in

Temukan Tiga Kasus, Dinkes Kendal Laksanakan Screening Leptospirosis

Ilustrasi Waspada Leptospirosis.

HALO KENDAL – Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kendal sudah ada tiga kasus penularan penyakit leptospirosis di wilayahnya, yaitu Desa Gondoharum, Kecamatan Pageruyung, Desa Montongsari, Weleri dan Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon.

Hal itu membuat Dinas Kesehatan Kendal bersama Puskesmas Patebon 2 mengadakan screening kasus leptospirosis di Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon di bulan Februari 2025 ini.

Kegiatan screening dibagi 4 pos, yang masing-masing pos ditangani oleh satu orang dokter, perawat, dan analis kesehatan. Kegiatan ini bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia (Patelki) Kendal.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang penyebarannya bisa melalui air kencing hewan, seperti tikus.

Gejala utama leptospirosis adalah demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, dan mata merah. Gejala ini mirip dengan flu, namun jika tidak diobati dengan tepat, leptospirosis dapat menyebabkan kerusakan organ dalam, bahkan mengancam nyawa.

Subkor Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kendal, Bambang Wiryawan mengatakan, dipilihnya Desa Kebonharjo ini, karena ada satu warga yang positif Leptospirosis.

“Kegiatan skrining leptospirosis, karena di Desa Kebonharjo, Patebon sudah ditemukan satu warga yang positif,” ujarnya, Senin (24/2/2025).

Bambang menjelaskan, Desa Kebonharjo juga merupakan wilayah terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu, sehingga dimungkinkan banyak tikus pembawa bakteri Leptospirosis yang berkeliaran di sekitar wilayah tersebut.

“Jadi bila ditemukan ada warga yang mengalami tanda-tanda seperti gejala leptospirosis, supaya segera dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan yang intensif, jangan sampai terlambat,” jelasnya

Sementara Masruroh, selaku Pengelola Program Leptospirosis Dinas Kesehatan Kendal mengatakan, tiap pos menyasar 25 orang, sehingga total sebanyak 100 orang.

“Tiap orang diperiksa tekanan darahnya dan diambil sampel darah. Skrining ini hanya dilaksanakan di Desa Kebonharjo saja,” ujarnya.

Sedangkan Asmui, petugas dari puskesmas menjelaskan, kegiatan screening meliputi pemeriksaan tekanan darah dan tes darah.

“Selain itu, juga dilakukan skrining tentang lingkungan. Skrining lingkungan ini untuk mengetahui apakah rumahnya kena banjir dan ada hewan, terutama tikus yang masuk rumah,” jelasnya.(HS)

Program P2L Akpol Semarang Bisa Jadi Role Model Ketahanan Pangan

17,9 Juta Pemudik Diprediksi Masuk Jateng pada Lebaran 2025, Pemprov Optimalkan Perbaikan Jalan