in

Seorang Wanita di Semarang Nekat Panjat Tower Setinggi 100 Meter, Alasannya Buat Tes Adrenalin

HALO SEMARANG – Bikin geger, aksi seorang wanita nekat memanjat tower di salah satu kampus perguruan tinggi swasta di Kota Semarang yang berada di Jalan Kaligawe Raya pada Senin (4/2/2024). Wanita yang merupakan salah satu mahasiswi itu nekat memanjat tower setinggi kurang lebih 100 meter dengan alasan untuk uji adrenalin.

“Dia mahasiswa, inisial S, usianya 22 tahun. Alasannya bukan bunuh diri, hanya untuk riset. Tapi riset apa, masih kita lakukan pendataanya,” ujar Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto.

Terlihat, kejadian ini menjadi tontonan banyak orang karena banyak warga yang khawatir akan keselamatan wanita tersebut. Selanjutnya, gadis tersebut diminta turun dan segera dibawa ke mobil ambulans kampus setempat, untuk dilakukan pengecekan dan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.

Kali pertama yang mengetahui kejadian ini adalah petugas keamanan kampus setempat. Saksi itu melihat adanya seorang perempuan memanjat tower, depan Fakultas Kedokteran, sekitar pukul 14.15 WIB. Selanjutnya, disampaikan ke rekan kerjanya, dan dilakukan bujuk rayu supaya turun. Namun tak mendapat respon.

Selanjutnya, kejadian ini dilaporkan ke Polsek Genuk dan diteruskan ke petugas Damkar Kota Semarang guna dilakukan proses evakuasi. Hingga akhirnya, gadis berkerudung tersebut dengan sendirinya turun dengan selamat sekitar pukul 15.15 WIB.

Kasie Penyelamatan, Damkar Kota Semarang, Listyono mengungkapkan, pihaknya mendapatkan laporan tersebut sekitar pukul 14.28 WIB. Kemudian menindaklanjuti pelaporan tersebut dan melakukan penyiapan peralatan.

“Setelah berkoordinasi dengan Polsek Genuk, lalu kami menuju lokasi kejadian. Saat sampai lokasi, orangnya posisi masih di ketinggian sekitar 20-25 meter. Jenis kelami perempuan. Tadi dari saksi awal, sudah manjat sampai di ujung tower, sekitar 100 meter lebih. Terus turun sendiri,” paparnya.

Menurutnya, sesampainya di lokasi dan gadis tersebut belum turun, Listyono bersama anggotanya menghalau orang sekitar untuk tidak teriak-teriak menyuruh turun. Alasannya, dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan terhadap kondisi atau emosional gadis tersebut.

“Jika mendengar teriakan, kalau orang itu dalam kondisi tidak stabil, khawatirnya justru akan loncat. Awalnya mau kita bujuk untuk turun, tapi dia malah turun sendiri,” terangnya.

“Setelah turun, kita tanya, jawabanya hanya mengetes adrenalin saja, sambil tertawa. Jadi kestabilan emosinya juga meragukan. Karena apapun dia harus kita selamatkan,” imbuhnya.(HS)

Program Urban Farming Terus Digenjot, Upaya Kota Semarang Menekan Inflasi

Sebelumnya Minta Dibongkar, Kini Pemkab Kendal Setujui Lahan Parkir di RTH Kaliwungu