HALO KENDAL – Ribuan warga yang didominasi kalangan pemuda memadati ruas Jalan KH Asy’ari Kaliwungu, di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Minggu (15/3/2026) sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka berkumpul untuk meramaikan tradisi ngangklang, sebuah kebiasaan masyarakat setempat menunggu waktu sahur dan Subuh di pekan terakhir Ramadan.
Tradisi ngangklang menjadi magnet tersendiri bagi warga Kaliwungu dan daerah sekitarnya. Aktivitas berkumpul di jalan utama tersebut tidak hanya menjadi ajang menunggu waktu Subuh, tetapi juga sarana bersosialisasi dan menjaga tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Pada pekan terakhir Ramadan tahun ini, pengamanan di lokasi diperketat. Ratusan personel gabungan dari unsur Polri, TNI, Forkopimcam, hingga organisasi kemasyarakatan disiagakan di sejumlah titik strategis sepanjang jalan tersebut.
Pengamanan ditingkatkan menyusul insiden pengeroyokan terhadap anggota kepolisian yang terjadi di lokasi yang sama pada pekan sebelumnya. Selain itu, beredarnya sejumlah unggahan di media sosial terkait dugaan aksi tawuran antar kelompok pemuda juga sempat menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
Salah satu anggota Babinsa yang bertugas di lapangan, Salafudin, menegaskan bahwa kehadiran aparat bertujuan memastikan situasi tetap aman dan kondusif.
“Kami bersama ratusan anggota Polri, Forkopimcam, serta organisasi masyarakat memperketat penjagaan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Ini sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya kepada wartawan.
Meski dijaga ketat, antusiasme masyarakat tidak surut. Ribuan orang tetap memadati kawasan pusat Kaliwungu tersebut, terutama karena momen ini bertepatan dengan malam Minggu terakhir di bulan Ramadan.
Salah seorang pemuda setempat, Amir, mengaku selalu menyempatkan diri datang ke Jalan KH Asy’ari setiap menjelang Subuh selama Ramadan.
“Saya hampir setiap menjelang subuh datang melihat tradisi ngangklang. Apalagi ini malam Minggu terakhir Ramadan, jadi saya bersama teman-teman sangat antusias datang,” ujarnya.
Namun, Amir juga menyayangkan adanya oknum yang menyalahgunakan momentum tradisi tersebut untuk tindakan negatif.
Ia menyinggung beberapa insiden yang sempat ramai di media sosial, mulai dari dugaan tawuran antarpemuda hingga kasus pengeroyokan terhadap anggota kepolisian pada pekan sebelumnya.
“Padahal pada dasarnya tradisi ngangklang adalah simbol kebersamaan dan kegembiraan menyambut hari kemenangan,” katanya.
Melalui pengamanan yang lebih ketat namun tetap humanis, aparat berharap tradisi khas Kaliwungu tersebut dapat terus berlangsung sebagai kegiatan positif masyarakat, tanpa diwarnai konflik maupun tindakan yang meresahkan.(HS)