in

Bermalam di Kendal, Bhikkhu Asal Cirebon Bercerita Perjalanan Ritual Thudong

Bhante Kantadhamo Wawan, salah satu Bhikkhu asal Indonesia yang mengikuti ritual Thudong, saat ditemui didampingi pendeta Gereja Santo Antonius Padua Kendal, Sabtu malam (27/5/2023).

HALO KENDAL – Mulai tanggal 23 Maret 2023 lalu, para Bhikkhu, Biksu, atau yang familiar disapa Bhante dari berbagai negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia memulai ritual dengan berjalan kaki, atau yang biasa disebut dengan ritual Thudong.

Perjalanan yang ditempuh selama berbulan-bulan, hingga para Bhante sampai pada titik terakhir pada tanggal 31 Mei 2023, di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, untuk menghadiri perayaan Hari Raya Waisak 2023 atau 25667 BE.

Saat melintas di Kabupaten Kendal, Sabtu (27/5/2023), 32 Bhikkhu/Biksu/Bante menyempatkan untuk berkunjung di kantor Kecamatan Weleri, kemudian berlanjut mengunjungi PT Industri Gula Nusantara di Cepiring, berikutnya singgah di kantor PCNU Kendal, dan bermalam di Gereja Santo Antonius Padua Kendal.

Rencananya mereka akan melanjutkan perjalanan Minggu (28/5/2023) pagi menuju Kota Semarang.

Kepada awak media, salah satu Bhante asal Cirebon yang telah belajar di Vihara Hutan di Thailand, Bhante Kantadhamo Wawan menyampaikan, apa yang dilakukannya bersama dengan Bhante dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia dengan berjalan kaki atau Thudong menuju Candi Borobudur Magelang, adalah membawa misi Toleransi Antar-Umat Beragama.

Menurutnya, selama Thudong, hal yang paling berkesan disampaikan para Bhikkhu/Biksu/Bhante adalah saat mereka berada di Indonesia.

“Dan selama perjalanan dari Bekasi menuju Kota Kendal ini, pokoknya semua luar biasa. Ini yang kita inginkan,” jelasnya saat ditemui di Gereja Santo Antonius Padua Kendal.

Di mana menurut Bhante Wawan, wajah-wajah Indonesia yang sesungguhnya telah mereka temui. Wajah-wajah lama yang sempat memudar, kini mulai terlihat kembali.

“Jadi mereka (warga) benar-benar welcome dan ramah terhadap kita. Tidak memikirkan dan tidak terbersit membedakan ras atau agama,” ungkapnya.

Bahkan, Bhante Wawan mengaku, saat akan berangkat ke Thailand, ia sempat bertemu dengan Habib Luthfi. Menurutnya Habib Luthfi meminta kepadanya, saat nanti melaksanakan Thudong di Indonesi, supaya bersama mampir di kediaman Habib Luthfi.

“Ya saya sempat bertemu dengan beliau (Habib Luthfi) di Cirebon, beliau sempat bilang kepada saya. Bhante saya tau, mau ada Thudong dari Thailand ke Indonesia kan, tolong mampir ke tempat kami. Itu ucapan beliau kepada saya,” ungkapnya.

Namun Bhante Wawan mengaku, saat itu menjawab kepada Habib Luthfi, jika dirinya tidak akan mampir. Rupanya jawaban tersebut dianggap serius oleh Habib Luthfi.

“Kemudian beliau (Habib Luthfi) bertanya kepada saya. Loh kenapa? kemudian saya jawab, saya tidak akan mampir, tapi saya akan bermalam. Sontak beliau langsung peluk saya dan bilang, saya tunggu,” ujarnya.

Bukan cuma itu, Bhante Wawan juga menyebut, jika Habib Luthfi sempat menimpali candaannya dengan gurauan dan bilang, “Ingat ya kalau nggak mampir saya datang ke Cirebon, akan saya cari Bhante, saya akan bantai Bhante”.

“Ya saya dan beliau biasa bergurau seperti itulah. Jadi kami sangat akrab,” ujarnya.

Bhante Wawan juga menceritakan, selama melakukan Thudong, dirinya bersama Bante lainnya sempat mampir ke beberapa vihara dan kelenteng, juga di pondok pesantren. Dan sekarang giliran di Gereja Katholik di Kendal.

“Sebenarnya kita sudah bisa masuk Borobudur dan kita sudah bisa Namaskara (sujud menghormat), tapi karena tekad dari Bhikkhu Thudong ini, dari awal sampai titik akhir itu, kita punya tekad harus mampir, dan harus sampai,” jelasnya.

Sehingga lanjut Bhante Wawan, karena dari pihak Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur dan dari Bupati Magelang telah membuat susunan acara terlebih dahulu, terkait acara penyambutan dan sebagainya, jadi diminta untuk hadir tanggal 1 Juni 2023.

Selain membawa misi Toleransi Antar-Umat Beragama, lanjut Bhante Wawan yang juga sebagai penggas, ritual Thudong bertujuan untuk memperkenalkan kepada dunia luar, bahwa di Indonesia banyak cagar budaya yang benar-benar Buddhis.

Kemudian, imbuhnya, para Bhikkhu/Biksu/Bhante rata-rata belum pernah ke Borobudur, hanya ada satu yang pernah. Jadi menurutnya yang lain belum mengetahui perayaan Waisak di Indonesia seperti apa.

Terkait lamanya waktu perjalanan, menurutnya setiap masuk di suatu negara, mempunyai batas waktu hanya 30 hari. Jadi sebelum 30 hari semua harus diusahakan keluar dari negara tersebut. “Waktu di Malaysia, kita juga dapat waktu 30 hari. Jadi kita usahakan sebelum 30 hari, harus keluar dari Malaysia. Sama di Indonesia juga,” terang Bhante Wawan.

“Jadi untuk tanggal 4 Juni 2023 kita ambil momen Waisak, malamnya kita harus sudah di Jakarta, tanggal 5 Juni 2023 harus ngepakin barang-barang, kemudian tanggal 6 Juni 2023 harus keluar dari Indonesia,” imbuhnya.

Sementara terkait makanan dan minuman, Bhante Wawan menjelaskan, para Bhikkhu/Biksu/Bhante dalam menjalankan Thudong, ada waktu makan dan minum dari pagi hingga pukul 12.00 siang saja.

“Jadi kayak gini, sebagai seorang Bhikkhu apalagi kita Bhikkhu Theravada, kita hanya boleh makan mulai pagi hingga pukul 12.00, setelah itu tidak boleh makan sampai besok pagi. Tapi ada juga seorang Bhikkhu yang makan hanya sekali, misal pagi hari saja, siang nggak makan, dan ada yang makan dua kali. Itu pilihan saja,” jelasnya.

“Ada juga pantangan, setelah pukul 12.00, kita boleh minum, tapi tidak boleh yang mengandung susu atau kacang-kacangan,” imbuh Bhante Wawan.

Ia juga mengungkapkan, saat ritual Thudong di beberapa negara, mulai dari Thailand, kemudian Malaysia dan Indonesia, sambutan paling banyak dan berkesan adalah Indonesia.

“Para Bhikkhu ketika saya tanya bagaimana sambutan tiap-tiap warga negara, dan bagaimana dengan sambutan warga Indonesia, masing-masing tidak bisa menjawab, tapi sambil nangis-nangis saking terharu dan merasa dihormati,” tandas Bhante Wawan.

Sedangkan terkait kekuatan stamina para Bhikkhu, dirinya menjelaskan, tidak ada jamu atau kekuatan khusus apapun yang dapat menguatkan stamina mereka saat menjalani Thudong ribuan kilometer.

“Saya kasih kuncinya. Kita akui di hari pertama semua otot-otot terasa kaku saat diajak jalan jauh. Kemudian hari kedua, pikiran kita sudah mulai ngawur. Ada yang punya pikiran ngapain ya kita ikut, mending enakan di rumah, atau kenapa gak ikut mobil saja. Itu kacau. Dan hari ketiga, kita harus bisa ngatasi,” ujarnya.

“Jadi biasanya kita meditasi. Ini kan jalan termasuk meditasi, lewat keluar-masuk napas. Saat pikiran kita ngawur, kita masuk meditasi lagi. Biasanya kita pakai kata saat melangkah dan nyebarin meta kasih-sayang tapi sifatnya universal,” imbuh Bhante Wawan.

Sedangkan terkait kendala yang dihadapi, dirinya mengaku, yaitu faktor cuaca ekstrem. Di mana menurutnya cuaca panas hingga mencapai 40 derajat. “Itu ekstrem banget, saya sampai mimisan,” pungkasnya.(HS)

Kemenkes Pastikan Keamanan Makanan dan Hunian Jemaah Haji di Arab Saudi

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitarnya, Minggu (28/5/2023)