in

Penggunaan PLTS Mulai Tumbuh, Pengamat Energi: Pemerintah Perlu Permudah Proses Perizinan

Foto ilustrasi: Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang mulai memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mensuplai kebutuhan listrik di beberapa gedung, baru-baru ini.

HALO SEMARANG – Salah satu kendala tidak tercapainya target pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional, karena belum maksimalnya dukungan infrastruktur (accessibility), harga (affordability), serta persepsi pemerintah dan masyarakat, kemauan menggunakan energi terbarukan yang masih rendah (acceptability). Sebab, hal tersebut sangat penting agar pemanfaatan EBT, bisa tercapai sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah.

Pengamat Kebijakan Publik, Energi dan Lingkungan, Dr Ir Donny Yoesgiantoro, MM, MPA menjelaskan, target bauran energi sampai saat ini belum tercapai karena dipengaruhi beberapa aspek teknis dan non teknis. Misalnya, Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EB-ET)  yang sampai saat ini belum tuntas. Pemerintah menambahkan usulan terkait nilai ekonomi karbon, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), Rumusan Kerja Sama Jaringan (Open Access), dan Penggunaan Dana EB-ET.

Kemudian, energi berbahan fosil juga masih menjadi salah satu pemasukan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau sumber devisa bagi negara.

Terkait dengan EBT yang bersumber dari tenaga surya, dapat dilihat dari beberapa aspek. “Kalau aspek availability atau ketersediaan seperti panas matahari jelas ada karena Indonesia punya daya terik matahari tinggi, yang berada di garis khatulistiwa, jadi tepat apabila mengembangkan EBT, yakni PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Namun harus didukung dengan kemampuan teknologi, karena energi yang bersumber dari panas matahari harus disimpan di baterai” paparnya, Minggu (10/12/2023).

Terkait accessbility, dalam hal infrastuktur PLTS, misalnya akses mendapatkan produk panel surya. Di dalam negeri, PT Wijaya Karya Industri Energi sudah memproduksi panel surya Photovoltaic. Selain itu, kemudahan proses perizinan harus lebih diperhatikan lagi. Selanjutnya adalah dari aspek affordability (keterjangkauan harga). Biaya pemasangan PLTS masih tergolong mahal.  “Kalau saat ini masih dipakai terbatas, oleh perusahaan dan di bandara masih oke. Tapi kalau pemakaian oleh masyarakat luas belum. Karena selain teknologinya belum familiar, juga harus keluarkan biaya lebih untuk bisa memasang panel surya di rumah. Dan terakhir, berkaitan dengan aspek sustainability, atau keberlanjutan program EBT yang akan berdampak pada kelestarian lingkungan kita, nantinya itu harus menjadi perhatian semua pihak,” pungkasnya.

Untuk mendorong tercapainya target pemanfaatan EBT melalui PLTS, salah satunya adalah dengan mengembangkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dikombinasikan dengan PLTS. Sebab, proyeksi pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia hingga tahun 2030 terus meningkat. PLTS dapat dipasang pada struktur atap SPKLU atau bangunan didekatnya. Contohnya adalah pembangunan PLTS dan SPKLU yang telah dilakukan oleh PT Fast Food Indonesia, Tbk. dengan PT Agra Surya Energy dan PT PLN (Persero) di gerai KFC Indonesia. Sejak Oktober 2021 sampai Agustus 2022, PLTS dan SPKLU telah dibangun di 10 lokasi KFC Indonesia.

Pemerintah harus menginisiasi penggunaan EBT di instasi, instalasi, sarana transportasi umum maupun kendaraan dinas, agar pemanfaatan EBT semakin masif. Seperti pengadaan mobil listrik untuk kendaraan dinas, pemasangan PLTS atap di gedung pemerintahan, ataupun pembangunan SPKLU di instasi pemerintah yang ditandem dengan PLTS atap.

Sementara itu, pengembangan PLTS juga dilakukan oleh pihak PT Angkasa Pura I Kantor Cabang Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang yang telah selesai merampungkan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada tanggal 13 November 2023 lalu, yakni dengan rincian sebanyak 186 unit solar PV modul berkapasitas 100 Kilowatt-Peak (KWP) yang dipasang di atap kanopi area parkir Gedung Administrasi dan atap Gedung Main Power House (MPH). PLTS ini mampu menyuplai kebutuhan listrik sejumlah gedung yang ada di area bandara, yakni untuk operasional perkantoran Gedung Administrasi, Gedung Main Power House (MPH), ARFF (Airport Rescue&Fire Fighting), Gedung Terpadu, dan Gedung Airport Convention Center.

“Kami memiliki komitmen untuk mewujudkan operasional bandara yang ramah lingkungan serta dapat memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan. Pembangunan PLTS di bandara ini merupakan langkah konkret dalam penerapan konsep Eco Airport, pemanfaatan Energi Baru Terbarukan, mengurangi emisi karbon dan penggunaan energi bersih secara berkelanjutan,” terang General Manager Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Fajar Purwawidada, baru-baru ini.

Dengan pembangunan PLTS ini semakin memperkuat penerapan konsep Eco Airport di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, karena dalam operasionalnya, bandara ini didukung pula dengan berbagai perangkat utilitas yang mendukung konsep ramah lingkungan seperti lampu LED, penggunaan fitur sleep mode pada perangkat lift, elevator, dan travelator, serta penggunaan kaca bangunan yang mampu mengoptimalkan efisiensi penggunaan pendingin ruangan di dalam area terminal penumpang.

Sejalan dengan Konsep Eco Airport, selain PLTS, Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang juga melakukan aksi penanaman 1000 pohon bersama komunitas dan seluruh stakeholder Bandara dalam rangka memperingati Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia 2023, pada beberapa waktu yang lalu.

Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang juga merupakan salah satu bandara Angkasa Pura I yang berhasil meraih sertifikat Greenship Building Kategori “Gold” dari Green Building Council Indonesia (GBCI) serta merupakan bandara kedua di Indonesia yang berhasil meraih sertifikasi penerapan prinsip lingkungan tersebut.(HS)

Merespon Aduan Warga Anjasmoro Karena Wilayahnya Kerap Banjir, Mbak Ita Temukan Saluran Air Tersumbat

Prabowo: Gagasan Kita yang Terbaik, Bukan Joget Tanpa Gagasan!