in

Beli Melon Golden Di Sini, Pembeli Langsung Petik di Tempat Budi Daya

Inilah melon golden yang ditanam melalui hidroponik di green house, yang berada di Desa Bulugede, Kecamatan Patebon, Kendal.

HALO KENDAL – Pemuda Desa Bulugede, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Didik Kurniawan berhasil mengembangkan wisata petik buah Melon Golden, yang ditanam di lahan sempit melalui budi daya hidroponik di tengah-tengah perkampungan desa.

Saat dijumpai di kediamannya, Dusun Bulugede Kulon, Desa Bulugede, Senin (4/12/2023), Didik mengungkapkan, awalnya ia sempat beberapa kali mencoba menanam melon di area persawahan. Namun hasilnya kurang maksimal, yaitu dalam setahun hanya berhasil panen sekali.

“Dari pengalaman dan kejenuhan inilah, kemudian saya mencoba untuk mengembangkan budidaya dengan cara hidroponik di dalam green house. Saya banyak belajar dengan orang-orang yang sudah membudidaya dan juga belajar dari channel youtube,” ungkapnya.

Didik menjelaskan, green house yang digunakan untuk membudidaya melon, yaitu 8 meter x 27 meter di pekarangan tak jauh dari rumahnya.

Dalam pemasaran selama ini, dirinya mengaku mengandalkan media sosial dan juga dari mulut ke mulut. Para pembeli bisa langsung memetik dan menikmati melon golden di green house.

“Kalau ini panen yang kedua. Jadi para pembeli bisa memetik sendiri kemudian menikmati langsung melonnya di green house kami,” jelas Didik, sambil menunjukkkan hasil panennya kepada awak media.

Sementara untuk panen yang kedua, ia mengaku mendapatkan hasil 1,2 ton dengan harga Rp 20 ribu per kilogram. Untuk masa panen dengan masa petik maksimal selama 70 hari, atau 65 hari sudah bisa dipetik buahnya.

“Rata-rata melon golden di tempat kami itu bobotnya dua sampai tiga kilogram per buah. Jadi pengunjung atau pembeli memetik sendiri, kemudian ditimbang. Bisa dimakan di sini atau dibawa pulang,” ujar Didik.

Saat ditanya apa saja keunggulan dari budidaya melalui hidroponik, dirinya membeberkan, yang pertama lebih mudah dalam mengontrol pemberian pupuk, kemudian pembesaran buah juga gampang dibanding dengan lahan terbuka.

Dipilihnya melon jenis golden, menurut Didik, karena mudah perawatannya dan anti-virus. Kemudian budidaya di green house safety tanaman juga terjamin, salah satunya bisa mengontrol serangan kutu-kutuan.

“Kalau di lahan terbuka, tidak bisa terkontrol itu yang namanya kutu-kutuan. Kalau di green house kan pakai jaring insectnet. Jadi kutu-kutuan bisa terhalang insectnet itu. Kemudian di atasnya ada plastik UV yang menekan sinar ultra-violet,” bebernya.

Meski demikian, Didik mengaku, untuk biaya membuat green house cukup mahal. Dirinya membuat ukuran 8 meter x 27 meter sampai dengan tanam menelan biaya kurang lebih mencapai Rp 60 juta.

“Kalau soal pupuk dan perawatan itu relatif sama. Cuma pembuatan green housenya yang lumayan. Itulah kenapa banyak yang enggan membudidaya dengan cara hidroponik ini, karena soal biayanya. Bahkan ada yang bilang bisa untuk membangun rumah,” ungkapnya lagi.

Didik juga menyebut, penanaman hidroponik melalui green house adalah sebagai bahan percontohan dan edukasi kepada warga sekitar.

Saat disinggung dalam rangka pengembangan budidaya melon golden dengan sistem hidroponik green house, apakah sudah mengajukan ke dinas terkait dalam hal ini Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal. Dirinya mengaku belum pernah mengajukan.

“Ya sudah ada dari dinas terkait datang bersama penyuluh dan menyarankan kepada kami untuk bergabung di kelompok tani. Supaya semua program dari dinas terkait bisa diterima,” jelas Didik.

Meski demikian dirinya berharap bisa mengikuti program dan kebijakan yang ada di Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati mengatakan pihaknya mendukung adanya penanaman sistem hidroponik yang memanfaatkan pekarangan sempit yang ada di rumahnya.

“Hidroponik juga dikenal sebagai budidaya tanaman tanpa tanah, lebih memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media. Dengan memenuhi kebutuhan nutrisi atau unsur hara setiap tanaman dapat tumbuh dengan baik,” ujarnya.

Pandu mengaku, pihaknya siap mendorong para pembudidaya melon golden sistem tanam hidroponik di Dusun Bulugede Kulon, Desa Bulugede, sehingga bisa menjadi wisata petik buah melon.

“Kalau cuma ada satu atau dua yang pake hidroponik, kan kurang menarik untuk wisata. Nanti akan kita cek dan kita survey dulu potensinya bagaimana. Sehingga nantinya bisa dikembangkan menjadi wisata petik buah melon,” imbuhnya. (HS-06)

 

Sosialisasi Rekapitulasi Digitalisasi Surat Masuk dan Keluar Balai Desa Ngemplak

Setelah Jadi Korban Peretasan, Kini Akun Instagram RSUD dr H Soewondo Kendal Sudah Aktif Kembali