in

Seremoni Selalu Kering, Banjir Selalu Basah

Foto ilustrasi AI.

SORE kemarin, Simpang Lima Semarang berkilau. Lampu LED warna-warni sepeda listrik menyala, menyambut dibangunnya patung landmark baru berupa patung tokoh pewayangan, Pandawa Lima yang saat ini masih ditutup kain. Patung ini akan menghiasi median Jalan Pahlawan, mulai dari Bundaran Simpang Lima hingga depan Kantor Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah.

Gagahnya patung yang terbuat dari bahan galvanis dan menunggu peresmian ini, seolah berpaling dari kejadian bahwa tanggal 22 Oktober lalu, guyuran hujan deras yang bikin langit gelap seperti malam, tapi masih pukul dua siang, di wilayah pesisir Kota Semarang. Kaligawe berubah jadi danau dadakan. Truk mogok, motor terapung, anak sekolah naik perahu karet ke kelas.

BPBD mencatat 16 titik tergenang hingga 60 cm, bahkan setelah seminggu. Warga Trimulyo, Jalan Padi Raya, dan Genuksari harus menghadapi air yang mulai masuk ke rumah mereka.

Padahal awal Mei lalu, Pemkot Semarang menggelar Semarang Night Carnival (SNC) 2025 sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-478 Kota Semarang. Acara ini menampilkan parade kostum dengan tema “Perisai Nusantara” dan acara dimulai dari Titik 0 Km (depan Kantor Pos Pasar Johar) dan berakhir di Balai Kota Semarang.

Ironis, ya? Kota yang bisa gelar pesta kembang api tiap tahun baru dan pesta kostum meriah, kok pompa banjirnya masih ngandelin doa.

Warga Genuk bilang, “Yang penting seremoni.” Mereka sudah hafal skripnya. Setiap ada acara besar, jalan ditutup, karpet merah digelar, drone merekam dari atas.

Tapi begitu hujan, jalan jadi sungai, karpet merah jadi keset basah, drone takut kebasahan.

Lihat saja data BNPB: 63.450 jiwa terdampak, 23 kelurahan di lima kecamatan tenggelam. Tapi di Instagram, para pejabat tinjau banjir pakai sepatu bot tetap glowing.

Tapi jangan salah. Mungkin Semarang punya rencana jangka panjang. Tahun 2026-2027 katanya ada sistem pompa permanen. Sampai saat itu, solusinya sederhana: pasang banner “Semarang Tangguh” di tengah genangan. Biar turis foto-foto, bilang “Wah, kota air ala Venesia!” Padahal warga lokal tahu, Venesia punya gondola, Semarang punya perahu karet pinjaman tetangga.

Dari panggung megah ke panggung air. Dari sorak penonton ke sorak pompa diesel. Dari kembang api ke petir. Dari artis nasional ke relawan nasional. Bedanya, artis dibayar mahal, relawan dibayar doa. Tapi keduanya sama-sama basah kuyup.

Pernah dengar cerita warga di Genuksari yang rumahnya langganan banjir setinggi dada? Tiap musim hujan, warga angkat kasur ke atas lemari, masak di atas meja.

Jadi, kalau suatu hari kamu lewat Kaligawe, lihat spanduk “Selamat Datang di Kota Atlas”, jangan kaget kalau “Atlas”-nya tenggelam.

Itu cuma pengingat: di Semarang, seremoni selalu kering, banjir selalu basah. Tapi warga tetap tersenyum. Bukan karena bahagia, tapi karena sudah kebal.

Mereka tahu, besok pasti ada acara baru. Mungkin launching “Banjir Night Carnival”, eh maaf temanya harus bahasa Inggris “Flood Night Carnival”. Tiket VIP sold out dalam semenit. Dan banjir jadi latar belakang yang Instagramable.

Eh, tapi serius. Kalau pompa jebol lagi, lebih baik siapkan undangan VIP acara seremoni pemerintahan. Di sana selalu kering, selalu ada AC, selalu ada foto bareng pejabat. Banjir cuma buat rakyat kecil. Yang penting seremoni. Iya kan?(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Validasi Data, 102.501 Keluarga di Rembang Tal Lagi Berhak Terima Bantuan Sosial

Intensifkan Pengendalian Inflasi, Pemkab Rembang Fokus pada Komoditas Pangan Strategis