in

Pasar Ndoro Bei Demak Ajak Pengunjung ke Abad 18

Seorang pedagang yang mengenakan pakaian tradisional, melayani pembeli di Pasar Ndoro Bei di Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak, Minggu (27/8/23). (Foto : demakkab.go.id)

 

HALO DEMAK – Pasar Ndoro Bei dalam Tembiring Creative Fun (TCF) Roadshow Kriya Cipta Renjana, menjadi salah satu bagian dari Catur Sasangka, yang mendapat perhatian lebih dari pengunjung Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak, Minggu (27/8/23).

Jajaran lapak pedagang yang menjadi sarana edukasi dan atraksi wisata menarik ini, menampilkan wajah pasar zaman dahulu, seperti pada abad ke-18.

Masa di mana Raden Ngabehi Notobronto, kepala perdikan Kadilangu, yang sejak 1885 mengadakan pasar musiman setelah masa panen, di wilayah Kadilangu.

Berkat tradisi inilah, serta untuk mengenang Raden Ngabehi Notobronto, maka pasar yang diselenggarakan sebagai bagian dari Catur Sasangka ini, kemudian diberi nama “Ndoro Bei”.

Secara keseluruhan, Pasar Ndoro Bei mencerminkan suasana pasar tradisional rakyat, di mana lapak pedagang dibangun dengan bahan bambu dan welit.

Makanan yang ditawarkan pun berupa menu-menu zaman dulu, seperti getuk lindri, es dawet ndoro hayu, jamu coro, hingga permen jadul gulali.

Pasar rakyat bernuansa jadul, digelar selama 2 hari, Sabtu (26/8/2023) hingga Minggu (27/8/2023).

Nuansa jadul pun sangat terasa, di mana para pedagang menggunakan pakaian tradisional, seperti warga zaman dahulu.

Para wanita yang menjadi pedagang di tempat itu menggunakan kebaya. Adapun para pria menggunakan lurik dan gombrong hitam, yang merupakan pakaian khas rakyat di masa Kasultanan Bintoro.

Untuk membeli dan menikmati kuliner di Pasar Ndoro Bei ini, pengunjung tidak menggunakan uang tunai, melainkan kepingan koin dari kayu.

Harga perkeping koin kayu Rp 5.000 yang dapat ditukarkan di pintu masuk.

Salah satu pengunjung Rian, menyampaikan pasar tradisional jadul ini sangat menarik karena betul-betul menggambarkan di masa jaman Kasultanan Demak Bintoro.

“Untuk menu yang ditawarkan pun menu jajanan tempo dulu dengan membayar 2 hingga 3 keping. Untuk rasanya pun enak, karena saya mencicipi es dawet Ndoro Hayu selain itu saya membeli Jamu coro yang merupakan masakan tradisional Demak. ya pokoknya oke deh dari menu dan suasana menggambarkan suasana jadul,” kata Rian, seperti dirilis demakkab.go.id.

Pengunjung Pasar Ndoro Bei, Yoda dan istri, mengaku bahagia karena telah diberikan suguhan yang baru kali pertama digelar di Kabupaten Demak.

“Sangat luar biasa. Karena ini memang event pertama kali dan semoga ke depan event-event seperti ini terus di gelar,” kata Yoda.

Sementara pengunjung lainnya, Putri menikmati dawet ayu, tahu krispy dan pisang coklat.

“Saya tadi jajan ada dawet ayu kemudian ada tahu crispy dan pisang coklat. Lumayan murah ya karena dengan 2 kepeng atau senilai Rp 10.000 sudah dapat 5 jajanan, dan untuk es dawet juga harga 2 kepeng. Ada yang lebih murah lagi es dung-dung harganya hanya 1 kepeng,” ungkapnya. (HS-08)

Pengunjung Memadati Acara Kriya Cipta Renjana

Ada Gulali dan Dawet Berpemanis Kayu Secang di Pasar Ndoro Bei