in

1.022 Hektare Area Tanaman Padi di Kendal Tergenang Air

Area persawahan di Kendal yang tergenang air.

HALO KENDAL – Seribu hektare lebih area persawahan di sejumlah desa yang berada di enam kecamatan di Kabupaten Kendal, baik pertanaman maupun persemaian padi tergenang air akibat curah hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari belakangan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati kepada halosemarang.id, Jumat (5/1/2024).

Dipaparkan, jumlah area pertanaman padi yang tergenang meliputi, Kecamatan Patebon, Kecamatan Rowosari, Kecamatan Kendal, Kecamatan Brangsong, Kecamatan Cepiring, dan Kecamatan Kangkung.

Adapun beberapa desa di Kecamatan Patebon yang area pertanaman terdampak, meliputi Desa Bangunrejo, Desa Sukolilan dan Desa Purwokerto, dengan total 203 hektare.

“Selanjutnya, di Desa Sendang Sikucing, Kecamatan Rowosari dengan total luas tanam 285 hektare yang tergenang,” papar Pandu.

Sementara di Kecamatan Kendal dan Kecamatan Brangsong, area petanaman padi yang tergenang, yaitu di Kelurahan Sijeruk, Kelurahan Jetis, Kelurahan Jotang, Kelurahan Banyutowo, Desa Sidorejo, Desa Tosari dan Desa Turunrejo, dengan total luas tanam 259 hektare.

Kemudian, di Kecamatan Cepiring dan Kecamatan Kangkung, yang tergenang yaitu di Desa Juwiring, Desa Kaliayu, Desa Kalirandugede, Desa Korowelang Anyar, Desa Margorejo dan Desa Sendangkulon dengan total luas tanam 275 hektare.

“Total keseluruhan luas pertanaman padi yang tergenang di Kecamatan Patebon, Rowosari, Kendal, Brangsong, Cepiring dan Kangkung seluas 1.022 hektare dengan jumlah status terkena 19 hektare dan puso 20 hektare,” papar Pandu.

Sedangkan untuk area persawahan persemaian padi yang tergenang, lanjutnya, yaitu di Desa Purwosari, Kecamatan Patebon. Kemudian Desa Kaliayu, Desa Kalirandugede, Desa Korowelang Anyar, dan Desa Margorejo di Kecamatan Cepiring.

“Akan kita sampaikan kepada pemerintah pusat untuk tanaman padi yang terkena puso, supaya mendapatkan bantuan benih padi. Karena hanya pemerintah pusat yang memiliki bantuan cadangan benih sebagai pengganti tanaman padi yang terkena puso,” ungkap Pandu.

Meski begitu pihaknya berharap, bagi petani yang tanaman padinya terkena puso, tidak usah menunggu bantuan benih dari pemerintah pusat, tetapi harus swadaya dulu membeli benih padi sendiri.

“Ya karena realisasi bantuan dari pemerintah pusat itu kan butuh proses waktu yang lama, bisa satu atau dua bulan. Maka seandainya nanti bantuan benih dari pusat itu turun, bisa digunakan untuk musim tanam berikutnya,” harap Pandu.

Sementara, salah seorang petani di Desa Sukolilan, Kecamatan Patebon, Munadirin mengungkapkan, area persawahan di desanya sudah biasa terendam banjir setiap kali musim hujan.

“Karena saluran air tersumbat dan kondisi sungainya juga sudah terlalu dangkal. Oleh karena itu, kami berharap kepada pemerintah, supaya bisa segera dilakukan normalisasi sungai dengan pengerukan yang sudah lama dangkal,” ungkapnya.(HS)

Lantik Dua Kades Pergantian Antar-Waktu, Bupati Kendal: Pemimpin Harus Bisa Menjawab Tantangan Zaman

Jalani Latihan Perdana Usai Libur Nataru, Skuad PSIS Belum Lengkap