HALO SEMARANG – Sejumlah mahasiswa diamankan saat aksi demo di depan Balai Kota (Balkot) Semarang, Senin (26/8/2024) kemarin. Total ada sembilan mahasiswa dari sejumlah universitas yang kini dalam pemeriksaan di kepolisian salah satunya dari Universitas Sultan Agung (Unissula).
Rektor Unissula, Prof Dr Gunarto meminta kepolisian agar mengupayakan proses hukum dilakukan dengan asas restorative justice. Ia meminta agar para pengunjuk rasa yang ditahan di kantor kepolisian ini bisa segera dikeluarkan. Ada beberapa pertimbangan yang ia yakini jika mahasiswa ini tidak boleh ditahan.
Pertimbangan pertama adalah para mahasiswa sedang menyampaikan aspirasi soal kondisi negara. Ia mengaku para mahasiswa memang perlu mengawal keputusan-keputusan dari lembaga pemerintah.
“Perlu dikawal, mahasiswa sebagai aspirasi masyarakat Semarang dan Jateng, Indonesia dan seluruhnya,” ujarnya saat ditemui di Polrestabes Semarang meminta agar kepolisian segera membebaskan mahasiswa yang terlibat demonstran, Selasa (27/8/2024).
Kemudian para mahasiswa harus melanjutkan pendidikannya. Ia meminta agar kepolisian segera melakukan penanganan terhadap mahasiswa namun dengan menjunjung asas restorative justice.
“Kalau ada penyidikan jangan dimolorkan tapi dipercepat karena itu adalah para aktivis yang cerdas, pasti bisa menjawab dengan waktu singkat sehingga penyidikan bisa ditangani dan dia bisa keluar. Karena pendekatan represif ini merugikan mahasiswa, khususnya yang ditahan,” tuturnya.
“Saya membawa aspirasi mahasiswa sebagai pemimpin masa depan yang ingin mewujudkan Indonesia adil sejahtera. Jadi teman-teman yang ditahan, saya ingin untuk bisa dikeluarkan hari ini,” lanjutnya.
Selain itu, Prof Gunarto juga menilai ada yang memicu para pengunjuk rasa hingga melakukan kericuhan. Ditambah ada tembakan gas air mata dan tembakan peluru karet yang mengenai massa.
“Perlunya pendekatan restorative justice lebih mementingkan kaitan perdamaian segala persoalan hukum jangan mesti dibawa ke ranah tindak pidana, karena kita juga pada saat itu peluru-peluru yang ditembakan karet itu menimbulkan kecemasan bagi mahasiswa. Nah itu perlu ada penegakan keseimbangan yang adil,” imbuhnya. (HS-06)