HALO JEPARA – Ribuan masyarakat Kabupaten Jepara antusias menyambut kedatangan piala Adipura Kencana. Penyambutan meriah tampak di tiap sisi jalan yang dilalui kirab trofi itu. Rutenya mulai Balai Desa Gedangan, Kecamatan Welahan, menuju Pendopo Kartini di kompleks kantor bupati, Rabu (1/3/2023).
Kitab tersebut diawali dengan serah terima piala Adipura Kencana, dari Penjabat Bupati Jepara Edy Supriyanta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Farikhah Elida, didampingi Kepala Dinas Perhubungan Trisno Santoso selaku komandan arak-arakan.
Untuk diketahui, sehari sebelumnya, piala tersebut diserahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, di auditorium Gedung Manggala Wanabakti, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Penjabat Bupati Jepara, Edy Supriyanta menjadi satu-satunya kepala daerah dari Jateng yang menerima penghargaan kategori tertinggi itu.
Adapun secara nasional, selain Jepara, ada empat daerah lain yang menerima Adipura Kencana, yang Kota Bontang dan Balikpapan dari Provinsi Kalimantan Timur, Kota Bitung Sulawesi Utara, serta Kota Surabaya Jawa Timur.
Capaian yang telah dinantikan selama 15 tahun tersebut, menurut Edy Supriyanta, merupakan buah dari kerja keras seluruh lapisan masyarakat, atas kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan.
Ia menilai jika penghargaan itu merupakan amanah. Oleh karena itu, Edy mengajak agar bersama-sama menjaga dan menjadikannya budaya.
“Tidak sekadar seremoni, tapi habis ini semuanya kompak, disiplin untuk mempertahankan Adipura Kencana,” kata dia.
Pada seremoni melepas prosesi kirab, Penjabat Bupati Edy Supriyanta turut didampingi jajaran Forkopimda serta para pimpinan perangkat daerah.
Selain bersyukur atas capaian tersebut, Edy juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat atas semangatnya menciptakan lingkungan bersih dan sehat.
Kolektivitas atas komitmen ini ke depan harapannya senantiasa ditingkatkan.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruhnya. Ini wujud kerja keras kita bersama, kado keberhasilan masyarakat Jepara dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” ujarnya.
Hasil ini, lanjut dia, menggenapi total torehan sebelumnya dan menjadi 16 piala Adipura. Bedanya kali ini meraih kategori lebih tinggi, yakni Adipura Kencana. “Tahun-tahun sebelumnya Kabupaten Jepara juga telah meraih Adipura sebanyak 15 kali, dan 14 di antaranya diraih secara berturut-turut,” terangnya.
Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, Farikhah Elida mengakui pada penilaian Adipura terus mengalami peningkatan dan persaingan ketat dari tahun ke tahun.
Termasuk mencukupi seluruh persyaratan demi mencapai peringkat ini, antara lain mempunyai dokumen kebijakan strategis daerah (jakstrada) untuk pengelolaan sampah.
Dikatakan dia, Jepara sudah memilikinya sejak tahun 2019, dan selalu diperbarui setiap tahun.
“Jepara secara kontinu meng-update dokumen jakstrada ini,” kata Elida.
Prasyarat lain adalah pengelolaan tempat pemrosesan akhir sampah atau TPA. Fasilitas yang berada di Desa Bandengan ini, telah menerapkan sistem pengelolaan sampah dengan metode sanitary landfill.
“Ini merupakan sistem pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah,” terangnya.
Demikian halnya dengan gas metana yang dihasilkan dari TPA itu. Kini, ada 60 rumah tangga sekitar yang menikmati gas tersebut untuk keperluan memasak sehari-hari.
“Aktivitas ini sudah berlangsung sejak tahun 2019,” kata dia.
Penilaian Adipura, lanjut Kepala DLH, juga menyasar pada pengelolaan sampah orgranik. Di mana Bank Sampah Induk Jepara sudah berinovasi dengan itu, melalui budi daya maggot atau larva lalat hitam untuk pakan ternak.
Kemudian, ada pusat daur ulang (PDU) di Kecamatan Kalinyamatan. Selain pusat daur ulang di Kecamatan Kalinyamatan, lanjut Elida, Jepara juga mempunyai PDU di Kecamatan Karimunjawa.
“Di sana (Kalinyamatan, red) sudah ada pusat daur ulang yang melayani 11 dari 12 desa di kecamatan itu. Di sana juga sudah ada fasilitas tempat pengolahan sampah terpadu,” tuturnya.
Penentu lain, ialah telah dimilikinya ruang terbuka hijau. Ditambah adanya inovasi Jemput Sampah Terpilah atau Jepapah, sebagai pengganti tempat penampungan sementara atau TPS yang direlokasi. Kemudian, Jepara pun sudah mempunyai desa mandiri sampah. Yaitu Desa Suwawal Timur, Keling, dan Jugo. Selanjutnya akan disusul lima desa yang kini tengah berproses menjadi desa mandiri sampah.
Pada penganugerahan tersebut, sepuluh kabupaten dan kota lain dari Jateng mendapat trofi Adipura saja. Kemudian empat daerah menerima sertifikat Adipura, dan satu memperoleh pelakat TPS dengan konsep 3 R. (HS-08)