in

Haul Sayid Dahlan Kendal, Disebut Sebagai Mahaguru Ulama Nusantara

KH Asro'i Tohir saat menyampaikan riwayat Sayid Hasan Kendal, yang merupakan mahaguru para ulama Nusantara, dalam acara Haul 1 Abad Sayid Hasan Kendal, di pemakaman umum Grabag, Jumat (29/12/2023).

HALO KENDAL – Sayid Hasan bin Shodaqoh bin Zaini Dahlan yang kemudian lebih dikenal dengan Sayid Hasan Kendal merupakan mahaguru para ulama Nusantara. Hal itu terungkap saat wakil dari keluarga besar Sang Mahaguru membacakan riwayat singkatnya, dalam acara Haul 1 Abad Sayid Hasan Kendal, di pemakaman umum Grabag, Jumat (29/12/2023).

KH Asro’i Tohir yang merupakan suami dari cucu murid sohibul haul, saat membacakan riwayat, mengungkapkan pertemuannya dengan Hj Hanifah (salah satu dari keturunan Sayid Hasan) yang kemudian sepakat untuk menggelar haul akbar.

“Ini memang haul akbar Sayid Hasan Kendal yang pertama kalinya digelar. Selama ini pihak keluarga sebenarnya selalu menggelar haul secara terpisah, karena keluarga Bani Sayid Hasan terpencar di berbagai daerah. Alhamdulillah saat ini keluarga bisa menggelar haul satu abad secara bersama-sama, dan semua ngumpul di Makam Grabag Kendal,” ungkapnya.

Asro’i Tohir pun pun lantas menceritakan riwayat singkat Sayid Hasan Kendal yang datang langsung dari Makkah ke Nusantara pada awal tahun 1900-an dengan perjalanan yang luar biasa sulit. Namun menurutnya, dengan semangat lii’lai kalimatillah (menegakkan kalimat Allah), maka tidak ada kata sulit dan berat bagi Sayid Hasan untuk berdakwah.

“Pertama kali datang di Bumi Nusantara, Sayid Hasan tinggal di Jambi. Setelah beberapa waktu di Jambi, Sayid Hasan pun pindah ke Sulawesi. Tak lama di Sulawesi, Sayid Hasan pun meneruskan perjalanan dakwahnya di Kendal yang kemudian menetap sampai akhir hayat di Kendal,” bebernya.

Asro’i Tohir juga menyebut, Sayid Hasan memiliki tiga putra. Yaitu putra pertama bernama Sayid Haidar Dahlan yang juga santri dari Hadrotusyeh Hasyim Asy’ari, tinggal di Lasem. Putra kedua Sayid Shodaqoh tinggal di Garut, kemudian putra ketiga Sayid Zaini Dahlan yang kemudian kembali ke Makkah dan menjadi guru besar pengembang madzhab Syafii, mengikuti adik dari kakeknya.

“Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan yang lebih dulu jadi ulama besar di Makkah yang juga guru para ulama besar Nusantara. Menurut riwayat yang disusun salah satu murid Sayid Hasan, yaitu KH Abdul Khoir (Kaliwugu Kendal), tiada hari-hari Sayid Hasan tanpa mengajar,” ujarnya.

Meski dulu belum ada tunjagan profesi, lanjut Asro’i Tohir, namun semangat Sayid Hasan dalam mengajar luar biasa, dan hanya mencari ridho Allah SWT.

“Saat di Kendal, Sayid Hasan tinggal di dekat sebuah madrasah di sebelah utara Masjid Agung Kendal sehingga banyak muridnya yang kemudian jadi tokoh di Kabupaten Kendal,” imbuhnya.

Asro’i Tohir kembali memaparkan beberapa murid Sayid Hasan yang menjadi ulama besar di Kendal. Yang pertama adalah KH Abdul Khamid Kendal. Dikatakan, KH Abdul Khamid adalah penyusun Kitab Jawahirul Asani yang merupakan Syarah dari Kitab Manaqib Syeh Abdul Qodir Jaelani. Buku ini diterbitkan di Mesir.

Yang kedua adalah KH Hiysam, pengarang Kitab Ma’rifaturrahman dan penerjemah Kitab Nadhom Darori karya Wali Hadi Kendal yang dicetak di Bombay, India. Kemudian murid ketiga adalah KH Abdurahman Husein yang dikesal sebagai sastrawan kendal, pernah menjabat Rois Syuriah (kedua) NU Kendal, dan pengarang Kitab Khoirotun Chisan (cetak di Banten).

Sedangkan murid yaitu KH Abdul Khoir bin KH Abdul Mannan, pengasuh Pondok Pesantren Sarean, Kaliwungu, Kendal yang menulis 33 buah kitab, antara lain Kitab Almuannaq Syarah Sulam Munawaroq dan Durotun Nadhidah.

“Jadi, sejak dulu sebenarnya para ulama kita sudah banyak yang mendunia alias go international. Karena itu, kita pun jangan sampai ketinggalan untuk mengikuti jejak beliau,” papar Asro’i Tohir.

Sebagai penutup dirinya juga berpesan kepada yang hadir pada acara haul tersebut untuk terus merawat dan nguri-uri tradisi baik tersebut, yaitu haul untuk para ulama.

“Sebab, kita semua bisa seperti ini karena juga berkat jasa dan perjuangan para ulama. Masa sih, kita punya ulama sebesar itu, yang sangat besar jasanya bagi negeri ini, kita biarkan saja tidak kita kenang dan peringati haulnya,” tandas Asro’i Tohir. (HS-06).

Lantik 21 Pejabat Fungsional Kesehatan, Pj Bupati Cilacap Singgung Izin Mendagri

Peduli Kesehatan Warga, Gerindra Kendal Gelar Baksos di Pegandon