HALO BOYOLALI – Ibarat dapat durian runtuh. Itulah yang dialami Sayla Maliatul Marzuqoh, siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Semarang.
Dia tak hanya memperoleh beasiswa untuk kuliah di Hong Kong, tetapi juga mendapatkan kesempatan umrah untuk mamanya yang kini sudah berusia 57 tahun.
Hal itu terungkap dalam dialog Sayla Maliatul Marzuqoh dengan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Musta’in Ahmad, di Boyolali baru-baru ini.
“Masihkah ada sesuatu yang mengganjal mau berangkat kuliah ke luar negeri,” tanya Kakanwil kepada Sayla Maliatul Marzuqoh, penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM) program S-1 Luar Negeri.
Sayla pun menuturkan, bahwa mamanya, yakni Sri Puji Utama (57) adalah single parent yang membesarkan Sayla sedari SD.
Untuk memenuhi kebutuhannya, Sayla berinisiatif ikut berjualan makanan dan alat tulis ketika SMP di Semarang.
Kemandirian dan kegigihannya selama mengeyam pendidikan pun membuahkan hasil.
Sayla akhirnya diterima sebagai mahasiswa Hongkong University of Science and Technology (HKUST) dengan beasiswa penuh.
Latar belakang keluarnya itulah yang membuat dia berat untuk meninggalkan sang ibunda.
“Mama saya sudah berusia 57 tahun. Memang usia tidak ada yang tahu. Tapi saya berharap mama berumur panjang, hingga saya bisa menyelesaikan studi saya di Hong Kong,” kata Sayla, di Gedung Armina Asrama Haji Boyolali.
Sayla juga mengungkapkan keinginannya untuk bisa memberangkatkan ibunya ke tanah suci.
“Saya pengen setelah empat tahun kuliah di Hongkong, pulang dan mengumrahkan mama,” ujar Sayla.
Mendengar penuturan itu, Kakanwil pun lansung memberikan respon yang menggembirakan.
“Kalau Sayla ingin mamanya umrah, akan saya umrahkan. Setelah musim haji ini,” kata Kakanwil, seperti dirilis kemenag.go.id.
Sontak, Sayla pun menjawab mau. “Terima kasih Pak Kakanwil. Jadi nanti saya tinggal meng’haji’kan mama saya,” kata Sayla terharu.
Sebelum berangkat ke Hongkong, Kakanwil menyampaikan beberapa pesan kepada Sayla.
Kakanwil mendukung sepenuhnya cita-cita Sayla dan mengejarnya dengan penuh semangat.
Kendati demikian, Kakanwil mengingatkan Sayla untuk tidak melupakan identitas ke-Indonesiaan, keislaman, dan kemadrasahan.
“Karena banyak orang di tengah-tengah mengejar cita-cita dan kesuksesannya, mereka lupa asal-usulnya. Ibarat wong kere munggah bale,” tutur Kakanwil.
Menurut Kakanwil, kesuksesan yang sudah diperoleh Sayla bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun harus bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Terakhir, Kakanwil berpesan agar Sayla selalu menjaga salat, mengaji dan berdoa. Untuk itu, Kakanwil memberikan bekal seperangkat alat salat dan Al-Qur’an.
Hadir dalam kesempatan ini, Ketua Tim Kurikulum dan Evaluasi Kanwil Kemenag Jateng Juahir, Ketua Tim Kesiswaan Kanwil Kemenag Jateng Agus Widagdo, dan Kepala MAN 1 Kota Semarang Tasimin, serta Waka Kurikulum MAN 1 Kota Semarang Aris Fakhrudin. (HS-08)