HALO SEMARANG – United Nations Children’s Fund (UNICEF) mencatat angka Stunting atau balita yang mengalami masalah pada pertumbuhan di Provinsi Jawa Tengah berada diurutan nomor 3 dari 10 besar provinsi se- Indonesia yakni ada sebanyak 505.610 balita.
Sedangkan provinsi yang di posisi pertama dengan kasus stunting adalah Provinsi Jawa Barat dengan sebanyak 799.408 balita. Lalu disusul Provinsi Jawa Timur sebanyak 533.225 balita.
“Di Jateng angka stuntingnya tinggi, karena penduduknya juga besar, memang kalau dilihat dari jumlah penduduk porsi yang paling tinggi adalah Jatim. Tapi untuk jumlah balitanya stunting tertinggi di Provinsi Jawa Barat,” papar dr Karina Widowati pemegang program gizi Unicef perwakilan Surabaya, saat memaparkan materinya terkait Strategi Komunikasi Pencegahan Stunting kepada awak media, di Hotel @Hom Semarang, Selasa (19/12/2023).
Menurutnya, sebenarnya selain angka prosentasi terkait prevalensi kasus stunting, yang tak kalah penting yang menjadi perhatian adalah agar bisa mengejar ketertinggalan pertumbuhan balita agar kembali optimal. Salah satu, caranya memberikan sosialisasi yang benar terkait stunting sehingga diikuti dengan perubahan perilaku kebiasaan masyarakat agar paling tidak mengubah pemberian pola makannya dari bahan segar kepada balita.
“Yang tak kalah penting adalah mengejar pertumbuhannya, jika stunting selama enam bulan berturut-turut anak kekurangan gizi, kalau sudah terus menerus yang ditandai dengan berat badan balita kurang dan pertumbuhan tidak optimal. Sekaligus bisa jadi indikator awal, ini warning pertama bahwa kondisi anak kekurangan asupan,”imbuhnya.
Dampaknya, lanjut dia, saat usia 0-24 bulan, balita yang kondisinya kurang gizi berpengaruh pada perkembangan otak si anak.
“Energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan membentuk jaringan otak sangat besar pada rentang waktu tersebut. Ada 2 juta jaringan yang terbentuk tiap harinya saat masa emas itu. Sehingga asupan gizi sangat penting bagi anak agar anak tumbuh kembang dengan baik. Sedangkan usia 6-23 bulan, dimana puncak kebutuhan gizi si anak tinggi, untuk pertumbuhan organ lainnya agar optimal,” ujarnya.
Kadang, kata dia, pola pemberian makanan pada anak juga berdampak pada stunting, karena pemberian makanan tambahan yang tidak tepat. “Padahal, makanan anak tidak sama porsinya dengan orang dewasa, lebih sedikit namun lebih bervariasi dengan menu yang sehat,terdapat kandungan protein, karbohidrat, dan zat vitamin diperoleh dari telur, daging, sayur mayur serta buah buahan,”pungkasnya. (HS-06)