Rembang, kini berharap bisa bangkit lagi, setelah terpuruk akibat pandemi Covid-19.
Harapan itu antara lain disampaikan salah satu perajin, Suryadi, pria berusia 63 tahun yang dulu tinggal di Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang, tapi kini menetap di Magersari bersama istrinya.
Suryadi menuturkan usaha kerajinan cangkang kerang tersebut dirintisnya sejak tahun 1994.
Awalnya dia tertarik melihat tirai dari limbah cangkang kerang, yang dijajakan di Taman Kartini.
Suryadi pun kemudian mencoba membuatnya sendiri dan ternyata tidak mudah dan membutuhkan proses panjang, agar hasilnya benar-benar sesuai harapan.
Proses tersebut dimulai dari membersihkan sisa daging kerang yang dapat menimbulkan bau busuk.
“Cangkang harus ditanam di tanah sekitar satu bulan terlebih dahulu, untuk menghilangkan bau busuk dan daging bangkai hewannya, kemudian baru dicuci dan dirangkai,” kata Suryadi, seperti dirilis rembangkab.go.id.
Dari bahan baku itu, dia dapat menghasilkan berbagai macam produk kerajinan seperti burung merak, gajah, landak, tirai, lampu hias, hingga cermin.
Produk-produknya dijual dengan harga mulai dari Rp 5.000 hingga ratusan ribu rupiah.
“Dulu, kami paling banyak membuat gajah, trenggiling, kereta, dan gantungan kunci. Yang murah mulai dari Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 15.000, Rp 70.000, dan yang paling mahal Rp 150.000,” kenangnya.
Untuk mendapatkan bahan baku cangkang, Suryadi tidak hanya mengandalkan pantai di wilayah Rembang.
Sebagian besar bahan baku didatangkan dari luar kota seperti Situbondo dan Banyuwangi.
Ia juga sering mengikuti pameran di luar kota, bahkan pada tahun 2000-an produknya dilirik oleh buyer dari Semarang untuk diekspor ke Amerika.
“Yang diekspor itu dalam bentuk meja dengan hiasan kerangnya. Dulu, kami punya 15 karyawan, itu pun masih kurang untuk memenuhi pesanan ekspor,” tambahnya.
Tetapi, pandemi Covid-19 pada 2020 hingga 2021, membuat usahanya sepi pesanan.
Suryadi terpaksa memberhentikan 15 karyawannya dan melanjutkan produksi hanya bersama istrinya, Jami’ah (60).
Namun setelah istrinya menderita katarak lima bulan lalu, Suryadi harus mengerjakan semuanya sendirian.
Secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Rembang, M Mahfudz, mengakui pandemi Covid-19 banyak menganggu usaha masyarakat termasuk perajin cangkang kerang dan sejenisnya.
Pihaknya akan melihat kondisi usaha milik Suryadi, karena bagaimanapun kerajinan tersebut pernah jaya dan menjadi salah satu kerajinan khas Rembang.
“Kita akan melihat seberapa kondisinya, kita perlu mengungkit dari sudut mana, sehingga kita bisa bangkitkan kembali perajin kulit kerang ini. Karena merangkai limbah kulit kerang, bukur dan sejenisnya itu tidak dimiliki semua kabupaten,” kata dia. (HS-08)