in

Torehkan Rekor MURI, Pesparawi Nasional XIV Jadi Kiblat Gerakan Ramah Lingkungan

Acara Penyerahan Rekor MURI Pesparawi Nasional XIV di Papua Barat ( Foto : Humas Dirjen Bimas Kristen / kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, berakhir. Tak sekadar sukses sebagai ajang seni paduan suara terbesar di Indonesia, kegiatan ini juga mencatatkan rekor MURI, sebagai festival keagamaan dengan jumlah delegasi terbanyak yang secara konsisten menggunakan tumbler atau botol minum pakai ulang.

Penghargaan ini diserahkan perwakilan MURI kepada Dirjen Bimas Kristen, pada malam penutupan Pesparawi. Ikut menyaksikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa pencapaian ini bukan sekadar mengejar angka, melainkan implementasi nyata dari misi besar Kementerian Agama dalam membumikan “Ekoteologi”. Baginya, menjaga lingkungan adalah bentuk ibadah yang wajib diwujudkan dalam perilaku nyata.

“Spiritualitas yang otentik harus berbanding lurus dengan tanggung jawab menjaga alam. Rekor MURI ini adalah simbol kolaborasi lebih dari 6.000 peserta yang telah berhasil membangun kesadaran kolektif untuk berhenti menggunakan plastik sekali pakai,” ujar Menag, seperti dirilis kemenag.go.id pada Senin (29/6/2026).

Menurut Menag, inisiatif ini merupakan bukti bahwa kegiatan berskala besar dapat diselenggarakan dengan cara-cara yang ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan visi “Indonesia Asri” yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, yang mendorong terciptanya budaya hidup bersih, hijau, dan berkelanjutan dari lingkup terkecil.

Menag memberikan pesan khusus agar semangat menjaga kelestarian alam yang dimulai di Tanah Papua tidak berhenti saat perhelatan usai. Ia berharap ribuan peserta dari 38 provinsi yang hadir dapat menjadi duta perubahan di daerah masing-masing.

“Saya berharap kebiasaan baik ini tidak ditinggalkan di Manokwari. Bawa pulang semangat ini, tularkan kepada jemaat dan masyarakat di daerah asal saudara. Jadikan ini sebagai gaya hidup baru dalam pelayanan kita kepada Tuhan dan sesama,” tegasnya.

Rekor MURI ini kini menjadi warisan berharga dari Pesparawi XIV. Keberhasilan ini membuktikan bahwa harmoni pujian kepada Tuhan dapat bersinergi sempurna dengan harmoni dalam menjaga alam ciptaan-Nya.

Penggunaan tumbler menjadi langkah kecil yang berdampak besar dalam menjaga masa depan lingkungan Indonesia.

Kementerian Agama berharap gelombang kesadaran lingkungan yang lahir dari Papua Barat dapat menginspirasi seluruh satuan kerja dan organisasi keagamaan di tanah air untuk mulai membenahi pola konsumsi menjadi lebih ramah lingkungan, demi keberlangsungan bumi bagi generasi mendatang.

Menggerakkan Ekonomi

Ketua Harian Panitia Pesparawi Nasional XIV, Jacob Fonataba, mengatakan Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, telah ikut menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi lokal.

Perhelatan yang berlangsung selama sebelas hari ini, memberi multiplier effect yang signifikan, menyentuh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelaku UMKM hingga penyedia jasa transportasi.

Jacob Fonataba, menyampaikan bahwa kehadiran ribuan peserta, ofisial, dan pengunjung dari 38 provinsi di tanah air telah menciptakan lonjakan aktivitas ekonomi yang luar biasa di Kabupaten Manokwari.

“Perhelatan ini bukan sekadar ajang seni dan pemuliaan Tuhan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Hampir seluruh sektor, mulai dari UMKM, katering, hingga sektor transportasi, merasakan dampak positif dari mobilitas tinggi para tamu kita,” ungkap Jacob, Minggu (28/06/2026).

Salah satu sektor yang paling bergairah adalah jasa transportasi wisata. Jacob mencontohkan tingginya minat peserta untuk mengunjungi destinasi ikonik seperti Pulau Mansinam yang mendongkrak pendapatan pemilik perahu motor tradisional.

“Banyak peserta yang ingin menikmati keindahan bahari kita. Ini membawa berkah tersendiri bagi para pengemudi perahu yang melayani penyeberangan wisata,” tambahnya.

Di sisi lain, pelaku ekonomi kreatif dan pengrajin lokal turut menikmati manisnya perputaran uang selama kegiatan. Berbagai gerai pameran yang disediakan panitia diserbu peserta dan pengunjung yang berburu produk lokal, mulai dari busana khas, suvenir, hingga atribut Pesparawi sebagai buah tangan.

Dampak ekonomi yang luas ini juga dirasakan oleh pelaku jasa lainnya, termasuk penyedia katering, ojek daring dan pangkalan, kafe, hingga petugas parkir yang mencatatkan peningkatan pendapatan harian yang signifikan.

Jacob berharap, kesuksesan ini menjadi modal optimisme bagi Papua Barat untuk terus berani dan mampu menjadi tuan rumah bagi berbagai kegiatan berskala nasional lainnya.

“Momentum ini telah membuktikan bahwa Manokwari siap menjadi pusat destinasi kegiatan nasional. Kami berharap keberhasilan ini menjadi pemantik bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus pintu pembuka untuk lebih memperkenalkan potensi wisata dan budaya Papua Barat kepada masyarakat luas,” kata Jacob. (HS-08)

 

 

Jadi Juara Umum Pesparawi Nasional XIV, Sulawesi Utara Bawa Pulang Piala Presiden dan Menteri Agama

Ekonomi Makin Tertekan, Legislator Ini Minta Pemerintah Optimalkan Satgas Antisipasi Gelombang PHK