HALO BATANG – SPPG di Kecamatan Bawang, yang diduga menjadi penyebab keracunan terhadap ratusan orang, telah diputuskan ditutup secara permanen oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Wakil Bupati Batang Suyono, di Kantor Wakil Bupati Batang, Kabupaten Batang, Kamis (15/10/2026), mengatakan penutupan secara permanen tersebut, merupakan kewenangan Pemerintah Pusat dan disampaikan melalui pengumuman BGN.
Ia berharap, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi seluruh SPPG di Kabupaten Batang, agar lebih memperhatikan keamanan pangan dan menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
“Seluruh SPPG wajib memenuhi SOP yang berlaku. Bagi yang belum memenuhi ketentuan, harus segera berbenah sebelum dilakukan peninjauan langsung ke lapangan. Selain mengevaluasi pelaksanaan program, pemerintah juga akan memperhatikan penyaluran makanan kepada penerima manfaat setelah penutupan SPPG tersebut,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.
Suyono juga menyebut, penerima manfaat yang sebelumnya dilayani oleh SPPG tersebut, nantinya akan dialihkan ke SPPG lain melalui mekanisme yang diatur secara terintegrasi oleh Pemerintah Pusat dan pihak terkait.
Langkah tersebut diharapkan menjaga keberlanjutan layanan MBG tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kualitas makanan.
“Pelaksanaan program MBG perlu disertai pengawasan yang konsisten. Dengan penerapan SOP, penyediaan sampel makanan harian, serta pemeriksaan apabila terjadi dugaan keracunan, keamanan makanan bagi para penerima manfaat diharapkan semakin terjamin,” tandasnya.
Masih terkait antisipasi keracunan, Wakil Bupati Batang, Suyono mengusulkan agar SPPG, menyimpan sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) setiap hari dan mengirimkannya ke puskesmas terdekat atau dinas terkait, untuk pemeriksaan laboratorium.
Usulan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi dugaan keracunan makanan pada penerima manfaat program MBG.
Dengan tersedianya sampel, proses penelusuran penyebab kejadian diharapkan dapat dilakukan lebih cepat sekaligus memperjelas pertanggungjawaban pihak penyelenggara.
“Sampel makanan perlu disiapkan secara rutin agar dapat diperiksa apabila muncul kasus keracunan di kemudian hari. Untuk antisipasi, setiap hari harus ada sampel menu yang disimpan dan diserahkan ke puskesmas terdekat atau dinas terkait untuk diperiksa di laboratorium. Jadi, kalau terjadi keracunan, sampelnya sudah tersedia dan bisa ditelusuri penyebabnya,” jelasnya. (HS-08)


