in

Pentingnya Penanaman Unsur Nasionalisme dan Patriotisme melalui Literasi Digital

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko menegaskan pentingnya penanaman unsur nasionalisme dan patriotisme melalui literasi digital. Menurutnya dengan begitu, masyarakat mampu mengaktualisasikan Pancasila sebagai pembatas dari pemahaman yang menggerus kedaulatan negara.

Hal itu mengingat globalisasi era informasi digital sudah tak terbendung dan terus memberikan dampak setiap harinya. Mulai dari inklusifnya budaya-budaya di dunia hingga terbukanya kran informasi literasi yang digunakan sebagai acuan berjalannya kehidupan sehari-hari. Dengan penguatan penanaman unsur nasionalisme dan patriotisme, masyarakat mampu mengaktualisasikan Pancasila sebagai pembatas dari pemahaman yang menggerus kedaulatan negara.

“Salah satunya dengan membentuk digital culture yang menjadi kerangka dalam literasi digital. Ini untuk menempatkan ruang digital bukan sebagai arena bermain dan hiburan semata, melainkan menjadi medium yang accessible terhadap informasi dan ilmu pengetahuan, khususnya yang mampu menguatkan karakter bangsa,” ungkapnya, baru-baru ini.

Ia juga menjelaskan bahwa melalui literasi digital, masyarakat terutama anak-anak muda bisa objektif dalam menempatkan nilai kebangsaan di kehidupan sehari-hari. Terlebih saat ini, tidak ada batasan yang kentara antara ruang fisik dan digital.

Wakil pimpinan DPRD Jateng dari Fraksi Partai Gerindra tersebut menyebutka, bahwa selama ini radikalisme di ruang digital masih tumbuh subur.

Meskipun menurutnya, radikalisme itu tidak selalu membawa unsur agama. Tetapi juga dalam bentuk pembunuhan karakter bangsa melalui konten-konten viral yang menurutnya tidak bermanfaat dan tak mendidik generasi muda.

“Ruang digital beserta karakteristiknya dapat digunakan untuk memfasilitasi penyebaran konten-konten yang menghambat pertumbuhan nasionalisme. Echo chambers di ruang digital seringkali membentengi literasi dengan konten-konten viral yang tidak jelas jundrungannya,” kata politisi yang biasa disapa Heri Londo tersebut.

Melalui penciptaan digital culture dalam literasi digital, Heri Londo berharap masyarakat mampu membedakan informasi mana saja yang bisa diambil sebagai potongan-potongan pengetahuan.

Tak terkecuali memahami pentingnya multikulturalisme dan kebhinekaan. Di mana di dalamnya juga memuat etika dan norma ketika terkoneksi dengan pengguna lain di ruang digital.

“Ketika dialektika terkiat nasionalisme itu dikatakan mulai pudar dalam ruang fisik, kita harus berani melangkah dan masuk ke ruang yang digemari,” tegasnya.

“Melalui literasi digital yang menyokong pengetahuan nasionalisme, bukan tidak mungkin jika semangat patriotisme juga akan tergelorakan dan masyarakat mampu mencitrakan diri sebagai masyarakat Nusantara yang beradab dan menjunjung tinggi kemajuan negaranya,” lanjutnya.

Heri Londo juga menerangkan jika literasi digital perlu didukung oleh beberapa kerangka lainnya. Di antaranya yaitu digital skill, digital ethics, dan digital safety.

“Transformasi literasi nasionalisme ke dalam ruang digital ini sepatutnya menjadi kesempatan untuk mewujudkan aksi nyata kolaborasi antar-lembaga pemerintah bersama stakeholder terkait guna membangun Indonesia yang cerdas dan bermartabat,” ujarnya.

“Prinsipnya nobody left behind. Literasi digital tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Ini proyek bersama demi kepentingan bersama,” pungkasnya.(Advetorial-HS)

Kembangkan Patriotisme Siswa, SDIT Permata Hati Pasekaran Batang Undang Personel TNI Pimpin Upacara

Prakiraan Cuaca Semarang dan Sekitarnya, Jumat (18/8/2023)