JELANG kelanjutan Liga 2 Pegadaian Championship 2025/2026 yang tak ramah di awal musim, PSIS memilih satu jalan yang penuh perhitungan, menghadirkan pengalaman.
Laskar Mahesa Jenar resmi memperkenalkan tiga rekrutan anyar berstatus pemain naturalisasi, Esteban Vizcarra, Alberto Goncalves, dan Otavio Dutra. Ketiganya bukan nama baru di sepak bola Indonesia. Mereka datang bukan membawa janji kosong, melainkan jejak panjang karier dan kematangan yang tak bisa diajarkan dalam latihan singkat.
Esteban Vizcarra, 39 tahun, adalah sosok yang akrab dengan gemuruh stadion-stadion Tanah Air. Pemain kelahiran Argentina yang mengantongi paspor Indonesia sejak 2018 itu dikenal sebagai sayap kiri sekaligus gelandang serang dengan visi bermain matang. Dari Persib Bandung, Sriwijaya FC, Madura United, PSS Sleman, hingga terakhir Persela Lamongan, Vizcarra tumbuh bersama kerasnya kompetisi Indonesia.
Di sisi lain, Otavio Dutra membawa ketegasan dari lini belakang. Bek senior berusia 42 tahun kelahiran Brasil itu telah menjadi Warga Negara Indonesia sejak 2019. Namanya tercatat sebagai salah satu bek paling berpengalaman di Liga Indonesia, dengan perjalanan panjang bersama Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Madura United, PSBS Biak, hingga Persela Lamongan.
Dua pemain ini datang dengan satu tujuan: membantu PSIS menemukan kembali ritmenya.
“Esteban Vizcarra dan Otavio Dutra kami datangkan untuk memperbaiki performa PSIS di kompetisi Pegadaian Championship musim ini. Kualitas dan pengalaman mereka sangat kami butuhkan dan kami yakin dengan kemampuan yang mereka miliki,” ujar Asisten Manajer PSIS Semarang, Reza.
Namun Vizcarra dan Dutra bukanlah cerita tunggal. Sebelumnya, PSIS lebih dulu mengumumkan kedatangan Alberto Goncalves, striker naturalisasi yang namanya nyaris identik dengan kata ‘gol’. Beto, sapaan akrabnya, datang sebagai penyerang gaek, tapi pengalamannya jauh dari usang.
Persipura Jayapura, Sriwijaya FC, Madura United, hingga Persela Lamongan pernah menjadi saksi ketajamannya. Kini, di usia yang tak lagi muda, 44 tahun, pemain kelahiran Brasil tersebut membawa satu hal yang tak ternilai, naluri mencetak gol dan mental pemenang.
“Harapannya, sosok Beto bisa memberi kontribusi nyata untuk PSIS dengan pengalaman dan kemampuan yang dia miliki,” kata Reza.
Dengan bergabungnya Vizcarra, Beto, dan Dutra, PSIS kini memiliki tiga pemain naturalisasi senior dalam skuad. Bukan sekadar penambah kuantitas, tetapi suntikan kepemimpinan di ruang ganti, ketenangan di lapangan, dan referensi bagi pemain muda.
Di sepak bola, usia memang tak bisa dilawan. Tapi pengalaman sering kali menjadi pembeda. PSIS tampaknya sadar betul akan hal itu. Di sisa musim yang krusial, Mahesa Jenar memilih bertaruh pada mereka yang sudah kenyang asam garam kompetisi.
Kini, harapan itu kembali berdenyut. Di kaki Vizcarra, di kepala Dutra, dan di insting gol Alberto Goncalves. Waktu akan menjawab, tapi satu hal pasti, PSIS sedang mencoba bangkit, dengan cara yang paling masuk akal, belajar dari mereka yang sudah pernah melewati segalanya.(HS)


