HALO PEKALONGAN – Tradisi warga membuka rumah dan menyajikan makanan bagi siapa saja yang datang, masih terus hidup di Kota Pekalongan.
Tradisi yang dikenal dengan sebutan Pasar Jajan tersebut, menjadi salah satu bentuk kearifan lokal, yang mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan keramahan masyarakat.
Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid menyampaikan, dalam tradisi Pasar Jajan, baik warga maupun tamu yang datang, sudah dikenal maupun belum, dipersilakan untuk mampir dan menikmati hidangan yang telah disediakan.
Tradisi ini menunjukkan kuatnya budaya berbagi dan rasa kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat Kota Pekalongan.
“Pasar Jajan ini merupakan salah satu kearifan lokal yang masih hidup di Kota Pekalongan. Siapa saja yang datang dipersilakan mampir dan menikmati makanan yang disediakan warga,” kata dia, seperti dirilis pekalongankota.go.id.
Wali Kota Aaf menjelaskan, tradisi tersebut konon berkaitan dengan kebiasaan masyarakat pada masa perjuangan kemerdekaan.
Ketika sebagian warga berjuang di medan perang, masyarakat yang berada di rumah turut mengambil peran dengan menyediakan makanan bagi para pejuang yang pulang agar dapat memulihkan tenaga.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, hingga kini masih diteruskan oleh masyarakat Kota Pekalongan. Pelaksanaannya pun dapat ditemui di berbagai lingkungan, mulai dari tingkat kampung, RT, RW, hingga kelurahan.
“Ini bagian dari budaya kita yang perlu terus dijaga dan dilestarikan,” kata dia.
Di dalam tradisi ini, menurut dia ada semangat gotong royong, kebersamaan, dan keramahan warga.
“Dengan terus dilestarikannya Pasar Jajan, kami berharap nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya dapat tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat serta memperkuat kebersamaan di Kota Batik,” kata dia. (HS-08)


