in

Inisiasi Revitalisasi “Jogo Toyo Kamulyan”, Danone –AQUA Beri Solusi Kelangkaan Air di Klaten

Kegiatan konservasi sumber daya air yang dilakukan di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS)- Pusur, baru-baru ini.

SEBAGAI perusahaan pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia, Danone-AQUA memiliki komitmen menjaga keberlanjutan sumber air dan menjamin aliran air dapat terdistribusi hingga ke hilir. Sekaligus memberikan keuntungan bagi petani agar tidak lagi kesulitan air mengaliri sawahnya. Dan akhirnya dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Seperti yang dilakukan Danone-AQUA dengan program revitalisasi Jogo Toyo Kamulyan bersama Forum Relawan Irigasi, yakni melakukan pengelolaan jaringan irigasi secara swadaya di sub Daerah Aliran Sungai (DAS) –Pusur. Sungai Pusur merupakan anak Sungai Bengawan Solo yang berhulu di wilayah Desa Sruni Musuk dan bermuara di Desa Boto, Kecamatan Wonosari sampai dengan Desa Serenan Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Panjang hulu hingga hilir sungai ini mencapai 36,8 kilo meter. Sebelumnya di wilayah hilir seluas 300 hektare (53 persen) dari total 569 hektare di tujuh desa Kecamatan Juwiring tidak mendapatkan aliran irigasi. Dengan program Jogo Toya ini membantu petani dalam irigasi lahan pertanian dengan melakukan perbaikan 7.786 meter saluran, 22 pintu air, dan jadwal pembagian air secara online, serta perbaikan pola tanam. Selanjutnya penerapan regeneratif agrikultur, membentuk forum irigasi antar desa yang dilegalisasi melalui peraturan bersama tujuh desa untuk pengelolaan irigasi secara kolaboratif sehingga memberikan solusi dari permasalahan kelangkaan air persawahan di musim kemarau, perawatan jaringan irigasi serta pengendalian banjir di musim hujan.

Selain itu, upaya lain adalah mendorong penerapan pengelolaan irigasi yang sistematis serta efisien di wilayah tengah melalui Forum Relawan Irigasi. Aktivitas forum ini, antara lain mengangkat sedimen dan sampah di saluran primer, sekunder, dan tersier, sehingga aliran air dapat terdistribusi hingga ke hilir, memperbaiki saluran air tersier dan sekunder sepanjang 125 meter serta memperbaiki pintu air yang rusak. Dan mereka juga menerapkan sejumlah strategi agar berjalan baik, antara lain yakni mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan untuk untuk mengurangi polusi air dari bahan kimia seperti pupuk kimia dan pestisida kimia. Serta terus mendorong masyarakat untuk budidaya padi sehat dan hingga memberikan pendampingan pemasaran padi sehat.

Sustainable Development Manager Danone – AQUA, Rama Zakaria, mengatakan, bahwa pengelolaan terintegrasi di daerah aliran sungai merupakan bagian dari komitmen perusahaan sebagai salah satu anggota Koalisi Air Indonesia. Dalam melakukan konservasi sumber daya air, tambah dia, juga berkolaboratif dengan Pusur Institute menjaga kelestarian dan keberlanjutan serta menunjang kebutuhan air di wilayah sepanjang sungai Pusur. Pusur Institute merupakan forum multisektor yang beranggotakan lembaga pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat, perguruan tinggi, pengusaha swasta dan BUMD, kelompok petani, relawan serta tokoh masyarakat. Upaya konservasi itu sekaligus sebagai mitigasi bencana alam seperti banjir, longsor, serta kekeringan.

Kegiatan konservasi pun tersebar di kawasan hulu, tengah, dan hilir Sungai Pusur. Beberapa upaya konservasi yang dilakukan di kawasan hulu Sungai Pusur antara lain, penanaman 141.041 pohon mahoni, suren, sengon, cengkih, durian, kakao, bambu di Desa Sumbung serta budidaya dan produksi kopi Merapi Lestari termasuk pembinaan terhadap Kedai Kopi Merapi Lestari. Tak ketinggalan pula aksi menanam tanaman keras seperti bibit kopi sebanyak 1.500 bibit di Desa Sangup dan sebanyak 2.000 bibit di Desa Mriyan, Tamansari. Tanaman kopi dipilih tidak hanya untuk kepentingan konservasi dan lingkungan tapi juga turut berkontribusi terhadap perekonomian warga setempat.

Kegiatan konservasi lainnya, lanjut Rama, adalah mengembangkan bisnis teh lokal, penanaman dan budidaya tanaman herbal seperti jahe merah dan jahe putih, serta mengenalkan jenis tanaman bernilai penting untuk konservasi dan juga pakan ternak yakni tanaman jenis indigofera. “Nah untuk indigofera ini juga awalnya masyarakat banyak yang tidak tahu manfaatnya. Ternyata bisa untuk pakan ternak, ini sangat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Di Mriyan sendiri, sedikitnya ada 3.000-an tanaman indigofera yang dibudidayakan. indigofera ditanam mengelilingi tanaman pangan terutama di daerah yang kemiringan. Indigofera diketahui mampu mencegah erosi tanah,”terangnya.

Upaya konservasi oleh Danone-AQUA sejalan dengan pengembangan Kecamatan Konservasi Tamansari di Kabupaten Boyolali. “Tamansari merupakan kawasan yang menjadi percontohan atau model bagi desa lain di sekitarnya dalam mengembangkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam aspek sosial dan lingkungan,” paparnya.

Di sektor infrastruktur penyediaan air, Danone – AQUA terlibat dalam pembangunan embung Tirtamulya di Desa Tegalmulya Kemalang Klaten. Embung berkapasitas 10.000 meterkubik itu bisa dimanfaatkan oleh sekitar 1.655 jiwa yang tinggal di Tegalmulya dan sekitarnya. Di sini, Danone – AQUA bermitra dengan Arupa untuk mendampingi warga membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

“Masih di kawasan hulu, untuk meningkatkan ketersediaan air di wilayah ini, upaya konservasi yang dilakukan antara lain pembangunan 70 sumur resapan dan 2.650 lubang biopori juga 930 rorak untuk mengatasi genangan air atau banjir dengan cara meningkatan daya resap air pada tanah, pembuatan instalasi Pemanen Air Hujan (PAH) sebanyak 141 unit, serta mengembangkan Desa Ramah Air Hujan di Desa Pagerjurang, Musuk,”katanya.

Sementara, Kepala Desa Mriyan, Suwardi menjelaskan, bahwa tanaman pohon keras seperti kopi, meski dapat mencegah erosi dan longsor disisi lain memperkecil luasan area tanaman sayuran yang sudah lama menjadi komoditas utama masyarakat.

“Sebenarnya masyarakat sedikit menghadapi dilema karena tanaman kopi, meskipun memiliki nilai ekonomi tinggi, tapi akhirnya menggerus sebagian lahan yang biasa ditanami sayuran. Jadi yang bisa dilakukan dari konservasi ini adalah menanam kopi di tepi-tepi ladang atau tanaman kopi sebagai pembatas lahan,” terang Suwandi, baru-baru ini.

Meskipun dilematis, namun masyarakat sudah cukup peduli terhadap kebutuhan konservasi karena ini untuk kepentingan jangka panjang.

“Masyarakat di sini sudah merasakan manfaatnya, dalam beberapa tahun terakhir yang namanya bencana alam terutama tanah longsor, sudah jarang terjadi,”ujarnya.

Salah satu petani, Mitro adanya , perbaikan saluran irigasi dan pengelolaan sumber air memberikan keuntungan bagi dirinya dan petani lainnya.

“Karena petani tidak lagi mengalami kelangkaan air untuk sawah pertanian terutama musim kemarau, jadi kalau dulu, otomatis pengairan tergantung musim, sekarang bisa menanam padi tidak takut lagi kekeringan di sawah saya,”katanya.

Senada dengan petani lainnya, Slamet mengaku adanya program Danone –AQUA memberikan dampak positif, terutama dari hasil pertanian yang meningkat. Dirinya berharap kegiatan yang dilakukan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sekitar. “Semoga, kedepan terus berjalan program yang sangat membantu petani untuk meningkatkan produksi pertanian. Selain itu juga bisa berdampak pada perekonomian warga dan bisa menjaga lingkungan alam sekitar agar tidak rusak,”pungkasnya. (HS-06)

Kendalikan Usaha Tambang, Pemprov Jateng Siapkan Perda Pengelolaan Pertambangan Mineral

Keakraban Prabowo dengan Keluarga Raffi Ahmad