HALO REMBANG – Ada banyak cara bagi orang Indonesia, untuk menghargai keberagaman dan bersikap toleran kepada orang lain yang berbeda.
Itu pula yang ditunjukkan oleh warga yang datang untuk menikmati kopi dan makanan di Warung Jing Hai, di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.
Sepintas warung yang berdiri di kawasan Pecinan ini tak ada beda dengan warung-warung lain pada umumnya.
Bangunannya bukan sebuah restoran atau kafe mewah, melainkan hanya warung sederhana dengan dinding sebagian masih berupa batu-bata tanpa diplester.
Menu yang dijual pun, tak beda dengan warung-warung sejenis, seperti kopi, teh, beragam minuman dalam sachet, serta aneka makanan.
Namun demikian, yang membuat warung ini unik adalah pengunjungnya. Sebagai tempat makan yang berdiri di kawasan Pecinan, tentu banyak warga keturunan Tionghoa yang menjadi pelanggannya.
Namun demikian orang dari suku Jawa pun banyak yang datang untuk sekadar makan dan ngobrol.
Pelanggan warung ini juga berasal dari warga dengan beragam agama serta keyakinan.
Tak hanya warga nonmuslim, para santri dari berbagai pondok pesantren di Lasem pun banyak yang datang.
Hadirnya pelanggan yang berasal dari beragam kalangan ini, membuat warung Jing Hai ini kemudian mendapat julukan sebagai Warkop Toleransi.
Di tempat itu, semua pelanggan dapat menikmati minuman sederhana seperti kopi, susu, jahe, teh, dan nasi, serta ketan, dalam kerukunan serta keakraban, menggambarkan dijunjung tingginya semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Haris, warga Desa Karangturi, seperti dirilis rembangkab.go.id mengaku hampir tiap hari ngopi di warkop Jinghai.
Karena itulah dia memahami betul, bahwa walaupun pelanggan tak pernah ada yang memasalahkan asal usul suku, agama, ras, dan golongan.
“Kalau di sini udah sama semua. Mau santri, Jawa, Tionghoa, nggak ada bedanya,” kata dia.
Penuturan senada juga disampaikan Jinghai (51), sang pemilik warkop. Dia mengatakan pelanggan yang datang dari beragam etnis dan agama, semuanya membaur.
“Yang datang ke sini macem- macem, ya cina, jawa santri- santri juga banyak. Semua membaur jadi satu, sampai- sampai dapat julukan warung toleransi, ” tuturnya.
Menurut Jinghai, warung ini sebenarnya meneruskan usaha dari ayahnya. Namun kemudian diberi nama Jinghai agar unik dan orang tidak kesulitan untuk mencari.
“Kalau nama warung ini saya ambil dari nama saya saja, Jinghai. Biar gampang dikenal , orang mencari tidak terlalu sulit, ” kata Jinghai, yang juga punya nama Karjin ini.
Untuk jam buka, Jing hai mengatakan warkopnya mulai buka pukul 04.00 WIB dini hari, dan baru tutup sekitar pukul 17.00 WIB. Namun khusus Kamis dan Minggu, hanya akan buka setengah hari.
Warungnya juga selalu ramai oleh para pekerja, terutama pada siang hari. Pada jam istirahat, di warkop ini banyak dijumpai pekerja yang sedang ngopi dan makan siang. (HS-08)