BERADA di posisi seperti sekarang sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Daerah Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Wongsonegoro atau RSWN, bagi dr Eko Krisnarto SPKK tidaklah mudah. Tapi buah dari hasil kerja keras dan pengalaman perjalanan karirnya yang cukup panjang.
Sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di RSWN, dirinya telah menjabat sebagai wakil direktur umum dan keuangan. Dan diberi tugas yaitu mencanangkan rencana strategi bisnis dalam rentang waktu lima tahun untuk pengembangan rumah sakit kebanggaan warga Kota Semarang ini.
“Nah, selama lima tahun itu, tiap tahunnya itu kita memfokuskan di layanan apa, dan apa yang harus ditingkatkan sarana dan prasarananya, serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),” terangnya, baru-baru ini.
Menurut dia, peningkatan kualitas SDM mutlak diperlukan untuk meningkatkan pelayanan rumah sakit. Saat ini, karyawan RSWN total sebanyak 1.536 personel terdiri dari pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan tenaga Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Nah kualitas SDM itu akan mencukupi dari rencana rumah sakit untuk mengembangkan pelayanan prioritas yang digenjot RSWN,” paparnya.
Di sisi lain, pria yang memang separuh karirnya di RSWN dihabiskan d ibidang pelayanan dan manajemen keuangan itu, ingin meningkatkan akuntabilitas rumah sakit.
Hal itu terbukti dengan penghargaan yang didapat berupa Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBSM) yang kemarin diserahkan oleh Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men-PANRB) di Bali.
“Karena ini menjadi rumah sakit tipe B pendidikan, sehingga RSWN dijadikan rujukan rumah sakit tipe C dan D. Kebetulan RSWN itu mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan,” imbuhnya.
Peningkatan pelayanan itu kemudian dibuktikan dengan rencana pembangunan gedung baru, dengan fasilitas khusus penanganan kanker yang memang cukup jarang di rumah sakit di Semarang.
“Sebagai contoh, banyak warga Kota Semarang didiagnosis penyakit kanker dan harus dirujuk di RSDK (Kariadi). Nah di situ itu antrenya lama sekali, bahkan bisa sampai 4 atau 6 bulan baru dilayani. Nah, kami saat ini sedang membangun fasilitas gedung kemoterapi empat lantai. Jadi nanti di sana ada radioterapi,” tuturnya.
Saat ini pihaknya sudah mengajukan untuk lelang dini, sehingga diharapkan tahun depan sudah jadi. Gedung ini sangat bermanfaat ketika pasien kanker harus mendapatkan terapi radioterapi.
Kapasitas pelayanan di RSWN sendiri, kata Eko, dibedakan antara rawat jalan dan rawat inap. Kalau rawat inap yang dihitung adalah tempat tidur atau BOR (Bad Occupancy Rate).
“Dalam 2 bulan terakhir kapasitas BOR antara 75 hingga 82 persen dari 526 tempat tidur. Prosentase ini cukup tinggi. Bahkan, saat ini untuk pelayanan rawat jalan, perharinya mencapai 800 sampai 900 pasien,” tambahnya.
Sementara itu, dia menceritakan terkait perjalanan karirnya hingga menjadi direktur sebuah rumah sakit yang menjadi kebanggaan warga Kota Semarang. Diakui Eko jabatan sebagai direktur tidak lain sebuah amanah atau kepercayaan yang harus diembannya dengan baik.
“Semua itu karena anugerah dari tuhan dan kepercayaan pemerintah Kota Semarang,” ungkapnya.
Eko Krisnarto sendiri, mengawali karir di sebuah Puskesmas di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pernah pula diterima di Rumah Sakit Pertamina Samarinda. Namun, karena alasan keluarga, dia harus pulang ke kampung halamannya.
“Awal karir saya sebagai dokter ditempatkan di sebuah Puskesmas di NTT tahun 1997 sampai tahun 2000,” tuturnya.
Sebelum itu, dirinya pernah juga diterima sebagai dokter kulit di RS Pertamina Balikpapan.
“Tapi karena restu orangtua yang menginginkan saya kembali ke Semarang akhirnya saya tidak jadi bekerja di Balikpapan,” ungkapnya.
Eko kemudian masuk di RSWN tahun 2006, mengawali karir sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin dengan status pegawai fungsional.
“Jadi saya diminta membantu pekerjaan dengan posisi kepala SIM, kepala bagian rawat jalan, sampai bagian jasa pelayanan dan ketua komite mutu serta komite administrasi sampai manager Pavilun Gatot kaca,” ungkapnya.
Selanjutnya, pada tahun 2019 dipercaya menduduki wakil direktur umum dan keuangan.
“Kemudian pada Agustus 2023 saya diangkat sebagai Plt Direktur Utama dan kemudian Oktober kemarin dilantik sebagai direktur utama definitif,” pungkasnya. (HS-06)