HALO TEMANGGUNG – Puskesmas Jumo Kebupaten Temanggung, membuka kelas sosialisasi dan diskusi mengenai balita stunting, yang dinamakan Kelas Balita Stunting (Kelanting), di aula Puskesmas Jumo dan Balai Desa Gedongsari, Kamis-Jumat (16-17/3/2023).
Petugas Gizi Puskesmas Jumo, Indah Ari Astuti menjelaskan, bahwa Kelanting merupakan salah satu inovasi dari Puskesmas Jumo, dalam rangka penanganan dan penanggulangan stunting.
Dia mengatakan pihaknya memperoleh data stunting, dari hasil penimbangan bayi di posyandu.
Hasil penimbangan itu, beserta data tinggi badan, kemudian dimasukkan ke aplikasi Sigizi Terpadu atau biasa disebut elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
Aplikasi itu kemudian akan mengolah data tersebut, dan kemudian memberikan hasil apakah bayi bersangkutan normal, pendek, atau sangat pendek.
“Berdasar data itu, yang kita undang ke Puskesmas untuk mengikuti Kelas Balita Stunting,” ungkapnya.
Balita stunted merupakan sebutan dari balita dengan panjang atau tinggi badan yang menurut standar baku WHO, dikatakan pendek atau sangat pendek.
Setelah dilakukan sortasi, terdapat 60 balita stunted, yang orang tuanya diundang untuk mengikuti Kelanting.
Dalam kegiatan tersebut, diberikan materi tentang pemantauan pertumbuhan anak, karena Pemkab Temanggung sedang mengoptimalkan agar ibu balita dapat memanfaatkan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dengan sebaik-baiknya, dengan cara membaca progres gizi anak yang tertulis dalam grafik.
Selain terdapat informasi nilai gizi anak, buku KIA juga menyajikan informasi dan tips untuk kesehatan ibu maupun anak.
“Selain itu tadi, juga menyampaikan tentang pemberian makan bayi dan balita. Jadi sejak pemberian ASI eksklusif mulai 6 bulan diberikan makanan pendamping ASI, itu jenisnya apa saja, kemudian frekuensinya sehari berapa kali, jenis dan bentuk makanannya seperti apa, agar si ibu lebih paham cara memberikan MPASInya,” jelas Ari.
Salah satu penyebab terjadinya stunted, karena pada saat pemberian MPASI kandungannya tidak sesuai standar. Banyak kasus dari ibu, anak ataupun balita yang memberikan makanan pendamping dengan nilai gizi cukup, tetapi frekuensinya kurang.
Diharapkan dengan adanya Kelanting, masyarakat Temanggung, khususnya ibu-ibu balita lebih peduli, terutama dalam mencegah dan menangani stunting, karena ibu sebagai ujung tombak tumbuh kembang anak. (HS-08)