in

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang: Waspadai Penyakit Pasca-Rob

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Wahyoe "Liluk" Winarto.

HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Wahyoe “Liluk” Winarto mengingatkan masyarakat terdampak rob di pesisir Kota Semarang, untuk mewaspadai penyakit pasca-rob.

Hal itu dikatakannya, setelah dia memperoleh laporan adanya warga di wilayah terdampak rob mengalami masalah penyakit kulit, seperti gatal-gatal di kaki serta penyakit lain setelah rumahnya terendam rob selama beberapa hari.

“Kami berharap Dinas Kesehatan Kota Semarang dan jajaran di puskesmas untuk memberikan pendampingan terhadap warga akan dampak penyakit pasca-rob. Selain bantuan kebutuhan pokok, kebutuhan pelayanan kesehatan juga diperlukan oleh warga,” katanya, Minggu (29/5/2022).

Dikatakan, pemerintah juga diharapkan segera mengambil langkah penanganan untuk mengatasi masalah rob yang kerap menggenangi wilayah pesisir Kota Semarang. Koordinasi lintas sektoral diperlukan, untuk penanganan masalah klasik ini.

“Pemkot Semarang juga perlu membahas persoalan rob dan dampaknya tersebut, dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Karena masalah rob ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah saja, karena dampaknya juga terjadi di wilayah pesisir Jawa Tengah. Seperti Demak, Kendal, Pekalongan, dan Rembang. Jadi penanganannya harus komprehensif,” katanya.

Sebagai informasi, banjir rob di kawasan permukiman Pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang sudah mulai surut. Kendati demikian, persoalan kesehatan bagi warga terdampak berdatangan. Warga terdampak mulai merasakan gangguan kesehatan seperti gatal-gatal hingga penyakit yang harus mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.

“Sebagian masyarakat sudah mulai merasakan gatal-gatal di kaki, dan masuk angin,” kata Dwi Setiawan, warga Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utaras, Sabtu (28/5/2022).

Menurutnya, saat banjir rob melanda selama sepekan, masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan dari Puskesmas setempat. Ketinggian air di kampungnya bervariasi, mulai sebetis hingga sedada orang dewasa, atau sekitar 1,5 meter. Kondisi itu membuat warga terisolir dari bantuan.

Meskipun banjir rob di Kampung Tambaklorok sudah surut, pihaknya membutuhkan pelayanan kesehatan untuk mengetahui kondisi masyarakat pascabanjir air laut. “Termasuk obat-obatan dan vitamin untuk warga,” terangnya.(Advetorial-HS)

Gara-gara Hoaks Menara Masjid Sriwedari Hendak Ambruk, Pengunjung CFD Solo Berhamburan, Pedagang Rugi

Berikan Rasa Aman pada Wisatawan, Polsek Mlonggo Patroli di Pantai Sasak Jepara