in

STIE Semarang Gelar Seminar Nasional Pertumbuhan Ekonomi 2021 dengan Sub Sektor Ekonomi Kreatif dan UMKM

Ketua STIE Semarang, Dr ST Sunarto saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Pertumbuhan Ekonomi tahun 2021 dengan Subsektor Ekonomi Kreatif dan UMKM, Sabtu (12/6/2021).

 

HALO SEMARANG – Salah satu upaya untuk mendukung pemulihan pertumbuhan ekonomi nasional yang turun akibat Pandemi Covid-19, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Semarang menggelar Seminar Nasional dengan mengangkat tema “Pertumbuhan Ekonomi tahun 2021 Dengan Subsektor Ekonomi Kreatif dan UMKM”, pada Sabtu (12/6/2021).

Dalam Seminar nasional kali ini hadir sebagai pembicara Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga S Uno, Gubernur Jawa Tengah, yang diwakili Kepala Biro Perekonomian, Eddy S Bramiyanto, Anggota Komisi C DPRD Jateng, Sriyanto Saputro.

Seminar ini diikuti lebih dari 1000 peserta secara online atau dalam jaringan (daring). Dalam sambutannya, Ketua STIE Semarang, Dr ST Sunarto mengatakan, di kalangan kampus konsen membantu untuk membangkitkan ekonomi, baik bagi dunia usaha, pengembangan UMKM dan koperasi. Yang mana menjalankan program fungsi dari perguruan tinggi untuk pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami juga sangat merespon terkait dengan adanya penurunan ekonomi masyarakat sebagai dampak pandemi Covid-19. Sehingga bisa membangkitkan pertumbuhan ekonomi nasional kita. Untuk itu STIE Semarang ikut berperan aktif memberikan masukan, dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya Jateng dan Indonesia pada umumnya,” katanya, di sela-sela kegiatan Seminar Nasional, Sabtu (12/6/2021).

Diharapkan, dengan kegiatan seminar nasional yang digagas oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) STIE Semarang ini bisa menggali dan memberi masukan, kepada pemerintah provinsi Jawa Tengah dalam upaya untuk pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Apalagi kami juga memiliki pusat kajian koperasi dan UMKM, bekerja sama dengan BUMD, Pemdes, DPRD dan institusi lainnya untuk pendampingan UMKM dan koperasi,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini juga diadakan sesi call paper, yakni mendiskusikan paper dari akademisi yang bassisnya hasil penelitian dari para akademisi. Dan diharapkan dapat memberi masukan ke stakeholder terkait permasalahan penurunan ekonomi.

“Total ada 77 artikel atau tulisan hasil penelitian yang disampaikan dalam seminar nasional tersebut,” imbuhnya.

Dalam pemaparannya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga S Uno mengatakan, pemerintah terus berupaya membangkitkan perekonomian nasional, dan penguatan untuk pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Menurutnya, sejumlah sektor diakui mengalami penurunan.

“Misalnya, kunjungan wisatawan mancanegara turun 5 persen, devisa turun sampai 81 persen, pergerakan wisatawan nusantara turun 31 persen lebih, tenaga kerja di sektor pariwisata hilang sampai 2,6 juta orang, industri kreatif juga mengalami penurunan hingga 75 persen, tenaga kerja di sektor ekonomi pariwisata turun 2,5 persen, dan 95 persen pelaku usaha terdampak negatif,” terangnya.

Meski begitu, kata Sandiaga Uno, pemerintah terus melakukan upaya untuk membangkitkan semuanya itu.

“Di antaranya, langkah strategi untuk pemulihan dan penguatan kembali pariwisata dengan cara revitalisasi destinasi dan sentra ekonomi kreatif, peningkatan dan pemulihan pariwisata di Indonesia, dan kegiatan lain yang menunjang sektor ekonomi dan pariwisata,” katanya.

Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jateng, Eddy S Bramiyanto mengatakan, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk memulihkan ekonomi Indonesia dengan melindungi masyarakat miskin dan rentan miskin, serta mendukung dunia usaha agar tidak makin terpuruk.

Program PEN tahun 2021 sebesar Rp 699,43 triliun dan tahun 2020 Rp 579,8 triliun, dalam rangka untuk pemulihan ekonomi nasional termasuk di Jawa Tengah.

“Dengan sasaran PEN yaitu usaha menengah besar (UMB), usaha menengah kecil (UMK) dan Tenaga kerja terdampak. Contohnya di antaranya berupa insentif pajak restrukturisasi kredit, bantuan produktif usaha mikro (BPUM), bantuan sosial tunai,” katanya.

Adapun jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Jawa Tengah yang terdampak pandemi Covid-19 per Agustus 2020 lalu ada sekitar 3,9 juta orang (14,68 persen), sedangkan per Februari 2021 sekitar 2,4 juta orang (9,18 persen).

“Ada pengurangan jumlah penduduk usia produktif yang mengindikasikan ekonomi mulai membaik. Membaiknya kondisi ekonomi menunjukkan sektor usaha menengah Besar (UMB) dan unsaha menengah kecil (UMK) ada perbaikan,” ucapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Sriyanto Saputro mengatakan, terkait kondisi Ekonomi Jawa Tengah tahun 2021 penguatan sektor koperasi, UMKM dan ekonomi kreatif menjadi krusial dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Sektor yang paling terdampak akibat Covid-19.

“Terdata ada 834 koperasi yang terdampak teridiri 175 unit sektor konsumen, 62 sektor produsen, 39 sektor pemasaran, 31 sektor jasa, 810 sektor simpan pinjam, 6 sektor lain-lain. Sebanyak 35.261 UMKM terdampak covid-19. Terdiri 24.107 sektor makanan/minuman, 2.885 sektor fashion, 1.295 sektor handycraft, 3.097 sektor perdagangan, 1.446 sektor pertanian/peternakan, 625 sektor lain-lain,” paparnya.

Sedangkan ekonomi kreatif mulai menjadi fokus dan komitmen sejumlah kepala daerah di Jawa Tengah pengembangan kota kreatif.

“Penetapan subsektor sektor ekonomi kreatif unggulan seperti Wonosobo, Banjarnegara, Kota Salatiga menetapkan sektor kuliner. Kemudian Kabupaten Magelang memilih seni rupa sebagai subsektor ekonomi kreatif unggulan,” ujar Sriyanto.

“Sehingga hal ini butuh perhatian lebih dari pemerintah. Hal krusial yang perlu sentuhan mulai dari keringanan perpajakan, percepatan perizinan, bunga pinjaman modal ringan dan pembinaan usaha, serta perluasan pasar,” pungkasnya.(HS)

Share This

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitarnya, Minggu (13/6/2021)

Langgar Perwal PKM, Dua Restoran Mewah Disegel Satpol PP Kota Semarang