HALO SEMARANG – Delegasi Parlemen Eropa yang dipimpin Ketua Komite HAM, Arkadiusz Mularczyk, mengungkapkan kekaguman atas cara Indonesia merawat kerukunan dan keberagaman masyarakat.
Pernyataan itu dia sampaikan saat berkunjung ke Masjid Istiqlal, bersama rombongan, belum lama ini. Kehadiran delegasi tersebut disambut langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Kunjungan yang dikoordinasikan oleh 5P Europe Foundation dan 5P Global Movement ini, bertujuan memperkuat kerja sama Uni Eropa dan Indonesia, khususnya di bidang kebudayaan, pendidikan, serta program pertukaran pelajar.
Dalam kesempatan itu, Mularczyk menyampaikan apresiasi atas kekayaan budaya Indonesia dan menyoroti Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol toleransi.
“Kami terkesan dengan warisan budaya luhur Indonesia. Semoga ke depan kita dapat bekerja sama membangun masa depan yang lebih baik bagi masyarakat,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Indonesia senantiasa menjunjung tinggi prinsip hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama.
“Kami terus mendorong upaya menjaga kerukunan, antara lain melalui dialog antaragama secara rutin dan festival kerukunan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” jelasnya.
Menag juga menyinggung sejarah pembangunan Masjid Istiqlal sebagai simbol kerukunan lintas iman.
“Arsitek Masjid Istiqlal adalah Friedrich Silaban, seorang Kristen. Ini bukti nyata bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bersatu membangun bangsa,” ungkapnya.
Pada akhir pertemuan, Menag menyampaikan harapannya agar kerja sama Indonesia–Uni Eropa semakin erat ke depan.
“Semoga pertemuan ini menjadi fondasi memperkuat kolaborasi yang sudah ada. Lebih dari itu, kami berharap semangat kerukunan umat beragama yang dijunjung tinggi di negara masing-masing dapat menular dan memperkuat ikatan antarbangsa,” kata dia.
Prakarsa Soekarno
Untuk diketahui, Masjid Istiqlal merupakan satu bangunan ikonik, selain Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat (Jakpus) yang merupakan karya Friedrich Silaban.
Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912 silam, Friedrich Silaban ini menjadi salah satu arsitek kesayangan Presiden Soekarno saat itu.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Pemerintah Kota Jakarta Pusat melalui laman resmi pusat.jakarta.go.id, Kiprah Friedrich Silaban dalam pembangunan Masjid Istiqlal ini berawal dari prakarsa Presiden Soekarno, yang menyelenggarakan sayembara desain pada tahun 1955.
Sebagai seorang arsitek, kesempatan ini tak dilewatkan Silaban, pangilan akrab Friedrich Silaban.
Apalagi saat itu, momen Sayembara ini menjadi ajang bergengsi di kalangan arsitek pada zaman itu, tak terkecuali Silaban, meskipun dia seorang Kristiani.
Tercatat, ada 30 arsitek saat itu yang mengikuti sayembara. Namun karya desain berjudul “Ketuhanan” milik Silaban lah yang dipilih Presiden Soekarno sebagai pemenangnya.
Dalam hal selera seni, Presiden Soekarno tidak mempersoalkan mengenai latar belakang Silaban.
Baginya persoalan keyakinan Silaban bukan masalah berarti. Terbukti Masjid Istiqlal resmi dibangun pada tahun 1961. Proses pembuatannya pun memakan waktu selama 17 tahun. Masjid Istiqlal resmi digunakan pada 22 Februari 1978. (HS-08)