HALO KENDAL – Anggota Komisi C DPRD Kendal yang terpilih kembali dari Dapil II, Muhammad Tommy Fadlurohman menghadiri Haul KH Qomarudin, yang dikenal sebagai Leluhur Wali dan Masyayikh dari Kaliwungu, yang digelar di Desa Kedungsuren, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kendal, Selasa (23/4/2024).
Kegiatan haul juga dihadiri kepala desa, perangkat desa, para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di Desa Kedungsuren.
“Kahadiran saya dalam acara Haul Kiai Qomarudin kemarin, adalah sebagai bentuk penghormatan dan mengenang perjuangan beliau dalam menyelamatkan dan mempertahankan Kadipaten Kaliwungu,” terang Politisi Partai Golkar yang akrab disapa Gus Tommy tersebut, kepada halosemarang.id, Rabu malam (24/4/2024).
Selain diisi dengan doa kepada para leluhur dan masyayikh yang ada di Desa Kedungsuren, Gus Tommy juga membedah sejarah yang hilang ditelan masa, yaitu sejarah Kadipaten Kaliwungu pada zaman Kanjeng Adipati Kaliwungu, KRT Ronggo Hadi Menggolo, putra dari Ki Ageng Lempuyang, putra dari Panembahan Djoeminah, putra dari Sultan Agung Mataram Islam.
Diceritakan, zaman Mataram Islam dulu, di Kaliwungu pernah ada tokoh bernama Kiai Qomarudin, merupakan pahlawan yang pernah menyelamatkan Kadipaten Kaliwungu, dari pemberontak yang ingin menguasai pusat-pusat pemerintahan Mataram islam.
“Kaliwungu pernah menjadi gerbang Mataram Islam, menjadi pusat pemerintahan dan menjadi salah satu daerah Mataram yang memiliki kemajuan sangat pesat dalam peradaban, ekonomi, budaya dan agama di bawah pimpinan Kanjeng Adipati Kaliwungu,” ujar Gus Tommy.
“Di Kaliwungu juga pernah ada peristiwa yang dikenal dengan Perang Geger Kowek. Yaitu pemberontakan oleh Lurah Kali Putih Boja, yang berkonsiprasi dengan Penghulu Kadipaten Kaliwungu yang bernama Kiai Taman, rumahnya di kampung Setamanan, dan pangeran dari Bugis yang bernama Kiai Kowek,” imbuhnya.
Singkat cerita, lanjut Gus Tommy, Kaliwungu dikuasai oleh pemberontak. Akhirnya Kanjeng Adipati Kaliwungu melarikan diri dan meminta perlindungan dari Bupati Jepara yang bernama Pangeran Citrasoma 4, selaku tangan kanan dari Sultan Mataram Islam kala itu.
“Berangkat dari hal tersebut, Citrasoma yang dikenal dengan nama Panembahan Jiwo Suto, kemudian mengutus anaknya yang bernama Kiai Qomarudin untuk membantu Kanjeng Adipati Kaliwungu menumpas para pemberontak. Alhasil, Kaliwungu bisa direbut kembali oleh Kanjeng Adipati Kaliwungu,” jelasnya.
Gus Tommy menambahkan, atas jasa Kiai Qomarudin dalam membantu menumpas pemberontak, akhirnya dirinya diberi hadiah berupa pangkat sebagai Penghulu di Kadipaten Kaliwungu, menggantikan Kiai Taman yang telah dieksekusi karena penghianatanya terhadap Kanjeng Adipati Kaliwungu.
“Kiai Qomarudin juga berguru kepada Kiai Asy’ari atau Kiai Guru Kaliwungu, dan menjadi murid Thoriqoh Sattariyah, yang melahirkan wali-wali juga tokoh berpengaruh di Kaliwungu. Diantaranya Mbah Wali Musafak dan Kiai Ahmad Rukyat,” imbuhnya.
Sebagai seorang penulis sejarah Babad Kaliwungu, yang juga masih duriyat dari Kiai Qomarudin, Gus Tommy menjelaskan, meski sejarah tersebut sudah hilang dan dilupakan masyarakat, namun demikian masih tercatat di buku Pustaka Darah Agung Tepas Darah Dalem Kraton Ngayogyakarta.
“Kehadiran saya dalam acara Haul Kiai Qomarudin di Desa Kedungsuren dalam rangka membedah dan meluruskan sejarah, bahwa perjuangan Kiai Qomarudin benar adanya, dan beliau dimakamkan di wilayah Desa Kedungsuren,” jelas Gus Tommy.
Ditegaskan, dirinya merasa bertanggung jawab terkait pemaparan nasab dari Kiai Qomarudin, dan sejarah Perang Geger Kowek yang pernah terjadi di Kadipaten Kaliwungu. Bahkan ia berani menjamin kebenaran informasi dengan disertai berbagai bukti otentik terkait perihal sejarah tersebut.
“Akan tetapi, untuk titik makam Kiai Qomarudin, saya kembalikan kepada para sesepuh desa yang lebih tahu. Pasalnya beliau-beliaulah yang selama ini telah merawat dan menjaga makam Kiai Qomarudin dengan baik. Namun secara prinsip keberadaan makam Kiai Qomarudin berada di Desa Kedungsuren,” tandas Gus Tommy.
Sebagai penutup, dirinya mengungkapkan nasab Kiai Qomarudin yang merupakan putra dari Citra Soma 4 dari Citra Soma 2, dari Citra Soma 1 (Jiwo Suto), dari Rekso Jiwo, dari Yudonegoro 3, dari Yudonegoro 2, dari Yudonegoro 1 atau Kimaskerto 1, dari R Wagiyo, dari R Waruju, dari R Pasojo, dari Minak Tinebah, dari Minak Sumbito, dari Prabu Gede Dewo Timur Ing Bali Putra Brawijaya 5.
Selain membedah sejarah dan meluruskan nasab, Gus Tommy juga turut memberikan suport, yaitu berupa wakaf kepada para pengurus makam yang ada di Desa Kedungsuren sebesar Rp 10 Juta, dalam rangka mengawali kegiatan pemugaran makam Kiai Qomarudin ke depannya.
“Hal itu supaya situs makam Kiai Qomarudin yang ada di Desa Kedungsuren menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ada di Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal,” harapnya.
Sementara Ketua Panitia, Sutiyono mengungkapan rasa syukur dan mengucapkan terimakasih kepada Gus Tommy yang telah mendukung dan mensuport masyarakat Desa Kedungsuren untuk memajukan desanya, dalam bentuk pengembangan destinasi wisata religi.
“Semoga dengan adanya pelurusan nasab dan membedah sejarah Kiai Qomarudin di Kedungsuren, bisa membuka mata masyarakat, bahwa Desa Kedungsuren memiliki potensi wisata yang bisa untuk dikembangkan. Yaitu kaitannya dengan destinasi wisata religi,” ungkapnya.
Sedangkan Kiai Zubaidi salah seorang Ulama Desa Kedungsuren menyampaikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Gus Tommy. Dirinya juga berharap ke depannya, pemerintah daerah bisa untuk hadir dalam rangka membantu pengembangan desa wisata religi untuk di Kedungsuren. (HS-06)