
HALO SEMARANG – Tiga anggota milisi Mai-Mai Apha Na Pale di Kongo menyerahkan menyerahkan diri kepada Batalyon Gerak Cepat Satgas TNI XXXIX-C/Monusco pimpinan Mayor Inf Tommy Patria Herlambang SE.
Anggota kelompok milisi ini menyerahkan berikut dengan senjatanya berupa empat pucuk AK-47, 5 buah Magazen, 2 unit HT merk Rony, dan 13 butir amunisi kaliber 7.62 x 39 mm.
Dalam keterangan resminya, seperti dirilis TNI.mil.id, Senin (31/5), Puspen TNI menyampaikan penyerahan diri tiga anggota milili tersebut dilakukan di Desa Lulimba, Republik Demokratis Kongo, Jumat (28/5) lalu.
Sebelumnya, Edmond Lyalu, Community Liaison Assistants (CLA), menerima informasi dari Salumu (Focal Point), bahwa ada tiga anggota milisi Mai-Mai Apha na Pale pimpinan Ramka, yang ingin menyerahkan diri kepada Monusco.
Setelah menerima informasi tersebut, Mayor Tommy berangkat menuju Desa Lulimba, yang berjarak 60 Km Barat Laut Bendera, untuk menelusuri terkait informasi yang di sampaikan oleh Focal Point. Sesampainya di lokasi melaksanakan koordinasi dengan Ramka pimpinan Apha Na Pale kemudian menerima penyerahan diri beserta senjatanya.
Para milisi mengatakan bahwa mereka sudah lelah, karena keluar masuk hutan dalam kondisi kekurangan makan dan sering dikejar oleh tentara lokal. Mereka diburu karena sering melakukan kejahatan yang merugikan masyarakat sekitar desa tersebut.
“Monusco dalam hal ini akan merehabilitasi para mantan milisi, dengan memberikan kehidupan yang layak, lapangan pekerjaan, membekali mereka keterampilan, untuk memperbaiki kehidupan ke depannya,” kata Mayor Tommy.
Satgas BGC juga terus melaksanakan kegiatan Civil Military Coordination (Cimic) dan Long Range Mission (LRM), sehingga mampu menarik milisi di sekitar wilayah tersebut untuk menyerahkan diri.
Selanjutnya, tiga milisi dan persenjataan yang dimilikinya, akan diserahkan kepada Disarmament Demobilization Repatriation Reintegration Resettlement (DDRRR) untuk dilaksanakan proses sesuai ketentuan UN.
Sementara itu seperti dilansir Wikipedia, Monusco atau Mission de l’Organisation des Nations unies pour la stabilisation en République démocratique du Congo (Bahasa Perancis) atau United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo, merupakan misi stabilisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Demokratik Kongo.
TNI merupakan bagian dari pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Demokratik Kongo. Pasukan perdamaian ini didirikan oleh Dewan Keamanan PBB, dalam resolusi-resolusi 1279 (1999) dan 1291 (2000), untuk memantau proses perdamaian Perang Kongo Kedua.
Selain Indonesia, sejumlah negarajuga mengerahkan personel militernya. Negara-negara itu antara lain Bangladesh, Belgia, Benin, Bolivia, Bosnia dan Herzegovina, Brasil, Burkina Faso, Kamerun, Kanada, Tiongkok, Pantai Gading, Republik Ceko, Mesir, Prancis, Ghana, Guatemala, India, Irlandis, Yordania, Kenya, Malawi, Malaysia, Mali, Mongolia, Maroko, Nepal, Niger, Nigeria, Pakistan, Paraguay, dan Peru.
Selain itu juga Polandia, Rumania, Federasi Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Sri Lanka, Swedia, Swiss, Tunisia, Ukraina, Britania Raya, Republik Bersatu Tanzania, Amerika Serikat, Uruguay, Yaman dan Zambia.
Sejumlah negara juga mengirimkan personel kepolisiannya, yakni dari Bangladesh, Benin, Brasil, Burkina Faso, Kamerun, Chad, Mesir, Prancis, Ghana, Guinea, India, Yordania, Madagaskar, Mali, Niger, Nigeria, Rumania, Federasi Rusia, Senegal, Swedia, Swiss, Togo, Tunisia, Turki, Ukraina, dan Yaman. (HS-08)