HALO SEMARANG – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengimbau masyarakat Jawa Barat, untuk beradaptasi dan proaktif melakukan mitigasi gempa bumi.
Hal ini karena sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk Garut, Cianjur, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Sukabumi, memiliki sejarah kejadian gempa bumi yang sering terulang sejak 1844.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, melakukan audiensi bersama Penjabat (Pj) Bupati Garut Barnas Adjidin dan BPBD Kabupaten Garut, Minggu (28/4/2024) malam.
Menurut Dwikorita, intensitas gempa bumi di sejumlah wilayah di Jawa Barat itu, juga cukup tinggi, di mana dalam setahun bisa terjadi beberapa kali.
“Jawa Barat memang rentan atau rawan mengalami gempa bumi, sehingga kalau ditanya potensinya ke depan bagaimana, pasti akan terulang bahkan dalam beberapa kali periode setahun dan tahun berikutnya terjadi lagi,” kata Dwikorita, seperti dirilis bmkg.go.id.
Oleh karena itu, menurut dia penting bagi masyarakat untuk beradaptasi terhadap ancaman gempa bumi bagi masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Barat.
Alih-alih melakukan migrasi atau berpindah tempat, mitigasi seperti penyesuaian konstruksi bangunan, menjadi kunci untuk menghadapi potensi gempabumi di masa mendatang.
Di sisi lain, kesadaran akan risiko bencana dan kesiapan dalam menghadapinya, serta menegaskan bahwa tindakan proaktif dan adaptasi yang tepat dapat membantu melindungi masyarakat dari dampak buruk gempa bumi.
Dwikorita juga menjelaskan, berdasarkan data prakiraan cuaca, diprediksi akan terjadi hujan ringan hingga deras di wilayah Jawa Barat.
Potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi dalam rentang waktu tertentu tersebut, memunculkan kekhawatiran akan berdampak signifikan, terutama di wilayah pegunungan seperti Garut dan Cianjur.
Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh kondisi lereng yang rapuh dan rentan terhadap pergerakan tanah, akibat diisi oleh air hujan.
Akibat gempa, pori-pori tanah yang longgar dapat menjadi persoalan.
Kepala BMKG juga menyoroti bahaya potensial dari longsor yang dapat terjadi di wilayah pegunungan.
Timbunan longsor yang terbentuk dapat mengisi alur lembah sungai, menjadi bendungan alami yang menahan laju air hujan.
Namun, jika hujan terus-menerus, hal ini dapat menyebabkan bendungan tersebut roboh atau jebol, mengakibatkan terjadinya banjir dan berpotensi merusak pemukiman serta infrastruktur.
Kondisi ini pernah terjadi di masa lalu, seperti di Garut dan Banten, sehingga perlunya kewaspadaan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap kondisi tanah di wilayah-wilayah rawan longsor dan banjir.
“Yang dikhawatirkan nanti saat masuk musim hujan berikutnya, itu mulai Oktober, November, Desember, dan puncaknya biasanya Desember atau Januari, ini seakan-akan tabungan untuk bencana di musim hujan berikutnya. Tadi sudah disampaikan akan dikoordinasikan, misalnya dengan PUPR, agar bisa melakukan pengecekan ke atas, ke hulu sungai agar dibersihkan,” kata dia. (HS-08).