DI SEMARANG, tempat kuliner berupa Warung Makan Kepala Manyung Bu Fat sudah dikenal luas terutama bagi pecinta kuliner pedas, dan menjadi salah satu tempat yang legendaris. Sebab, hingga saat ini warung makan Kepala Manyung Bu Fat masih eksis dan selalu dijadikan jujugan masyarakat dari luar Kota Semarang dan sekitarnya. Hal ini terlihat dari penuhnya foto-foto yang terpajang di bagian dinding mulai sosok artis, pejabat dan tokoh nasional yang pernah datang ke warung ini.
Usaha kuliner tersebut merupakan rintisan Bu Fat sejak puluhan tahun lalu. Setelah meninggal tahun 1999 lalu bisnis tersebut saat ini diteruskan oleh anak-anaknya.
Teguh Sutrisno, pemilik Warung Makan Manyung Bu Fat, sekaligus anak yang ke- 6 Bu Fat menjelaskan, bahwa awal mula usaha tersebut dirintis dari warung warisan ibunya yang sudah ada sejak tahun 1969. Saat itu memang belum besar seperti ini, hanya menjual nasi ramesan. Kemudian seiiring berjalan waktu di kampung sebelah ada sentra pengasapan ikan, sehingga diolah menjadi menu masakan mangut. Waktu itu hanya dengan bahan potongan daging yang diasap.
“Selanjutnya ibu saya melihat ada kepala ikan manyung, terus diolah menjadi menu masakan juga, dan ternyata responnya bagus. Hingga sampai sekarang ini,” katanya, saat ditemui di warungnya Jalan Ariloka, Krobokan, Semarang Barat, Kamis (18/1).
Lebih lanjut, dia menambahkan, warung kepala manyung ini menjadi populer seperti sekarang ini, awalnya saat masakan kepala manyung dilombakan tingkat Kota Semarang, terus menjadi juara.
“Tahun 2009 tingkat kota, dan tahun 2011 juga menu kepala manyung dilombakan di tingkat nasional, olahan menu kepala manyung Bu Fat termasuk nominasi yang diambil dari 2 finalis, dan jadi juara 1,” imbuhnya.
Untuk menjaga cita rasanya yang khas, kata dia, tentunya dengan mempertahankan resepnya yang diteruskan oleh kedua kakak perempuannya.
“Sejak SD kakak saya sudah diajari oleh ibu saya. Jadi dari kecil sudah tahu resepnya, itu diwariskan sama kakak-kakak saya. Ibu Fat sendiri sudah almarhum sejak tahun 1999,” jelasnya.
Secara umum, resep dari warisan orangtuanya hampir semua menggunakan rempah- rempah.
“Dan memiliki ciri rasa pedes yang membuat beda dengan yang di tempat lain. Malah jadi pioneer banyak yang mengikutinya, disini punya tastenya sendiri, kalau merasakan di Bu Fat tidak mau berpindah lagi,” paparnya.
Menu yang disediakan selain kepala ikan manyung, ada belut, ikan Sembilang, cumi-cumi, kikil, opor ayam, kikil dan mujair, lele dan lainnya.
Dan saat ini, warung kepala Manyung Bu Fat, sudah memiliki empat cabang di Kota Semarang, yakni pusatnya di Jalan Ariloka, di Jalan Sukun Raya Banyumanik, Ngaliyan (depan LP Kedungpane), dan Jalan Singosari.
“Rata -rata, kalau ramai tiap hari bisa menjual 100 porsi kepala manyung, berbagai ukuran mulai kecil sampai jumbo yang beratnya satu kilo. Kalau disini memang dibuat satu porsi besar, agar bisa dimakan sampai 5 orang sekaligus. Tapi harganya itu memang lebih mahal, kalau dibandingkan ukuran kecil dan sedang,” katanya.
Agar tidak kehabisan stok, dia mengaku memiliki dua supplier untuk mendapatkan bahan ikan manyung.
“Pakai 2 supplier. Kadang kalau kehabisan stok, suppliernya ambil sampai di Indramayu, kalau pas di Demak stoknya sedikit. Bahannya ikan segar kemudian diasap di Demak, selain kepala, ada juga potongan dagingnya,” ujarnya.
Untuk harganya sendiri, menu daging manyung Rp 30 ribu, ikan pari Rp 30 ribu per potong. Lalu, kepala ikan manyung ukuran kecil Rp 100 ribu, ukuran sedang Rp 125 ribu, dan ukuran besar Rp 150 ribu-200 ribu harga ini belum termasuk dengan tambahan nasi. Dan minuman est teh Rp 7000, es jeruk Rp 12.000, jerus tanpa es Rp 10 ribu. Menu lainnya mulai harga Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribuan.
“Sedangkan, untuk jam buka di sini, yakni mulai pukul 08.00 WIB-20.00 WIB,” pungkasnya. (HS-06)