HALO KENDAL – RSUD dr H Soewondo Kendal menggelar In House Training Code Stroke, yang diikuti Dokter IGD, Kepala Ruang, Perawat Penanggung Jawab Pasien (PPJP), Ruang ICU, IGD, Cempaka dan Anggrek, di aula lantai 2 kantor RSUD dr H Soewondo Kendal, Rabu (15/11/2023).
Code stroke merupakan upaya respon cepat untuk penanganan stroke penyumbatan di pembuluh darah otak dengan tujuan untuk memfasilitasi pemberian obat trombotik yang berfungsi memecah sumbatan di pembuluh darah otak.
Wakil Direktur RSUD dr H Soewondo Kendal, dr Mochamad Wibowo mengatakan, kegiatan dilaksanakan sesuai program pemerintah. Karena stroke merupakan penyakit dengan risiko kematian tertinggi di Indonesia.
“Dengan kita melakukan code stroke ini, kita akan melakukan tindakan terapi trombolitis. Sehingga pasien cepat tertolong, kemudian pasien-pasien komplikasi setelah stroke lebih minimal. Artinya, kita memperbaiki outcome dari pasien,” ujarnya.
Dokter Bowo sapaan akrabnya tersebut menjelaskan, diadakannya in house training, supaya tim itu bisa bekerja secara terpadu dan komperehensif dalam penanganan.
“Karena Code Stroke butuh penanganan yang cepat dan terarah. Supaya hasilnya bisa lebih maksimal,” imbuhnya.
Sementara itu, Dokter spesialis syaraf RSUD dr H Soewondo Kendal, dr Rahayu Andiyani, SpN di sela-sela acara menjelaskan, penanganan pasien dengan gejala stroke kurang dari 4,5 jam. Sehingga pasien bisa mendapatkan terapi trombolisis.
“Yaitu dengan memasukkan obat ke dalam pembuluh darah, dan nantinya obat tersebut akan mencairkan sumbatan. Sehingga pasien bisa sembuh dengan lebih cepat,” ujarnya.
Dokter Rahayu mengaskan, jika ada pasien dengan gejala stroke harus segera mungkin dilakukan penanganan. Dikatakan, dalam kasus stroke, terdapat istilah time is brain, waktu adalah otak.
“Karena semakin terlambat seseorang yang menderita stroke mendapatkan penanganan, semakin banyak pula jaringan otak yang akan mengalami kerusakan permanen, sehingga semakin berat pula kecacatan yang timbul. Untuk itu, penting masyarakat bisa mendeteksi gejala dini stroke, dan segera ke rumah sakit,” tandasnya.
Dokter Rahayu membeberkan, beberapa tanda dan gejala stroke, senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba, gerak anggota tubuh melemah tiba-tiba. Kemudian bicara pelo atau tiba-tiba tidak dapat bicara atau tidak mengerti kata-kata atau bicara tidak nyambung.
Tanda lain, yaitu kebas atau baal atau kesemutan separuh tubuh, rabun, pandangan satu mata kabur yang terjadi secara tiba-tiba.
Berikutnya, sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, serta gangguang fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikordinasi atau tremor, gemetar dan sempoyongan.
“Jadi kalau ada tanda-tanda gitu, harus segera langsung dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap untuk penanganan stroke. Yaitu fasilitas, ada dokternya, ada CT-scannya, supaya kita bisa mengambil tindakan trombolisis tadi,” beber dr Rahayu.

Dirinya menyebut, untuk pasien stroke di RSUD dr H Soewondo cukup banyak. Namun yang datang dalam kurun waktu emas atau yang memenuhi syarat untuk bisa dilakukan tindakan tidak banyak.
“Memang tidak banyak. Yaitu karena deteksinya kurang, sehingga saat dibawa sudah lebih dari 4,5 jam. Atau bisa juga, tidak tahu gejala yang timbul sejak kapan. Karena mungkin tidak ada keluarga yang mendampingi. Jadi itu nanti yang akan kita perbaiki,” ungkap dr Rahayu.
Ditambahkan, selain melakukan pelatihan, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi ke berbagai jejaring rumah sakit. Supaya informasi bisa tersebar luas.
“Di sini pun kita juga telah mensosialisasikan kepada pengunjung. Dengan memberikan materi deteksi dini. Jadi semuanya akan simultan, masyarakat bisa mendeteksi sejak dini gejala stroke dengan cepat dan dibawa ke rumah sakit, juga tim di sini juga sudah siap, karena sudah dilakukan pelatihan ini,” imbuh dr Rahayu.
Sebagai penutup, dirinya berpesan, untuk usia rentan terkena stroke adalah semakin banyaknya usia, akan semakin tinggi kemungkinan terkena stroke. Diatas usia 50 tahun kemungkinan terkena stroke lebih tinggi dibanding usia 30-40 an tahun.
“Tapi bukan berarti tidak ada. Stroke bisa terjadi kapan saja, karena basicnya adalah gangguan aliran darah. Bahkan usia balita, usia remaja, usia lansia, dan usai produktif juga ada. Ya itu tadi, semakin banyak usia semakin beresiko terkena stroke,” pungkas dr Rahayu.(HS)