in

Menara Ikonik Versi Baru di Kampung Jawi Semarang, Sekaligus Digunakan Gardu Pandang

Kenampakan bangunan Menara Kampung Jawi versi baru yang dibuat seperti Menara Masjid Kudus, mampu menjadi daya tarik pengunjung dan ikon wisata di Gunungpati, Rabu (10/1/2024).d

SAAT ini di wisata Kampung Jawi, wilayah Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang telah dilengkapi dengan bangunan menara versi baru yang bisa menjadi daya tarik pengunjung.

Bangunan tersebut dibuat sekilas seperti menara Masjid Kudus yang juga bisa sekaligus digunakan sebagai gardu pandang dengan bahan dari batu bata dan kayu.

Bangunan ini menggantikan menara Kampung Jawi yang lama, yang masih terbuat dari susunan anyaman bambu dan sempat roboh diterjang angin kencang beberapa waktu lalu.

Kini adanya menara ini dan penataan tempat duduk serta fasilitas lainnya, jika dibandingkan dengan suasana beberapa tahun lalu, menjadi makin nyaman. Selain itu, keunikan di kampung wisata ini sengaja dikonsep seperti kehidupan masyarakat Jawa zaman Kerajaan Majapahit.

Seperti untuk bertransaksi di Kampung Jawi ini juga terbilang unik, yakni menggunakan alat pembayaran dengan uang kepeng (mata uang) yang terbuat dari kayu. Sebelumnya mata uang ini harus ditukarkan di tempat penukaran di lokasi dengan nilai 1 kepeng senilai Rp 3.000.

Perubahan atau nuansa baru yang lainnya, adalah sekarang sekeliling area Kampung Jawi telah diberi pagar besi karena lokasinya memang berada di tepi sungai. Pengunjung dapat duduk di kursi meja kayu dengan beratapkan anyaman bambu dan daun rumbia.

Suasana makin bertambah syahdu saat bersantai di gazebo mini yang ditemani suara gemericik arus air sungai. Sambil menikmati pemandangan alam pedesaan, pengunjung bisa sembari menikmati kulineran panganan khas tradisional Jawa, yang bisa ditemukan dengan mudah di warung- warung sekitar.

Warung tersebut menyediakan aneka makanan seperti gemblong bakar, tape, gethuk, nasi Pecel. Lalu, beragam minuman mulai es Gempol, kopi klotok, jahe dan jamu jun. Pengunjung akan disambut dengan ramah oleh penjual yang juga warga sekitar Kampung Jawi.

Menariknya lagi, suasana masyarakat tradisional Jawa pun makin kental karena penjual di warung-warung pun dibalut dengan busana tradisional.

Keramaian pengunjung akan terlihat menjelang sore sampai malam hari. Karena jam operasional di Kampung Jawi ini mulai dibuka pukul 16.00- 23.00 WIB.

Sedangkan untuk penerangan saat malam hari dengan menggunakan lampu listrik maupun lampu petromak.

Wisata Kampung Jawi ini sendiri, diresmikan pada tahun 2018 lalu oleh Pemerintah Kota Semarang. Dan menjadi salah satu kampung tematik di Kota Semarang berbasis budaya.

Penggagas wisata Kampung Jawi, Siswanto mengatakan, penggunaan uang kepeng memiliki tujuan sebagai alat tukar barang yang memudahkan pengunjung untuk membeli sekaligus mengajak pengunjung untuk ikut merasakan suasa seperti zaman dulu.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa menjual kembali sisa kepeng yang tidak terpakai dengan nominal rupiah seperti semula.

“Kepeng diperkenalkan bangsa Tionghoa jaman Dinasti Tang bagi para pedagang di tanah Jawa. Tetapi penggunaan yang masif baru terjadi pada jaman Kerajaan Majapahit,” katanya, baru-baru ini.

Nilai Kepeng di Kampung Jawi sendiri relatif terjangkau. Dan harga kuliner pun bervariasi mulai dari 3-4 kepeng. Bahkan, dengan membayar sampai 6 kepeng pengunjung sudah bisa mendapatkan nasi pecel, teh hangat dan es Gempol.

Aalah satu Pengunjung, Lia mengatakan, suasana di Kampung Jawi cocok untuk mengajak keluarga bisa bersantai sambil menikmati kuliner khas tradisional Jawa. Serta pemandangan alam pedesaan yang masih asli. Apalagi sekarang nuansanya baru dengan menara Kampung Jawi yang dibangun baru.

“Harga makanan disini juga terjangkau, dan beragam menu pilihan. Sehingga jadi jujugan masyarakat baik dari warga lokal Semarang dan wilayah sekitarnya,” pungkasnya. (HS-06)

Berantas Knalpot Brong, Polres Kudus Gencar Berikan Edukasi pada Pelajar

Setiap Hari Kunjungan di Perpusda Kendal Mencapai 600 Orang