NAMA sebuah perkampungan di Kota Semarang biasanya diambil dari nama atau toponim yang melingkupi sejarahnya. Begitu juga dengan cikal bakal nama Kampung Kelengan Besar di wilayah Kelurahan Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Nama kampung ini diambil dari nama seorang pejabat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Tuan Klein.
Akses jalan masuk perkampungan itu disambut dengan gapura yang bentuknya mencolok khas tempo dulu berwarna merah putih dengan motif tiang gapura adalah batik. Memasuki jalan ini, nampak sudah menjadi deretan bangunan rumah dan beberapa digunakan untuk toko atau membuka usaha.
Sekarang suasana berubah menjadi padat penduduk sampai berbatasan dengan sebuah kenampakan rumah gedong tua yang dulunya juga dimiliki Tuan Klein sebelum berpindah tangan, yang berada di ujung jalan.
Pemerhati sejarah, Johanes Cristiono dalam video yang diunggah oleh kanal YouTube dengan judul Menelisik Rumah Tertua di Semarang menyatakan, bahwa Kampung Kelengan di Jalan Kelengan Besar Semarang yang berada dekat dengan Pasar Prembaen, diambil dari nama seorang pejabat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Tuan Klein.
“Nama kampung itu memang dari nama Klein, maka lidah Jawa menyebutkan menjadi Kampung Kelengan,” katanya.
“Dulunya gapura ini sampai pelataran rumah pejabat VOC adalah hamparan kebun bunga, luas pekarangannya 4.500 meter persegi, gedung berlantai tiga, saat ini masih dihuni. Sebenarnya masa lalu kira-kira 1700 -an jalan dan kiri dan kanannya adalah hamparan kebun bunga, masa itu,” sambungnya.
Menurut dia, dulunya wilayah dekat Depok tersebut, merupakan tanah Persil Kelengan. Artinya kelas tanah yang menunjukkan suatu letak tanah dalam pembagiannya atau disebut juga blok.
“Entah mulai kapan, pekarangan itu berubah menjadi deretan rumah,” imbuhnya.
Dikatakan dia, dulunya keberadaan kampung ini termasuk bagian dari tanah rumah pejabat VOC ini, yang lalu beralih tangan ke pemuka Tionghoa, yang dikenal juragan Kebon Dalem Be Biauw Tjoan. Sebelumnya rumah ini juga pernah dimiliki seorang saudagar kaya bernama ny. Tan Tjoey Sing.
“Dan ada cerita menarik terkait Persil Kelengan ini, ketika itu putri Be Biauw Tjoan bertamu dengan ibunya ke rumah ny. Tan Tjoey Sing, saat bertamu itu nona Be King Nio melihat seperangkat perhiasan bertahtakan batu permata yang sangat elok sontak merengek kepada ibunya untuk membelikan batu permata itu. Namun Ny.Tan Tjoey Sing tidak ingin menjualnya, bahkan dia tidak butuh uang tetapi tetap saja nona Be King Nio ini merengek. Dan akhirnya pemilik batu permata itu mengalah dan sebagai bayarannya adalah tanah Persil Kelengan dan rumah besar ini dimiliki oleh nona Be King Nio,” katanya.
Saat ini, rumah gedung tua itu masih kokoh berdiri, tidak jauh dari tengah kota Semarang. Bahkan, usianya menurutnya sudah ratusan tahun, lebih tua dari Bangunan bersejarah Cagar Budaya museum Lawang Sewu. (HS-06)