HALO SEMARANG – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menghentikan siaran televisi analog untuk beralih ke siaran digital atau Analog Switch Off (ASO) pada 2 November 2022. Untuk dapat menyaksikan siaran televisi digital tersebut masyarakat harus menyiapkan perangkat pendukung berupa set top box (STB).
Di Kota Semarang sendiri, penyaluran STB gratis dilakukan pada akhir Oktober 2022, sebelum ASO diberlakukan yaitu sebanyak 16 ribu unit. Diberikan dari Kominfo kepada masyarakat yang terdata di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Kepala Dinad Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Kota Semarang, Soenarto menjelaskan, terkait siaran televisi digital program pusat, yakni ASO, Diskominfo melakukan berbagai persiapan yang perlu dipenuhi baik teknis dan non teknis.
“Pada 2 November titik puncak pemberlakuan ASO, tentunya persiapan kami terkait penyaluran bantuan STB dari pusat untuk disampaikan ke masyarakat penerima manfaat.
Adapun pendataan penerima bantuan gratis STB dari Kominfo, kata dia, adalah data kependudukan, lalu diserahkan ke dinas pendudukan kab/kota, dan tapem, kecamatan, kelurahan. Kemudian sampai validasi terakhir di tingkat RT/RW, bahwa data penerima bantuan tersebut masih valid masuk dalam salah satu kriteria atau indikator miskin,” terangnya.
Indikator penerima manfaat STB gratis, lanjut dia, adalah masyarakat yang masih memakai televisi tabung, kemudian data dari kota dikirimkan kembali ke pusat.
“Awalnya validasi yang diajukan ada 38 ribu penerima manfaat, lalu dibuatkan SK Wali Kota oleh bagian Tapem, dikirim kembali ke Kominfo. Namun akhirnya turunnya sebanyak 16 ribu unit, dari pengajuan sebanyak 38 ribu STB. Sebanyak 16 ribu STB itu kemudian diturunkan ke konsultan untuk turun langsung ke daerah guna memberikan ke user. Dan pemasangan STB juga difasilitasi kementerian komunikasi dan informatika,” paparnya.
Penyaluran STB gratis ini dilaksanakan awal Oktober 2022 sampai rampung akhir Oktober. “Dari sisi keunggulan penggunaan TV digital tergantung kekuatan sinyalnya, karena kalau tidak ada sinyal atau jaringannya terganggu, tidak bisa nangkap siaran. Jika ditarik di Kota Semarang ini diuntungkan karena punya topografi berupa perbukitan, dan pesisir. Sehingga saat masih pakai analog, beberapa daerah sulit dapat sinyal,” imbuhnya.
Keuntungan yang lain, dengan televisi digital akan lebih banyak pilihan channel, sampai 40 channel. “Dan bisa memacu adanya stasiun baru lainnya untuk membuat siaran yang berkualitas. Kemudian siaran gambarnya lebih jernih dan suara juga bersih,” paparnya.
Di dalam siaran televisi digital ini yang terpenting lagi adanya Early Warning System (EWS), yang bisa mendeteksi potensi kejadian bencana alam seperti banjir dan tsunami.
“Keunggulannya EWS ini mendeteksi potensi kejadian bencana di Kota Semarang. Khususnya saat pancaroba, potensi banjir, dan rob. DPU penghitungan debit air sungai, namun masih belum bisa dimanfaatkan optimal. Terkait dari data prediksi cuaca BMKG dan lainnya, dari hasil evaluasi memang belum tersosialisasikan ke masyarakat. Sehingga untuk optimalkan EWS ini, pemkot kembangkan tools untuk pantau banjir, nantinya dengan mengambil data-data dari dinas terkait seperti BPBD, PU dalam hal terhadap potensi genangan banjir dan debit air sungai, serta BBWS,” pungkasnya.(HS)