in

250 Seniman Tampil di Pentas Musik di Sragen, Bupati: Bukan Sekadar Hiburan

Pentas Musik Daerah 2026, yang digelar di halaman Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK), Minggu (31/5/2026). (Foto : sragenkab.go.id)

 

HALO SRAGEN – Sebanyak 250 seniman dari berbagai kelompok seni tradisional, memeriahkan Pentas Musik Daerah 2026, yang digelar di halaman Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK), Minggu (31/5/2026).

Acara ini menjadi ruang ekspresi sekaligus penguatan identitas budaya Kabupaten Sragen melalui seni musik tradisional.

Pentas yang diikuti 10 kelompok seni tersebut, menampilkan beragam kesenian daerah, mulai dari musik bambu, keroncong, kenthongan, gejlog lesung, hingga karawitan.

Ragam pertunjukan itu menghadirkan suasana khas yang memperlihatkan kekayaan tradisi musik di Kabupaten Sragen.

Sejumlah kelompok seni turut tampil dalam gelaran tersebut, di antaranya Musik Bambu Pungsari, Keroncong Tunas Kenanga, Keroncong Legend Family, dan Ensamble Stone (musik batu).

Ada juga Keroncong Deworejo, Gejlog Lesung Subur Budaya, Musik Kenthongan Guno Tengoro, Lesung Tayub Tancep, Karawitan Margo Laras, dan Karawitan Bromastra.

Masing-masing kelompok menghadirkan karakter dan kekhasan tersendiri dalam penampilannya.

Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, dalam sambutanya mengatakan pentas musik daerah bukan sekadar ruang hiburan, melainkan bagian dari identitas yang harus terus dijaga oleh masyarakat Sragen.

“Pentas seni musik ini bukan sekadar hiburan, ini adalah identitas kita sebagai orang Jawa. Kabupaten Sragen kaya dengan berbagai budaya yang harus diuri-uri sehingga terus hidup dalam kehidupan masyarakat,” kata dia, seperti dirilis sragenkab.go.id.

Menurutnya, seni budaya memiliki makna yang jauh lebih dalam karena di dalamnya tersimpan nilai kehidupan yang diwariskan lintas generasi.

“Dalam pentas budaya ini kita menitipkan pesan tentang sopan santun, hormat pada orang tua, gotong royong, harapan masa depan, dan sejarah,” lanjutnya.

Dari sisi kebudayaan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Purwanti, menyebut tema “Suara Bumi, Martabat Jiwa” sebagai pengingat pentingnya mengangkat kembali seni tradisional sebagai fondasi identitas bangsa.

Ia menilai, seni tradisional bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi bagian dari kehidupan yang masih melekat di masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.

“Sragen dikenal memiliki banyak nilai kearifan lokal yang masih hidup, salah satunya musik tradisional yang digunakan dalam berbagai upacara adat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini juga menjadi ruang apresiasi dan regenerasi seni agar tetap dikenal oleh generasi muda.

“Tujuannya adalah mengapresiasi musik tradisional, memberi ruang kreasi, dan menjaga agar seni ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman,” tambahnya. (HS-08)

 

 

Digelar Pertama Kali, Sragen Festival Hadirkan Seni, Olahraga hingga Kreativitas Anak Muda

Jelang Wajib Halal 18 Oktober 2026, 300 UMKM di Cilacap Dapatkan Sosialisasi